TRIBUNMANADO.CO.ID - Sulawesi Utara mengalami inflasi 0,25 persen secara month to month (MtM) pada Bulan Maret 2026.
Sementara, inflasi tahun kalender Sulawesi Utara, Desember 2025 ke Maret 2026, tercatat sebesar 1,95 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara, Agus Sudibyo menjelaskan, inflasi terjadi karena kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Maret dibanding Februari 2026.
Baca juga: Breaking News: Kepala BPBD Sitaro Joickson Sagune Ditahan Kejati Sulut
"Inflasi bulanan Sulut di angka 0,25 persen di Bulan Maret masih lebih rendah dari inflasi nasional yang tercatat 0,41 month to month," kata Agus dalam pemaparan di aula kantor BPS Sulut, Jalan 17 Agustus, Manado, Rabu 1 April 2026.
Ia menjelaskan, terdapat sejumlah komoditas utama pendorong inflasi, yakni cabai rawit alias rica; angkutan udara/harga tiket pesawat; bawang merah, Ikan Cakalang dan Ikan Sohiri.
Sementara, komoditas yang mengalami penurunan harga sehingga menahan inflasi adalah tomat, daun bawang, mobil, tisue dan emas perhiasan.
Terkait tarif angkutan udara, Agus bilang, meskipun pemerintah memberikan diskon di awal bulan namun harga kembali naik menjelang libur Lebaran 1447 Hijriah.
"Dari yang sebelumnya harga tiket turun, begitu mendekati hari raya, berlaku hukum pasar, harga naik," kata Agus.
Sementara, untuk harga emas perhiasan mengalami penurunan signifikan yang turut mendorong deflasi.
"Selebihnya, inflasi dan deflasi dari komoditas bahan pangan yang sangat ditentukan oleh faktor ketersediaan, distribusi, pasokan dan cuaca," katanya.
Lebih jauh dipapark, pada Maret 2026 Sulawesi Utara mengalami inflasi year on year (YoY) sebesar 2,20 persen dengan IHK sebesar 110,72.
Inflasi tertinggi terjadi di Kota Manado sebesar 3,38 persen dengan IHK sebesar 109,38 dan deflasi terdalam terjadi di Kabupaten Minahasa Utara sebesar 0,31 persen dengan IHK sebesar 113,30. (ndo)
-
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini