Warga Mengeluh, 50 Lebih Truk Sawit Dari Rupat Tertahan di Pelabuhan Tidak Bisa Menyeberang ke Dumai
Firmauli Sihaloho April 02, 2026 05:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Lima puluh lebih truk pengangkut buah kelapa sawit milik warga Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis, tertahan di Pelabuhan Roro sejak momen libur Lebaran, tidak bisa menyeberang ke Dumai.

Hingga kini, antrean kendaraan belum sepenuhnya terurai akibat pembatasan operasional selama arus mudik dan balik.

Kondisi ini membuat distribusi hasil panen masyarakat terganggu, terutama pengiriman menuju Dumai sebagai salah satu jalur utama pemasaran sawit. Warga pun mengeluhkan kerugian akibat buah yang tak kunjung bisa dijual.

Menanggapi keluhan tersebut, anggota DPRD Riau dari daerah pemilihan Bengkalis, Dumai, dan Kepulauan Meranti, Khairul Umam bersama Komisi IV menggelar rapat dengar pendapat (RDP) dengan Dinas Perhubungan Provinsi Riau.

Dalam rapat tersebut turut hadir pihak UPT Pelabuhan Roro serta Kepala Dinas Perhubungan Riau untuk membahas persoalan penumpukan truk sawit yang sudah berlangsung lebih dari sepekan.

Dinas Perhubungan menjelaskan, pada masa libur Lebaran terdapat kebijakan pembatasan angkutan berat berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri.

Aturan itu mengutamakan mobilitas masyarakat serta distribusi logistik penting, sehingga kendaraan pengangkut sawit tidak diperkenankan melintas.

Baca juga: Ribuan Hektare Lahan Terbakar di Riau, Petugas Kerahkan Heli Water Bombing

Baca juga: Hartanya Naik dari Rp1 M Jadi Rp293 M dalam Setahun, Ini Sosok Bupati Terkaya di Kepulauan Riau

Selain itu, pasca Lebaran juga terjadi kendala teknis pada armada penyeberangan.

Dari tiga unit kapal yang tersedia, hanya dua kapal yang dapat beroperasi sehingga memperlambat proses penyeberangan kendaraan.

Sebagai langkah penanganan, pihak terkait telah menambah jam operasional penyeberangan hingga pukul 00.00 WIB untuk mengurai antrean. Upaya ini diharapkan mampu mempercepat distribusi kendaraan yang tertahan di pelabuhan.

Dinas Perhubungan juga memastikan bahwa mulai 10 April mendatang, satu unit kapal tambahan akan kembali dioperasikan sehingga kapasitas penyeberangan dapat meningkat dan antrean segera teratasi.

Khairul Umam berharap persoalan ini dapat segera diselesaikan, mengingat dampaknya cukup besar bagi petani. 

Ia menyebut harga sawit di tingkat petani turun drastis, dari kisaran di atas Rp3.000 per kilogram menjadi sekitar Rp1.700 akibat terhambatnya distribusi. 

"Warga pun diharapkan segera bisa kembali menjual hasil panen mereka secara normal,"ujar Khairul Umam.(Tribunpekanbaru.com / Nasuha Nasution)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.