TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Indonesia dan China sepakat memperkuat kerja sama ekonomi guna mendukung target pertumbuhan nasional sebesar 8 persen pada tahun 2029.
Melalui forum bisnis internasional di Changsha, Hunan, kedua negara mengumumkan empat komitmen strategis baru yang mencakup pengembangan SDM, kolaborasi riset, bantuan battery storage (penyimpanan baterai), hingga industri pengolahan bauksit dan alumina.
Dalam forum Indonesia–China Business Dialogue di Niccolo Changsha Hotel, Selasa (10/3/2026), Dubes RI untuk RRT Djauhari Oratmangun menyatakan bahwa kepercayaan pebisnis Tiongkok terhadap prospek ekonomi Indonesia kini mencapai puncaknya.
"Kepercayaan ini dibuktikan melalui angka perdagangan yang mencapai US$167,48 miliar, dengan peningkatan ekspor Indonesia sebesar 16,7 persen," ujar Dubes Djauhari, dalam keterangan pers, dikutip Rabu (1/4/2026).
Ia menambahkan, total investasi dari Tiongkok dan Hong Kong kini mencapai US$18,1 miliar, mengukuhkan posisinya sebagai sumber investasi asing terbesar bagi Indonesia.
Forum ini juga mempertemukan lebih dari 60 pengusaha asal Hunan dengan Indonesia Investment Promotion Centre (IIPC) Beijing untuk penjajakan ekspansi bisnis.
Baca juga: Rupiah Tembus Rp 17.000, Industri Didorong Manfaatkan Peluang Ekspor
Staf Khusus Kementerian Investasi/BKPM RI, Noor Sona Maesana Mushonnif, menegaskan bahwa Indonesia adalah pasar strategis dengan peluang besar di bidang energi terbarukan, hilirisasi mineral, dan ekonomi hijau.
Namun, ia mengingatkan pentingnya pemahaman regulasi bagi investor asing.
“Di sinilah peran BKPM RI atau pihak swasta hadir membantu perusahaan internasional memasuki pasar Indonesia dengan lebih efisien dan terstruktur,” kata Sona.
Senada dengan hal itu, Xie Yi, Senior Advisor vOffice Asia, menilai kerja sama ini krusial untuk percepatan industri nasional.
Pihaknya kini telah membuka kantor perwakilan di Shenzhen, Changsha, dan Beijing guna membantu investor memahami regulasi lokal serta mempersiapkan operasional bisnis di tanah air secara matang.