SERAMBINEWS.COM - Serangan besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran kian meluas dan intens.
Dalam eskalasi terbaru, Kamis target tak hanya fasilitas militer, tetapi juga infrastruktur sipil penting mulai dari jembatan strategis, pabrik baja, hingga pusat penelitian medis berusia lebih dari satu abad di Teheran.
Serangan ini terjadi di tengah ancaman keras Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya bersumpah akan “membom Iran hingga kembali ke Zaman Batu”.
Baca juga: Iran Siapkan Tarif Selangit untuk Kapal Tanker di Selat Hormuz, Bisa Capai Rp33 Miliar Sekali Lintas
Dalam pidatonya kepada publik, Trump mengklaim Washington hampir mencapai tujuan utama militernya, meski belum memberikan kejelasan kapan konflik akan berakhir.
Di sisi lain, Teheran menegaskan tidak akan mundur.
Militer Iran memperingatkan perang akan terus berlanjut hingga pihak lawan “dipermalukan” dan “dipaksa menyerah”, sekaligus mengisyaratkan kesiapan menghadapi kemungkinan invasi darat.
Situasi paling dramatis terjadi di kota Karaj, dekat ibu kota, ketika serangan menghantam jembatan utama untuk kedua kalinya tepat saat tim penyelamat masih mengevakuasi korban dari serangan sebelumnya.
Sedikitnya dua orang dilaporkan tewas dan sejumlah lainnya terluka.
Otoritas setempat langsung meminta warga menjauhi lokasi karena risiko serangan lanjutan.
Dampak serangan juga menghantam sektor industri vital Iran. Dua raksasa baja nasional Mobarakeh Steel dan Khuzestan Steel terpaksa menghentikan operasi.
Pihak perusahaan menyebut jalur produksi ditutup total akibat intensitas serangan udara.
Bahkan, salah satu unit produksi diperkirakan tidak akan bisa kembali beroperasi setidaknya selama enam bulan.
Sebelumnya, militer Israel mengklaim pabrik-pabrik tersebut memiliki kaitan dengan Garda Revolusi Iran, namun tidak memberikan bukti yang dapat diverifikasi.
Konflik turut meluas ke Lebanon selatan. Militer Israel mengklaim telah menewaskan lebih dari 40 anggota Hizbullah dalam 24 jam terakhir.
Sebaliknya, Hizbullah mengaku melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel utara. Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam memperingatkan kondisi negaranya kini “sangat kritis” di tengah eskalasi yang kian tak terkendali.
Laporan Bulan Sabit Merah Iran menyebutkan lebih dari 115.000 unit sipil termasuk permukiman, fasilitas medis, dan pusat bantuan telah rusak akibat serangan yang terus berlangsung.
Serangan terhadap objek sipil tanpa alasan militer yang jelas berpotensi melanggar hukum humaniter internasional, memicu kekhawatiran global akan krisis kemanusiaan yang semakin dalam.
Konflik yang kian meluas ini kini menempatkan kawasan Timur Tengah di ambang krisis yang lebih besar, dengan risiko perang terbuka yang melibatkan lebih banyak negara.(*)