SURYA.co.id – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan bahwa pihaknya tengah melakukan komunikasi dengan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, di tengah konflik kawasan Timur Tengah yang terus memanas.
Trump menyebut, dalam waktu sekitar satu pekan ke depan akan terlihat apakah peluang kerja sama antara Washington dan Teheran benar-benar dapat terwujud.
“Kita akan segera tahu,” ujar Trump, dikutip dari New York Post, Senin (30/3/2026).
“Saya akan memberi tahu Anda dalam waktu sekitar satu minggu,” imbuhnya.
Pernyataan tersebut merujuk pada sikap Iran, khususnya Ghalibaf dan pihak terkait lainnya, mengenai kemungkinan membuka jalur negosiasi dengan Amerika Serikat.
Pemerintah Amerika Serikat disebut menargetkan kesepakatan dengan Iran dapat tercapai sebelum 6 April.
Tenggat ini muncul setelah sebelumnya Washington menunda rencana serangan udara terhadap fasilitas energi Iran.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa pihak Iran yang terlibat dalam pembicaraan menunjukkan sikap yang lebih terbuka dibandingkan sebelumnya.
“Orang-orang ini tampak lebih masuk akal di balik layar, dalam percakapan privat ini, dibandingkan beberapa pemimpin sebelumnya yang kini sudah tidak lagi berada di dunia ini,” ujarnya.
Trump juga mengklaim telah terjadi perubahan besar dalam struktur kepemimpinan Iran dan menyebut kelompok lama sudah tidak lagi berkuasa.
“Telah terjadi perubahan rezim secara total karena rezim sebelumnya sudah tidak ada dan kita berurusan dengan kelompok orang yang benar-benar baru,” kata Trump. “Dan sejauh ini, mereka jauh lebih masuk akal.”
Namun, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengakui bahwa situasi politik internal Iran masih belum sepenuhnya jelas.
“Belum sepenuhnya jelas bagaimana keputusan diambil di dalam Iran,” ujar Rubio dalam sebuah wawancara.
Baca juga: Babak Baru Perang Iran Vs Israel-AS Tinggal Menghitung Hari, Trump Sebut Akan Tarik Militernya
Ketegangan meningkat setelah Iran melancarkan serangan ke sejumlah infrastruktur energi, termasuk kilang minyak di kota Haifa, Israel utara, yang memicu kebakaran besar. Serangan juga dilaporkan menyasar fasilitas air dan listrik di Kuwait.
Menanggapi situasi tersebut, Trump memperingatkan bahwa Amerika Serikat siap mengambil langkah militer yang lebih besar jika diperlukan.
“Anda akan segera melihatnya,” kata Trump ketika ditanya mengenai respons atas serangan tersebut.
Trump juga menegaskan bahwa jika kesepakatan tidak segera tercapai, maka Amerika Serikat akan menargetkan sektor vital Iran, termasuk energi dan listrik.
“Jika karena alasan apa pun kesepakatan tidak segera tercapai, yang kemungkinan besar akan terjadi, dan jika Selat Hormuz tidak segera ‘dibuka untuk bisnis,’ kami akan mengakhiri ‘kunjungan’ kami di Iran dengan meledakkan dan sepenuhnya menghancurkan semua pembangkit listrik mereka, sumur minyak, dan Pulau Kharg,” tulisnya.
Sebelumnya, Trump juga mengancam akan “menghancurkan sepenuhnya” seluruh fasilitas pembangkit listrik, ladang minyak, dan pusat ekspor utama Iran jika negosiasi gagal.
Menanggapi ancaman tersebut, Ghalibaf memberikan peringatan keras kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Ia menilai serangan terhadap infrastruktur Iran akan menjadi kesalahan besar.
Di tengah konflik yang telah memasuki hari ke-30, Iran dilaporkan memblokade Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan minyak dunia.
Dampaknya langsung terasa di pasar global, di mana harga minyak melonjak hingga 115 dolar AS per barel. Kenaikan tersebut turut memicu lonjakan harga bahan bakar di Amerika Serikat.
Meski Trump menyebut negosiasi berjalan cukup baik, sejumlah analis menilai belum ada kemajuan signifikan dalam perundingan.
Serangan yang terus berlangsung serta pengerahan kekuatan militer di kawasan justru dinilai memperkecil peluang terjadinya deeskalasi dalam waktu dekat.
Situasi ini membuat dunia internasional kini menunggu perkembangan dalam sepekan ke depan, yang disebut Trump sebagai periode penentuan apakah konflik akan mereda atau justru semakin meluas.
Mohammad Bagher Ghalibaf bukan sekadar politisi biasa, melainkan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam struktur kekuasaan Iran saat ini.
Lahir pada tahun 1961, Ghalibaf memulai kariernya di Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) sejak 1980.
Dia memiliki rekam jejak militer yang cemerlang, mulai dari komandan penting saat perang Iran-Irak hingga menjabat sebagai Komandan Angkatan Udara IRGC.
Setelah berkarier di militer, ia ditunjuk sebagai Kepala Kepolisian Iran oleh Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.
Dia juga dikenal luas sebagai Wali Kota Teheran selama bertahun-tahun sebelum akhirnya menjabat sebagai Ketua Parlemen Iran sejak 2020.
Dr. Raz Zimmt, seorang peneliti senior, mendeskripsikannya sebagai figur orang dalam yang langka.
“Ia adalah ‘orang dalam’ dengan cara yang jarang dimiliki politisi lain,” katanya.
“Tidak seperti moderat sipil, Ghalibaf memiliki koneksi dengan (Qasem) Soleimani, yang memberinya kredibilitas di IRGC.”
Meski dipuji sebagai sosok konservatif pragmatis yang andal mengelola birokrasi, Ghalibaf tidak lepas dari kontroversi, termasuk tuduhan korupsi selama masa jabatannya sebagai wali kota.