TRIBUNKALTIM.CO - Rusia membuka peluang memasok minyak ke Indonesia di tengah meningkatnya ketegangan global akibat konflik Timur Tengah yang berdampak pada distribusi energi dunia.
Pernyataan ini disampaikan Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, yang menegaskan negaranya siap menjalin kerja sama jika dibutuhkan.
Menurut Tolchenov, hingga saat ini belum ada permintaan resmi dari pemerintah Indonesia, baik melalui Pertamina maupun Kementerian ESDM.
Meski demikian, Rusia tetap membuka peluang kerja sama dengan skema bisnis ke bisnis (B2B) yang bersifat komersial.
Baca juga: Ramai Beredar Kabar Blackout Global 2 April Imbas Perang AS-Iran, PLN sebut Listrik Indonesia Aman
Menurut Sergei, hingga saat ini belum ada permintaan resmi dari pemerintah Indonesia, baik melalui Pertamina maupun Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
“Saya tidak menerima permintaan langsung dari Pertamina maupun dari Kementerian ESDM. Jadi, mungkin hal itu bisa dibahas melalui jalur bisnis ke bisnis (B2B),” ujarnya di Pelabuhan Tanjung Priok, Selasa (31/3/2026).
Meski demikian, Tolchenov menegaskan peluang kerja sama tetap terbuka. Ia menyebut Rusia siap menjual minyak kepada negara mana pun yang membutuhkan dan bersedia menjalin hubungan jangka panjang.
Saat ini, Rusia diketahui telah memasok minyak ke sejumlah negara besar, termasuk Amerika Serikat, China, India, serta berbagai negara di kawasan Asia.
Namun, Tolchenov menekankan bahwa harga minyak yang ditawarkan tidak didasarkan pada hubungan diplomatik, melainkan mengikuti mekanisme bisnis murni.
“Harganya adalah harga komersial. Karena sebagian besar perusahaan minyak besar Rusia adalah perusahaan swasta, jadi ini bukan soal persahabatan, melainkan hubungan bisnis,” tegasnya.
Baca juga: AS dan Prancis Tegang, Trump Kritik Negara Emmanuel Macron Tidak Membantu Melawan Iran
Di sisi lain, pasokan energi Indonesia tengah menjadi sorotan setelah kapal milik Pertamina dilaporkan belum diizinkan melintas di Selat Hormuz akibat eskalasi konflik di kawasan tersebut.
Penutupan jalur distribusi minyak dunia ini berpotensi memicu krisis energi global. Sejumlah negara Asia Tenggara seperti Singapura, Vietnam, Kamboja, dan Filipina bahkan telah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).
Sementara itu, pemerintah Indonesia hingga kini masih mengkaji langkah strategis untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga energi di dalam negeri.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, angkat bicara terkait kemungkinan Indonesia membeli minyak dari Rusia di tengah krisis energi global akibat konflik Timur Tengah.
Bahlil menegaskan pemerintah telah mengamankan sumber pasokan minyak mentah baru guna mengurangi ketergantungan impor dari kawasan Timur Tengah yang saat ini tengah bergejolak.
Namun, ia enggan mengungkapkan secara rinci asal negara pemasok tersebut.
“Tolong teman-teman, saya sampaikan ulangi lagi. Bahwa impor crude kita dari Middle East itu 20 persen. Dan sekarang kami sudah menemukan sumber crude baru selain dari Middle East. Tolong jangan tanyakan lagi dari mana. Yang jelas Insya Allah semuanya ada,” ujar Bahlil di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (27/3/2026).
Pernyataan ini muncul saat Bahlil ditanya apakah Indonesia akan menjajaki pembelian minyak dari Rusia, seiring langkah diversifikasi pasokan energi nasional.
Di tengah upaya tersebut, pemerintah juga menghadapi tantangan distribusi global. Bahlil mengakui masih ada kapal tanker pengangkut minyak Indonesia yang tertahan dan kesulitan melintas di Selat Hormuz, menyusul penutupan sebagian jalur oleh Iran akibat konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
“Kita masih komunikasi terus. Memang tidak mudah untuk kita bisa melakukan bagaimana caranya agar kapal kita keluar dari Selat Hormuz. Tapi komunikasi terus kita bangun,” jelasnya.
Baca juga: Trump Ancam Hancurkan Fasilitas Energi Iran Jika Selat Hormuz tak Dibuka
Meski demikian, Bahlil memastikan kondisi pasokan energi dalam negeri masih aman. Ia menyebut stok bahan bakar minyak (BBM) dan LPG tetap memenuhi standar minimal nasional.
“Stok BBM kita insyaallah dalam kondisi yang aman. Standar minimal, minimum syarat. Kita tahu bahwa LPG kita 70 persen kita impor. Tapi sampai dengan hari ini kondisinya clear. Kapal-kapal yang juga kita beli dari beberapa negara masih on the track,” tegasnya.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan menggunakan energi secara bijak di tengah situasi global yang tidak menentu.
Di tengah krisis energi global, langkah berbeda diambil Filipina yang mulai mengimpor minyak dari Rusia. Negara tersebut dilaporkan mendatangkan sekitar 700.000 barel minyak mentah melalui kapal tanker berbendera Sierra Leone.
Pengiriman itu disebut sebagai yang pertama dalam lima tahun terakhir, dan diterima oleh Petron Corp, operator satu-satunya kilang minyak di negara tersebut.
Presiden Ferdinand Marcos Jr. menyatakan pihaknya kini активно mencari sumber energi alternatif di luar pemasok tradisional akibat dampak perang di Timur Tengah yang mengganggu rantai pasok global.
Baca juga: Perang Iran Picu Krisis Energi, Prabowo Bertolak ke Jepang dan Korsel Jalankan Misi Darurat
Sementara itu, Amerika Serikat juga mengambil langkah tak biasa dengan memberikan izin sementara untuk membeli minyak Rusia yang sedang berada di laut.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan kebijakan tersebut bersifat terbatas dan hanya berlaku untuk minyak yang sudah dalam perjalanan, guna meredakan tekanan pasokan global.
Langkah ini diambil di tengah melonjaknya volatilitas pasar energi dunia akibat konflik dengan Iran yang berdampak pada distribusi minyak global.
Dengan situasi yang terus berkembang, langkah Indonesia dalam mengamankan pasokan energi alternatif menjadi krusial untuk menjaga stabilitas ekonomi dan ketahanan energi nasional. (*)