Studi mengungkapkan bahwa kerabat buaya yang pernah hidup pada periode Trias, sekitar 215 juta tahun lalu, ternyata dapat berjalan dengan dua kaki mirip dinosaurus. Uniknya, kemampuan bipedal atau berjalan dengan dua kaki tersebut baru terjadi saat beranjak dewasa.
Artinya, saat masih anak-anak, reptil dari kelompok Shuvosaurid menjalani hidupnya dengan berjalan menggunakan empat kaki. Spesies ini diduga hidup berdampingan dengan dinosaurus ornithomimid yang hidup sekitar 255-201 juta tahun lalu atau pada periode Trias Akhir.
Perubahan Gaya Berjalan Buaya Purba
Sebuah studi yang terbit di Journal of Vertebrate Paleontology pada 8 Maret 2026, menemukan proporsi yang tak biasa dari beberapa fosil yang menunjukkan ciri-ciri makhluk hidup seukuran anjing pudel, berjalan dengan dua kaki.
Penulis utama studi dari University of Washington, Elliott Armour Smith, mengatakan bahwa rangka anggota tubuh hewan bipedal disebabkan oleh pertumbuhan anggota tubuh yang tidak bersamaan.
"Dengan menganalisis proporsi kerangka anggota tubuh berbagai hewan, mereka menyimpulkan bahwa postur bipedal (berdiri di atas dua kaki) mungkin merupakan hasil dari pola pertumbuhan yang berbeda," jelasnya, dikutip dari Phys.org pada Senin (30/3/2026).
Spesies tersebut adalah yang merupakan salah satu jenis Shuvosauridae, kelompok kecil archosaur pseudosuchian yang memiliki postur tubuh mirip dinosaurus theropoda ornithomimid.
Tinggi badannya hanya sekitar 63,5 cm, memiliki paruh tanpa gigi, tulang berongga, dan rongga mata yang besar. Para peneliti mengatakan, meski ciri-cirinya hampir sama dengan ornithomimid, kemungkinan bagian tubuhnya berevolusi secara terpisah.
Mengutip Sci.news, kemiripan ciri fisik yang ditemukan pada buaya purba tersebut mungkin karena archosaur, garis keturunan buaya dan garis keturunan burung, berevolusi di ekosistem yang sama dan bertemu pada peran ekologis yang serupa.
"Selain itu, meskipun ciri-ciri seperti berjalan tegak, paruh tanpa gigi, tulang berongga, dan rongga mata yang besar merupakan karakteristik dinosaurus theropoda ornithomimid, shuvosaurid seperti Sonselasuchus menunjukkan bahwa ciri-ciri ini juga berevolusi pada garis keturunan buaya," ujar Smith.
Lalu, perubahan cara berjalan dari empat kaki saat anak-anak disebabkan oleh tungkai depan dan belakang Sonselasuchus masih dalam kondisi proporsional. Saat menginjak usia dewasa, tungkai belakang spesies tersebut kemudian tumbuh lebih panjang.
Di Mana Fosil Sonselasuchus cedrus Ditemukan?
Bersama rekannya dari Museum Burke, Profesor Christian Sidor, Smith melakukan penggalian di Taman Nasional Hutan Petrified di Arizona yang dimulai pada 2014. Lokasi tersebut merupakan situs fosil luar biasa yang telah mengungkap lebih dari 3000 tulang dalam 10 tahun penggalian.
Pada penggalian terbaru, mereka berhasil menemukan 950 fosil dari spesies yang kira-kira mewakili 36 individu.
"Sejak memulai kerja lapangan di Hutan Petrified pada tahun 2014, kami telah mengumpulkan lebih dari 3.000 fosil dari lapisan tulang Sonselasuchus, dan tampaknya tidak menunjukkan tanda-tanda akan habis," ujar Profesor Sidor.
mungkin pernah hidup di hutan cedrus yang dipenuhi pohon cedar. Pohon yang dimaksud merupakan tumbuhan runjung hijau abadi yang menggambarkan pohon-pohon di hutan Trias Akhir.
"Selain Sonselasuchus, lapisan tulang tersebut telah menghasilkan fosil ikan, amfibi, serta dinosaurus dan reptil lainnya. Lebih dari 30 mahasiswa dan sukarelawan Universitas Washington telah terlibat selama bertahun-tahun. Sangat menyenangkan melihat bahwa situs ini terus menghasilkan fosil-fosil baru dan menarik," tuturnya.





