Laporan : Rifky Edgar
SURYA.CO.ID, MALANG - Makan Bergizi Gratis (MBG) secara prasmanan baru saja diuji coba di kota malang.
Model MBG prasmanan ini diujicoba di MIN 2 Kota Malang pada Kamis (2/4/2026).
MBG prasmanan ini disambut antusia para siswa.
Mereka terlihat senang ketika bisa dengan leluasa mengambil lauk sendiri sesuai dengan keinginan mereka.
Dengan didampingi oleh para guru dan sejumlah petugas dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) siswa pun mengantre dengan tertib.
Baca juga: Emil Dardak Apresiasi Investasi Industri Filet Ikan Trenggalek, Tembus IKN dan Suplai MBG
Lauk yang disajikan dalam MBG Prasmanan juga cukup beragam.
Mulai dari telor yang dibelah menjadi dua, ayam, sayur Manisa, sayur cecek tahu, kerupuk hingga es yang berwarna merah muda.
Menu tersebut dianggap oleh siswa cukup istimewa dan juga nikmat.
Maka tak heran, jika menu MBG Prasmanan yang mereka ambil sendiri tersebut habis.
Siswa bisa menyesuaikan makanan sesuai dengan selera yang mereka inginkan.
Baca juga: Kegiatan Belajar di SMKN 1 Ampelgading Malang Tetap Berjalan Meski 3 Kelas Ambruk
Model baru ini MBG Prasmanan ini mendapat respons positif dari siswa maupun pihak sekolah karena dinilai lebih fleksibel dan menyajikan makanan yang lebih segar.
Kepala MIN 2 Kota Malang, Nanang Sukmawan mengatakan, konsep prasmanan memberi keleluasaan bagi siswa dalam menentukan porsi makan sesuai kebutuhan.
Selain itu, makanan yang disajikan juga dinilai lebih fresh karena langsung diambil dari tempat penyajian.
"Anak-anak jadi bisa menyesuaikan porsinya sendiri, dan lauknya lebih hangat. Ini jadi kelebihan dibanding sistem sebelumnya," ucapnya..
"Kalau kayak gini (prasmanan) itu enak. Karena kita bisa mengambil makanan sendiri dan cocok untuk selera kita," kata Cinta Keisya, siswi kelas 6 di sekolah tersebut.
Siswa lainnya, yakni Muhammad Uestian yang juga siswa kelas 6 cukup senang dengan adanya MBG Prasmanan ini.
"Makanannya enak. Saya bisa ambil telor dua dan ayam dua," ucapnya.
MBG Prasmanan di MIN 2 Kota Malang ini juga masih dalam proses uji coba dan baru pertama kali di Kota Malang.
Uji coba tersebut juga dalam rangka halal bihalal, setelah para siswa kembali masuk ke sekolah setelah menjalani libur lebaran.
Total ada 1.600 porsi MBG Prasmanan ini yang telah disiapkan oleh SPPG Dapur Gadang 2 Kota Malang.
Kegiatan uji coba MBG Prasmanan ini dihadiri oleh Wali Kota Malang Wahyu Hidayat dan sejumlah jajaran kepala dinas yang mendampinginya.
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menilai konsep prasmanan menjadi inovasi baru dalam pelaksanaan MBG di daerahnya.
"Ini pertama kali di Kota Malang. Dari hasil dialog dengan siswa, mereka merasa lebih puas karena menu lebih hangat, bervariasi, dan porsinya bisa disesuaikan," ungkapnya.
Ia menambahkan, dari segi kualitas gizi, menu yang disajikan sudah memenuhi unsur lengkap, mulai dari karbohidrat, protein, buah hingga minuman bergizi.
Baca juga: Wali Kota Ning Ita Datangi Sejumlah SPPG Kota Mojokerto : Pastikan Program MBG Tetap Berkualitas
Tak hanya soal konsumsi, sekolah juga melakukan penyesuaian jadwal agar program ini tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar.
Waktu istirahat kedua diperpanjang menjadi 30 menit untuk mengakomodasi antrean dan waktu makan siswa.
"Kami atur agar tidak mengurangi jam pelajaran. Istirahat tetap dua kali, hanya durasinya yang disesuaikan," jelasnya.
Dari sisi kedisiplinan, Nanang memastikan siswa sudah terbiasa antre melalui pembiasaan sehari-hari.
Seperti antre saat masuk kelas maupun berwudhu.
Meski begitu, pihak sekolah tetap memberikan edukasi agar siswa tidak mengambil makanan secara berlebihan.
"Kami tekankan bahwa ini program bersama, jadi harus saling berbagi. Tidak boleh mengambil berlebihan karena ada hak teman lainnya," tegasnya.
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat mengakui ada tantangan dalam penerapan sistem prasmanan, terutama terkait pengaturan waktu belajar.
"Karena harus antre dan makan butuh waktu, tentu ada potensi mengurangi jam pelajaran. Ini yang harus diatur oleh pihak sekolah," katanya.
Dari sisi pengawasan, model prasmanan justru dinilai memiliki keunggulan karena makanan tidak tertutup terlalu lama seperti pada sistem nasi kotak.
"Kalau prasmanan lebih terbuka, jadi rasa makanan lebih alami dan tidak berair," jelasnya.
Ke depan, Pemkot Malang akan melakukan evaluasi menyeluruh sebelum memperluas penerapan model ini ke sekolah lain.
Hasil uji coba akan dilaporkan ke Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menjadi bahan pertimbangan kebijakan lanjutan.
"Nanti kami evaluasi kelebihan dan kekurangannya, lalu kita laporkan,"
"Kalau memungkinkan, sekolah lain juga bisa menerapkan, tentu dengan beberapa penyesuaian," tandasnya.