TRIBUNNEWS.COM - Kegagalan Timnas Italia lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun memicu gelombang kecaman besar di dalam negeri.
Sorotan tajam kini mengarah ke Presiden FIGC, Gabriele Gravina, yang didesak mundur karena dianggap paling bertanggung jawab atas krisis sepak bola Italia.
Italia harus tersingkir secara dramatis setelah kalah dari Timnas Bosnia dan Herzegovina melalui adu penalti di Zenica pada Rabu (1/4/2026) kemarin.
Kekalahan ini bukan sekadar hasil buruk, tetapi disebut sebagai "tragedi olahraga" oleh sejumlah tokoh sepak bola.
Hal ini karena sudah tiga kali edisi Piala Dunia dilewatkan oleh Italia. Dari 2018, 2022, dan kini 2026 mereka absen.
Kegagalan itu dianggap jadi aib mengingat sejarah besar yang dimiliki Italia di Piala Dunia dengan empat gelar yang telah mereka peroleh.
Presiden Federasi Sepakbola Italia (FIGC), Gabriele Gravina dianggap yang paling bertanggung jawab atas situasi ini.
Ia sudah menjabat sejak 2018 dan baru saja terpilih kembali pada 2025. Namun di era kepemimpinannya, Italia sama sekali belum mengicipi sensasi Piala Dunia.
Terakhir kali Italia mentas yakni pada 2014, dengan skuad ikonik Trio BBC (Bonucci, Barzagli dan Chiellini) serta Gianluigi Buffon di bawah mistar gawang.
Baca juga: 4 Negara Eropa Terakhir Melaju ke Piala Dunia 2026, Italia Cuma Bisa Tertegun
Banyak pihak kini menilai perubahan besar di tubuh federasi adalah satu-satunya jalan untuk mengembalikan kejayaan Gli Azzurri.
Salah satu kritik paling keras datang dari legenda pelatih Fabio Capello.
Ia menyebut kegagalan ini sebagai aib nasional yang sulit diterima, mengingat Italia adalah juara dunia empat kali.
"Saya tidak bisa tidur semalaman. Ini tragedi olahraga, sebuah aib. Salah satu momen terburuk dalam sejarah sepak bola Italia," tegas Capello, dikutip dari Football Italia.
Namun, Capello tidak hanya menyalahkan pemain atau pelatih. Ia justru menyoroti kepemimpinan federasi yang dinilai gagal total.
Namun, meski tekanan terus meningkat, Gravina dan jajarannya sejauh ini belum menunjukkan tanda-tanda akan mundur.
Capello pun menilai, tidak adanya pengunduran diri dari jajaran petinggi ini menjadi hal paling mengkhawatirkan.
"Yang paling bertanggung jawab adalah presiden federasi dan seluruh kepemimpinan. Tapi tidak ada yang mundur," kritiknya.
Nada serupa juga disampaikan mantan petinggi Juventus dan Napoli, Luciano Moggi.
Ia menilai masalah Italia bersifat struktural dan sudah berlangsung lama, bahkan sejak era skandal Calciopoli.
"Ingatlah bahwa hasil besar terakhir adalah pada tahun 2006, ketika memenangkan Piala Dunia dengan struktur kepemimpinan yang kuat," katanya, melalui TuttoMercatoWeb.
"Sejak saat itu, dengan fajar Calciopoli, sepak bola Italia selesai," kata dia.
Menurut Moggi, kegagalan untuk ketiga kali secara beruntun ini mencerminkan sistem yang rusak dari akar. Ia bahkan menyebut Gravina tidak layak lagi memimpin.
"Ikan busuk dari kepala. Gravina harus mundur. Kita butuh revolusi total," tegasnya.
Ia juga menyoroti dampak besar kegagalan ini terhadap generasi muda Italia yang belum pernah merasakan atmosfer Piala Dunia dalam beberapa tahun terakhir.
"Kita perlu memulai dari nol, pembersihan total. Menteri Abodi harus turun tangan dengan serius. Cukup bicara: yang dibutuhkan adalah revolusi nyata," kata Moggi.
Baca juga: Ironisnya Gianluigi Donnarumma, 2 Sejarah Emas yang Terlewat Bersama Italia & AC Milan
Menteri Olahraga Italia, Andrea Abodi sendiri juga melontarkan kritik tajam usai kegagalan Timnas Italia lolos ke Piala Dunia 2026.
Ia menegaskan bahwa sepak bola Italia harus dibangun ulang, dan langkah awalnya adalah melakukan pembaruan kepemimpinan di FIGC.
Ia menekankan bahwa sepak bola di Italia bukan sekadar olahraga biasa, melainkan bagian penting dari budaya dan identitas nasional.
"Sangat menyedihkan memikirkan ada satu generasi anak-anak dan pemuda yang belum pernah merasakan pengalaman melihat Italia bermain di Piala Dunia," tambahnya.
Menurutnya, pemerintah selama ini telah memberikan dukungan penuh terhadap dunia olahraga, sehingga tidak tepat jika kegagalan ini dialihkan kepada pihak lain.
“Kami akan terus menjalankan tanggung jawab sebagai institusi, tetapi yang dibutuhkan sekarang adalah tanggung jawab, kemanusiaan, dan rasa hormat dari semua pihak. Italia harus kembali menjadi Italia, termasuk dalam sepak bola dunia,” tegas Abodi.
Dari komentar dan reaksi publik di Italia, kegagalan Gli Azzurri ke Piala Dunia ini memperlihatkan bahwa krisis yang dialami bukan sekadar soal hasil di lapangan, melainkan persoalan sistem yang lebih dalam.
(Tribunnews.com/Tio)