Kisah Perahu Ketek Oranye di Pante Lhong Bireuen, Jadi Penghubung Utama Antar Desa
Saifullah April 03, 2026 12:19 AM

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Yusmandin Idris | Bireuen

SERAMBINEWS.COM, BIREUEN - Sejak jembatan Pante Lhong di Peusangan, Bireuen putus akibat banjir besar pada November 2025 lalu, warga di Desa Blang Panjoe dan Desa Kubu, sempat terisolasi.

Untuk mengatasi keterbatasan akses, warga merakit sebuah perahu ketek berwarna oranye yang kini menjadi penghubung utama antar desa.

Perahu sederhana ini beroperasi setiap hari hingga dini hari, membantu masyarakat menyeberang sungai yang deras, termasuk pelajar, pekerja, dan warga umum.

Pantauan Serambinews.com pada Rabu (1/4/2026) malam, menunjukkan aktivitas penyeberangan berjalan lancar. 

Kawasan sekitar diterangi lampu, sementara warga dari arah Kubu langsung menuju tepi sungai untuk naik boat.

Perahu ditarik dengan kabel seling yang digerakkan mesin sepeda motor.

Meski arus sungai terdengar deras, penumpang tetap tenang.

Baca juga: Jembatan Putus di Peusangan Bireuen, Warga Temukan Harapan di Perahu Ketek

Rahmat, salah seorang operator boat, menjelaskan bahwa perahu beroperasi mulai pukul 06.00 WIB hingga dini hari.

Namun, pada pagi hingga sore hari boat kadang tidak bisa beroperasi jika arus sungai terlalu deras setelah hujan di pedalaman Peusangan.

“Kalau air deras, kami tidak berani beroperasi karena risikonya besar,” ujarnya.

Perahu ketek ini bukan rakit biasa. 

Bagian bawahnya disangga 28 drum plastik berisi angin, sementara di atasnya papan kayu dirangkai rapi hingga menyerupai kantin terapung.

Ongkos penyeberangan dikenakan Rp10.000 per sepeda motor, sedangkan penumpang orang dikenakan gratis.

Bagi warga, perahu ini menjadi simbol harapan sekaligus bukti kreativitas dan kebersamaan dalam menghadapi keterbatasan.

Jembatan Pante Lhong yang menghubungkan Desa Blang Panjoe, Peusangan, dengan Desa Kubu, Peusangan Siblah Krueng, putus total dalam musibah banjir November lalu bersama 28 jembatan lainnya di Bireuen. 

Sejak itu, akses warga sangat terganggu.

Namun, beberapa hari terakhir, pembangunan jembatan baru sudah dimulai di kawasan tersebut.

Warga berharap proses pembangunan cepat rampung agar mereka tidak lagi bergantung pada perahu ketek sederhana.

Meski penuh keterbatasan, perahu ketek oranye ini telah menjadi penyelamat mobilitas warga.

Kehadirannya menunjukkan semangat gotong royong masyarakat dalam menghadapi bencana.

Sekaligus menjadi pengingat betapa pentingnya infrastruktur yang kokoh untuk mendukung kehidupan sehari-hari.

Dengan adanya pembangunan jembatan baru, warga menaruh harapan besar agar akses antar desa kembali normal dan aktivitas masyarakat bisa berjalan lebih lancar.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.