TRIBUN-SULBAR.COM,MAMASA - Sebanyak 50 Kepala Keluarga (KK) di Dusun Pepana, Kelurahan Talippuki, Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa, melihat air bersih bukan lagi sekadar kebutuhan, melainkan perjuangan panjang yang harus dijalani setiap hari.
Mereka yang mendiami kurang lebih 30 rumah di wilayah itu, hidup dalam keterbatasan akses air bersih.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga terpaksa berjalan sejauh kurang lebih 1,5 kilometer dengan jeriken di tangan, demi mendapatkan air yang jumlahnya pun sangat terbatas.
Baca juga: Menanti Figur Calon Wagub Sulbar Suraidah Tunggu Rapat Partai Pengusung: Semua Layak!
Baca juga: Kelelahan Antre BBM Emak-emak di Polman Pingsan
Perjalanan tersebut bukan hal mudah. Medan yang dilalui serta beban air yang dibawa membuat warga harus menguras tenaga setiap harinya. Namun, kondisi itu sudah menjadi rutinitas yang tak terelakkan.
Salah seorang warga, Rizal Kahfi, saat dikonfirmasi pada Kamis (2/4/2026), mengungkapkan kondisi yang mereka alami dengan nada lirih.
“Kami tiap hari jalan jauh ambil air. Kadang capek sekali, tapi mau bagaimana lagi, itu satu-satunya sumber yang ada,” ujarnya.
Ia menjelaskan, air yang diperoleh sering kali hanya cukup untuk kebutuhan dasar seperti memasak dan minum.
Warga harus benar-benar berhemat karena jumlahnya tidak mencukupi.
“Kalau musim hujan, kami biasanya menadah air hujan. Ada air, tapi tetap tidak pernah cukup untuk semua kebutuhan,” jelasnya.
Kondisi semakin sulit saat musim kemarau tiba. Sumber air yang biasa digunakan mengering, membuat warga harus berjuang lebih keras, bahkan terkadang tidak mendapatkan air sama sekali.
“Kalau musim kemarau, lebih parah lagi. Kadang kami tidak dapat air sama sekali,” tambah Rizal.
Di tengah keterbatasan tersebut, warga Pepana tetap menyimpan harapan.
Mereka berharap adanya perhatian dan tindakan nyata dari pemerintah untuk menghadirkan akses air bersih yang layak.
Menurut Rizal, masyarakat tidak lagi membutuhkan janji, melainkan solusi yang bisa langsung dirasakan.
“Kami hanya butuh air bersih. Itu saja. Semoga pemerintah bisa lihat kondisi kami di sini,” tuturnya.
Meski harus menempuh jarak jauh dan menghadapi keterbatasan setiap hari, warga Pepana tetap bertahan.
Mereka menggantungkan harapan, bahwa suatu saat nanti perjuangan panjang demi setetes air tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan mereka sehari-hari.(*)
Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com Taufan