Harga BBM di Amerika Tembus Rp64 Ribu per Galon, Warga Menjerit: Kami Menanggung Akibat Perang
Sarah Elnyora Rumaropen April 01, 2026 10:00 PM

SURYAMALANG.COM, - Harga bahan bakar minyak (BBM) reguler di Amerika Serikat (AS) melonjak drastis hingga menyentuh angka 4,00 dolar AS atau setara Rp64.000 per galon (sekitar Rp16.900 per liter) per Rabu (1/4/2026) seperti dikutip dari data Asosiasi Otomotif Amerika (AAA) yang dilansir AFP.

Kenaikan tajam sebesar 35 persen ini merupakan dampak langsung dari eskalasi konflik antara AS-Israel dan Iran yang telah berlangsung lebih dari sebulan.

Akibatnya, masyarakat kelas menengah hingga pensiunan mulai menjerit lantaran harus menanggung beban biaya hidup yang kian mencekik di tengah terganggunya pasokan energi global di Selat Hormuz.

Pemicu Kenaikan: Ketegangan di Selat Hormuz

Adapun kenaikan ini dipicu oleh terganggunya pasokan energi global lantaran Iran memperketat akses jalur minyak dunia, yakni Selat Hormuz.

Langkah tersebut diambil pasca AS dan Israel melancarkan serangan udara hingga menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei akhir Februari silam.

Baca juga: Kemacetan di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi Belum Terurai, Pengguna Jasa Merugi dan Mengeluh

Pada awalnya, pembatasan hanya dilakukan untuk memukul balik serangan AS, namun gangguan pada jalur ini membuat distribusi energi global terganggu.

Hal ini memicu kekhawatiran kekurangan pasokan, serta mendorong terganggunya harga minyak mentah di pasar internasional.

Di sejumlah wilayah seperti pinggiran Washington DC, harga bahkan mencapai lebih dari USD 4,25 per galon (sekitar Rp68.000).

Jika dikonversi ke satuan liter, harga tersebut setara dengan Rp17.965 per liter, sebuah angka yang membuat banyak pengemudi harus mengeluarkan biaya tambahan cukup besar setiap kali mengisi bahan bakar.

Keluhan Warga dan Pukulan terhadap Anggaran Rumah Tangga

Sejumlah warga mengaku terdampak langsung oleh kenaikan harga tersebut.

Jeanne Williams, seorang pensiunan, menyebut kondisi ini membingungkan dan menimbulkan kecemasan karena terjadi di luar kendali masyarakat.

Williams yang merupakan pensiunan pegawai negeri sipil dan sedang menjalani pengobatan kanker, menganggap uang pensiunnya cukup layak.

Baca juga: Perusahaan Jepang Butuh Driver 500 Orang, Sekda Kabupaten Malang Budiar Anwar Siap Jembatani

Akan tetapi, karena biaya hidup di AS telah meningkat, Williams terpaksa menggunakan tabungannya.

"Untungnya, saya tidak punya anak. Saya tidak punya pasangan, jadi hanya saya sendiri dan apa pun yang saya miliki, saya bantu kerjakan untuk saudara perempuan saya," ujarnya.

Keluhan serupa juga disampaikan oleh sejumlah warga lainnya yang terpaksa mengurangi aktivitas berkendara sebagai langkah untuk menekan pengeluaran di tengah meroketnya harga bahan bakar.

Dalam kondisi tersebut, sebagian dari mereka secara terbuka menyatakan bahwa masyarakat kini harus “menanggung akibat perang” yang tidak pernah mereka inginkan.

Hal ini mencerminkan meningkatnya tekanan ekonomi sekaligus ketidakpuasan terhadap dampak konflik yang dirasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Tekanan Inflasi dan Ketidakpastian Perekonomian

Ekonom dari Bloomberg, Eliza Winger, menyatakan kenaikan harga energi memiliki dampak luas terhadap perekonomian. 

Selain meningkatkan biaya langsung di SPBU, kenaikan harga bahan bakar juga menekan konsumsi masyarakat secara keseluruhan.

Winger memperkirakan setiap kenaikan harga minyak sebesar 10 persen dapat menurunkan pengeluaran konsumen riil sekitar 0,2 persen.

Baca juga: Janji Donald Trump Perang Berakhir dalam 3 Minggu Tapi Tak Perlu Kesepakatan Damai dengan Iran

Dengan kenaikan harga energi yang jauh lebih tinggi sejak awal konflik, dampak terhadap ekonomi domestik diperkirakan semakin signifikan.

Meski inflasi sempat menurun dari puncaknya saat pandemi, harga kebutuhan pokok masih tinggi.

Laporan terbaru menunjukkan ekspektasi inflasi masyarakat kembali meningkat, menandakan kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi ekonomi ke depan.

Kenaikan harga BBM menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan persepsi tersebut karena berdampak langsung pada biaya transportasi, distribusi barang, hingga harga kebutuhan sehari-hari.

Tantangan Stabilitas Ekonomi dan Daya Beli

Situasi ini menambah beban pengeluaran rumah tangga dan berpotensi menekan daya beli masyarakat secara luas.

Para analis menilai, kombinasi antara harga kebutuhan yang masih tinggi dan kenaikan biaya energi dapat memperpanjang tekanan inflasi, sekaligus menjadi tantangan bagi perekonomian dalam jangka panjang.

Kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi pemerintah dan otoritas perekonomian dalam menjaga stabilitas harga, sekaligus memastikan daya beli masyarakat tidak terus tergerus di tengah dinamika global yang belum menentu.

(Tribunnews.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.