POSELITUNG.CO, BELITUNG - Sebagian desa di Belitung Timur kini mulai menghadapi persoalan berkurangnya debit air bersih menandakan mulai masuk musim kemarau.
Untuk kebutuhan sehari-hari, warga pun sudah mulai mencari sumber air alternatif seperti sungai-sungai yang ada di kampung.
Namun, kebiasaan baru di musim kemarau ini menyimpan risiko kesehatan. Dinas Kesehatan Kabupaten Belitung Timur mencatat adanya potensi kontaminasi bakteri pencernaan yang bisa memicu diare massal jika masyarakat tidak berhati-hati.
Kepala Bidang P2P Dinkes Beltim, Supardi, menyoroti pola aktivitas masyarakat yang berpindah ke sungai saat sumur di rumah mulai mengering.
Aktivitas mandi, mencuci, hingga buang air besar (BAB) di satu lokasi yang sama sangat berisiko mencemari air.
"Kadang-kadang dengan aktivitas itu mereka mandi di situ, mencuci di situ. Nah, kadang-kadang terjadi kontaminasi ke sumber air yang digunakan," ujarnya. Kamis (2/4/2026).
Supardi menceritakan kejadian masa lalu di daerah Simpang Tiga dan Kecamatan Dendang, di mana kasus diare sempat mencuat akibat pencemaran sumber mata air umum. Ia pun berharap kejadian serupa tidak terulang di musim kemarau tahun 2026 ini.
Supardi juga mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kebersihan di sekitar sumber mata air umum. Menghindari membuang sampah sembarangan dan tidak BAB di sekitar sungai merupakan langkah penting untuk menjaga kualitas air agar tetap layak digunakan.
Tak kalah penting, Supardi memberikan catatan mengenai konsumsi air minum harian warga. Saat ini, banyak warga yang beralih menggunakan air minum isi ulang karena lebih praktis dan murah.
Tanpa bermaksud negatif, Supardi mengingatkan bahwa standar baku mutu air isi ulang berbeda dengan air kemasan bermerek.
"Kalau kita menggunakan galon isi ulang, sebaiknya tetap dilakukan perebusan atau tetap dimasak. Terutama jika air itu digunakan untuk anak-anak, bayi, dan balita," ucapnya.
Supardi berpendapat standar mutu air isi ulang cenderung lebih longgar dibandingkan air kemasan pabrikan yang pengawasannya sangat ketat.
"Kalau air isi ulang itu kan standar baku mutunya berbeda dengan air kemasan. Kalau air kemasan itu lebih ketat sehingga bisa lebih aman untuk diminum langsung," ungkapnya.
Terakhir, Dinkes Beltim berharap kerja sama dari seluruh lapisan masyarakat untuk tidak mencemari sumber-sumber air yang masih tersedia.
Dengan menjaga kebersihan lingkungan dan mengolah air minum dengan benar, risiko penyakit pencernaan di musim kemarau dapat ditekan seminimal mungkin.
(Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)