SURYA.CO.ID, SURABAYA - Hubungan suami istri untuk mendapatkan kehamilan tidak hanya soal keberuntungan, namun ada hitungan medis yang sangat menentukan.
Dokter RSIA Jemursari Surabaya, dr Jimmy Yanuar Annas Sp.OG., menjelaskan bahwa kunci keberhasilan promil (program hamil) terletak pada pemahaman daya tahan sperma dan masa subur.
Sperma diketahui memiliki kemampuan bertahan hidup hingga 72 jam, atau sekitar tiga hari setelah berada di dalam rahim wanita.
Menurut dr Jimmy, masa subur wanita terjadi dalam waktu yang sangat singkat, yakni hanya sekitar satu hari dalam satu siklus menstruasi.
Strategi frekuensi tiga hari sekali ini, bertujuan untuk memastikan ketersediaan sperma di dalam rahim tepat saat sel telur dilepaskan (ovulasi).
Selain waktu, dr Jimmy menyoroti kendala teknis seperti ejakulasi dini, atau ejakulasi yang tidak terjadi di dalam vagina yang bisa menurunkan peluang hamil.
Sperma membutuhkan lingkungan mulut rahim untuk bertahan hidup, karena kondisi vagina yang cenderung bersifat asam dapat mematikan sperma dengan cepat.
Terkait posisi mengganjal panggul dengan bantal setelah berhubungan, dr Jimmy menilai hal itu memiliki dasar logis meskipun bukan penentu utama.
"Sperma butuh waktu 30 sampai 45 menit untuk bergerak menuju rahim. Posisi panggul lebih tinggi membantu penampungan sperma di bagian posterior vagina," jelasnya.
Berdasarkan data medis reproduksi, berikut adalah faktor-faktor yang memengaruhi kualitas kesuburan pasangan:
Bagi pasangan yang sedang menjalani promil, sangat penting untuk menjaga komunikasi dan melakukan diskusi rutin sebelum memutuskan konsultasi lebih lanjut ke dokter spesialis.
Untuk mengoptimalkan peluang hamil, pasangan disarankan menggunakan aplikasi penghitung siklus atau alat tes urine masa subur jika siklus haid tidak teratur. Selalu prioritaskan pola hidup sehat dan kelola stres dengan baik selama menjalani masa promil alami.