Opini: Makna Tri Hari Suci dan Paskah di Tengah Retaknya Dunia
Dion DB Putra April 02, 2026 09:19 AM

Oleh : Redegundis Kesa
Mahasiswi Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Setiap tahun, ketika kalender liturgi Katolik memasuki minggu terakhir Prapaskah, umat Kristen diselubungi suasana khidmat yang mendalam. 

Tri Hari Suci yakni Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Alleluya, mengundang kita untuk menelusuri jejak langkah Yesus Kristus menuju penderitaan dan kematian-Nya. 

Puncaknya, Vigili Paskah menyongsong kabar sukacita: Kristus telah bangkit. Namun, tahun ini, nyanyian Alleluia bergema di tengah dunia yang sedang retak. 

Dalam konteks inilah, perayaan Paskah tidak boleh sekadar menjadi ritual tahunan yang lepas dari realitas, melainkan harus menjadi teologi harapan yang konkret di tengah krisis kemanusiaan global.

Dari pengkhiatan menuju pemulihan martabat

Tri Hari Suci dalam iman Katolik bukan sekadar mengenang peristiwa sejarah masa lalu. 

Baca juga: Renungan Harian Katolik Kamis 2 April 2026: Kaki yang Ia Basuh- dari Ziarah ke Pertobatan

Ini adalah sebuah drama keselamatan yang terus berlangsung, sebuah ‘anamnesis’ peringatan yang membuat peristiwa masa lalu hadir secara sakramental dalam kini. 

Pada Kamis Putih, kita diingatkan tentang pelayanan dan pengkhianatan. Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya, sebuah tindakan radikal kerendahan hati di tengah hierarki kekuasaan. 

Namun, di meja yang sama, benih pengkhianatan ditanam. Hari ini, kita diajak berefleksi: di tengah konflik global yang memolarisasi manusia, apakah kita memilih menjadi pelayan bagi perdamaian atau menjadi pengkhianat yang memperburuk keadaan dengan sikap apatis dan kebencian? 

Dalam dunia digital yang sering kali dipenuhi ujaran kebencian dan hoaks yang memicu ketegangan, tindakan "membasuh kaki" bisa diterjemahkan sebagai upaya membersihkan narasi publik dari racun fitnah dan mengembalikan martabat setiap individu melalui komunikasi yang bermartabat.

Memasuki Jumat Agung, Gereja mengheningkan cipta di kaki salib. Salib adalah simbol kegagalan, kekerasan, dan kematian yang tidak adil. 

Yesus, yang tidak berdosa, menjadi korban dari struktur dosa dunia. Sangat mudah untuk melihat paralelisme antara Golgota dan realitas perang modern. Di berbagai zona konflik, darah orang tak berdosa tumpah. 

Wajah-wajah yang terluka di sana adalah wajah Kristus yang tersalib ulang. Iman Katolik mengajarkan bahwa Allah tidak jauh dari penderitaan ini; Ia hadir di dalamnya. 

Allah tidak tinggal diam di surga yang nyaman, melainkan turun ke dalam lumpur sejarah manusia yang paling kelam. 

Teologi salib yang diajarkan Gereja mengingatkan kita bahwa Allah "turut menderita" bersama ciptaan-Nya. 

Dalam dokumen ‘Gaudium et Spes’, Konsili Vatikan II menegaskan bahwa sukacita dan harapan, duka dan kecemasan manusia zaman sekarang, terutama kaum miskin dan yang menderita, adalah juga sukacita dan harapan, duka dan kecemasan murid-murid Kristus. 

Oleh karena itu, merayakan Jumat Agung di tengah dunia yang retak berarti mengakui bahwa Tuhan solidaritas dengan para korban kekerasan, dan mengutuk segala bentuk ketidakadilan yang menindas martabat manusia. 

Salib menjadi kritik profetik terhadap segala bentuk kekuasaan yang menindas, baik itu kekuasaan militer yang agresif maupun kekuasaan ekonomi yang mengeksploitasi kelemahan nations lain. 

Salib membongkar ilusi bahwa kekerasan dapat menyelesaikan masalah; sebaliknya, salib menunjukkan bahwa kekerasan hanya melahirkan lebih banyak kematian dan kehancuran.

Namun, cerita tidak berakhir di kubur. Sabtu Sunyi adalah masa penantian, sebuah ruang hampa di mana harapan seolah mati. 

Ini mencerminkan keputusasaan banyak orang di dunia saat ini yang merasa perdamaian adalah utopi yang mustahil. 

Dalam kesunyian Sabtu ini, Gereja mengajak kita untuk belajar diam, merenung, dan membiarkan Allah bekerja di luar jangkauan logika manusia. 

Kadang, justru dalam keheningan itulah benih transformasi mulai bertunas. Di era di mana kita dibombardir oleh informasi yang tiada henti dan kebisingan opini yang saling bertabrakan, spiritualitas Sabtu Sunyi mengajarkan kita nilai kesabaran dan kepercayaan bahwa Allah tetap bekerja bahkan ketika Dia tampak absen. 

Ini adalah antidot bagi kepanikan kolektif yang sering melanda masyarakat di tengah krisis.

Fajar Paskah kemudian menghancurkan keputusasaan itu. Kebangkitan Yesus bukan sekadar keajaiban biologis, melainkan kemenangan teologis atas kuasa dosa dan maut. 

Dalam terang iman Katolik, Paskah adalah proklamasi bahwa kematian dalam bentuk fisik maupun struktural seperti perang, kemiskinan, dan ketidakadilan bukanlah kata akhir. 

Kubur yang kosong menjadi tanda bahwa kasih Allah lebih kuat daripada segala bentuk kebencian yang diciptakan manusia. 

Kebangkitan Kristus adalah fondasi dari persaudaraan ini; jika Kristus telah meruntuhkan tembok pemisah antara Allah dan manusia, maka tidak ada alasan bagi kita untuk mempertahankan tembok pemisah antar sesama manusia.

Di sinilah letak relevansi Paskah bagi dunia yang retak. Kebangkitan Kristus menawarkan narasi tandingan terhadap narasi perang. Perang dibangun di atas logika kekuatan, pembalasan, dan kematian. 

Paskah dibangun di atas logika kasih, pengampunan, dan kehidupan. Kubur yang kosong adalah tanda bahwa tembok pemisah yang dibangun oleh manusia baik itu tembok fisik di perbatasan maupun tembok kebencian antar kelompok dapat dihancurkan oleh kuasa Allah yang memulihkan. 

Lebih jauh, spiritualitas Paskah mengajarkan kita tentang ketahanan harapan (resilience of hope). Harapan Paskah bukanlah optimisme naif yang menutup mata terhadap realitas kelam. 

Sebaliknya, harapan Paskah lahir justru dari pengakuan jujur atas penderitaan, seperti yang dilakukan Gereja pada Jumat Agung. 

Kita mengakui bahwa dunia sedang retak, namun kita percaya bahwa retakan itu justru menjadi tempat masuknya cahaya kebangkitan. 

Seperti kata Santo Agustinus, "Harapan memiliki dua arah yang indah: kemarahan terhadap keadaan yang tidak adil, dan keberanian untuk mengubahnya." 

Kemarahan ini bukan amarah yang destruktif, melainkan sesuatu yang mendorong aksi nyata untuk keadilan.

Iman Katolik tidak meminta kita untuk lari dari dunia, melainkan terjun ke dalamnya dengan semangat Paskah. 

Sebagai penulis dan akademisi, kita memiliki tanggung jawab moral untuk menggunakan kata-kata kita sebagai alat pembangunan, bukan penghancuran. 

Pesan Paskah bagi dunia yang terluka

Akhirnya, perayaan Tri Hari Suci dan Paskah tahun ini menjadi momen untuk memperbarui komitmen kita sebagai pembawa damai. 

Setiap kali kita menyambut Tubuh Kristus dalam Ekaristi Vigili Paskah, kita diutus untuk menjadi "tubuh Kristus" yang hadir di tengah dunia yang terluka. 

Kita diutus untuk membalut luka, mendamaikan yang berseteru, dan menyalakan lilin harapan di tengah kegelapan. Misi ini menuntut keberanian untuk mencintai musuh, seperti yang diajarkan Yesus, dan ketekunan untuk tetap percaya pada kebaikan di tengah badai kejahatan.

Dunia mungkin masih retak, dan konflik mungkin masih berlanjut. Namun, bagi umat Katolik, kata terakhir bukanlah kehancuran, melainkan kebangkitan. 

Alleluia! Kristus telah bangkit, dan dalam cahaya-Nya, kita dipanggil untuk menjadi pembawa fajar baru bagi kemanusiaan yang merindukan damai. 

Inilah tugas kita, inilah misi kita, dan inilah harapan yang tak pernah pudar: bahwa dari retakan dunia, kasih Allah justru memancar lebih terang, mengundang semua orang untuk bangkit dan melangkah menuju kehidupan yang lebih penuh. 

Dalam setiap upaya kecil untuk perdamaian, dalam setiap kata yang membangun, dan dalam setiap tindakan kasih, kita sesungguhnya sedang merayakan Paskah setiap hari, menjadikan dunia yang retak ini perlahan-lahan utuh kembali oleh kuasa kebangkitan. 

Selamat Pesta Paskah! Alleluya, Kristus Telah Bangkit! (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.