Kisah Penjual Hik Pikul yang Masih Setia Keliling Solo, Jalan dari RS Brayat ke Terminal Tirtonadi
Ika Putri Bramasti April 02, 2026 03:44 PM

 

TRIBUNSTYLE.COM - Di tengah pesatnya perkembangan zaman dan modernisasi sektor kuliner, keberadaan pedagang tradisional dengan cara berjualan dipikul kini semakin jarang ditemui.

Namun hal itu tidak berlaku bagi Pak Senen, seorang penjual hik keliling yang tetap setia mempertahankan metode berdagangnya.

Dengan memanggul dua keranjang berisi dagangan di pundaknya, Pak Senen menyusuri jalanan Kota Solo setiap hari.

Pak Senen, seorang penjual hik keliling yang tetap setia mempertahankan metode berdagangnya.
Pak Senen, seorang penjual hik keliling yang tetap setia mempertahankan metode berdagangnya. (Instagram @jelajahsolo)

Baca juga: Jejak Sejarah Taman Balekambang Solo, Dulu Jadi Tanda Cinta Ortu ke Anak, Kini Disulap Estetik

Cara berjualan seperti ini dulunya cukup umum, tetapi kini mulai ditinggalkan karena dianggap kurang praktis dan membutuhkan tenaga fisik yang besar. 

Meski demikian, Pak Senen tetap bertahan dengan cara tersebut.

Dagangan yang ia bawa terbilang lengkap untuk ukuran hik tradisional.

Aneka gorengan seperti bakwan, tahu isi, tempe goreng, hingga pisang goreng tersusun rapi dalam wadah.

Selain itu, terdapat pula sate-satean seperti sate usus, telur puyuh, serta berbagai camilan kering yang dikemas dalam plastik.

Tak ketinggalan, perlengkapan sederhana seperti lampu minyak juga dibawa untuk penerangan saat malam hari.

Pada sore hari, Pak Senen biasanya mangkal sejenak di sekitar RS Brayat.

Lokasi ini cukup strategis karena ramai oleh aktivitas warga dan pengunjung rumah sakit.

Ia memanfaatkan waktu tersebut untuk beristirahat sekaligus melayani pembeli yang datang silih berganti.

Memasuki malam hari, Pak Senen kembali melanjutkan perjalanan menuju kawasan Terminal Tirtonadi.

Area ini dikenal sebagai salah satu pusat keramaian di Solo, terutama pada malam hari, sehingga menjadi lokasi potensial untuk berjualan.

Keberadaan Pak Senen tidak hanya menjadi alternatif kuliner bagi masyarakat, tetapi juga menghadirkan nuansa nostalgia.

Banyak pembeli yang mengaku teringat masa lalu ketika pedagang pikul masih mudah ditemui di berbagai sudut kota.

Sensasi membeli langsung dari pikulan, lengkap dengan interaksi sederhana, menjadi pengalaman tersendiri yang sulit tergantikan.

Di tengah maraknya layanan pesan antar dan gerobak modern, pilihan Pak Senen untuk tetap berjualan secara tradisional menunjukkan keteguhan sekaligus ketahanan pelaku usaha kecil.

Cara ini memang tidak mudah, mengingat ia harus berjalan cukup jauh sambil memikul beban dagangan setiap harinya.

Sejumlah warga berharap keberadaan pedagang seperti Pak Senen tetap bisa bertahan.

Selain sebagai bagian dari mata pencaharian, tradisi berdagang dengan cara dipikul juga merupakan warisan budaya yang mencerminkan kesederhanaan dan kerja keras.

Kisah Pak Senen menjadi potret nyata bahwa di balik kemajuan zaman, masih ada sosok-sosok yang memilih bertahan dengan cara lama.

Di Solo, kehadirannya bukan sekadar penjual hik, tetapi juga simbol kegigihan dan tradisi yang belum sepenuhnya hilang.

(TribunStyle.com/Ika Bramasti).

Ikuti dan Bergabung di Saluran Threads TribunStyle.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.