SURYA.CO.ID - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, mendukung pasukan TNI tetap menjalankan misi perdamaian di Lebanon, meski tiga prajurit gugur karena serangan Israel.
Jusuf Kalla menilai, peristiwa tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk menarik TNI dari misi penjaga perdamaian dunia.
"Negara, TNI, tidak seperti itu. Bahwa kalau ada korban yang tewas, langsung mundur, oh bukan itu saya kira jiwa TNI dan jiwa pemerintah," kata Kalla, dikutip SURYA.CO.ID dari siaran Kompas TV.
"Tetap ada di situ, memang ada risikonya, tetapi tetap harus mengurusnya seperti itu."
Dia mengakui keterlibatan TNI dalam pasukan penjaga perdamaian PBB tersebut berisiko.
Namun, ia menegaskan Indonesia bukan "negara penakut" dan tetap mampu menjalankan tugas.
"Kita juga di sini ada risikonya, jadi jangan karena risiko seperti itu langsung kita menarik, nanti dunia menganggap kita penakut," kata Kalla.
Baca juga: Alasan Mabes TNI Tetap Kirim 756 Prajurit ke Lebanon Meski 3 Personil Gugur Akibat Serangan Israel
"Tidak. Indonesia bukan negara penakut. Apalagi Pak Prabowo presidennya."
Lebih lanjut, Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) tersebut menilai peristiwa gugurnya tiga anggota TNI di Lebanon tidak terkait dengan Board of Peace (BoP) bentukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, di mana Indonesia bersama Israel menjadi anggota.
Jusuf Kalla menyatakan, sebelum BoP dibentuk, Israel telah berulang kali bertindak sewenang-wenang seperti dalam genosida di Gaza.
Sementara Mabes TNI memutuskan tetap mengirim 756 prajurit baru ke Lebanon untuk misi perdamaian PBB pasca tiga personil gugur akibat serangan Israel.
Keputusan ini mengakhiri pro kontra tentang perlu tidaknya penarikan pasukan dari Lebanan setelah 3 personil TNI gugur.
Jumlah personil yang akan dikirim sebantak 756 prajurit sesuai kuota yang diminta oleh Markas Besar PBB.
“Yang akan berangkat ke sana nanti sebanyak 756 personel sesuai dengan kuota yang diminta,” ujar Komandan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian TNI, Mayjen TNI Iwan Bambang Setiawan di Cimahi, Jawa Barat, Rabu (2/4/2026).
Penarikan dan penggantian pasukan itu rencananya akan dilakukan pada 22 Mei 2026.
"Tanggal 22 Mei ini rencana rotasi akan segera dilaksanakan sesuai dengan waktu penugasan satu tahun di daerah misi. Satu tahun lebih mereka berada di sana," kata Iwan.
Jumlah pasukan yang akan ditarik kini berkurang tiga orang setelah tiga personel dilaporkan gugur saat bertugas di Lebanon pada Maret 2026.
Mereka adalah Prajurit Kepala Farizal Rhomadhon, Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, dan Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar.
Farizal meninggal akibat serangan artileri tidak langsung di dekat Adchit Al Qusayr, Lebanon selatan, Minggu (29/3/2026).
Sementara Nur Ichwan dan Zulmi meninggal akibat ledakan kendaraan di dekat Bani Haiyyan, Senin (30/3/2026).
Iwan berharap, semua personel yang masih berada di Lebanon dapat menyelesaikan misi dengan baik dan kembali ke Indonesia dengan selamat.
“Kita itu kemarin mengirimkan 756 personel, jadi masih ada 753 di sana yang akan kembali semuanya dalam keadaan selamat insya Allah,” kata dia.
Disinggung terkait banyaknya desakan mundur, Iwan menegaskan bahwa pengiriman pasukan merupakan bagian dari rotasi rutin pasukan perdamaian dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) yang sudah dijadwalkan pada 22 Mei 2026.
"Kita enggak bisa melihat itu diukur dengan kepentingan negara lain ya. Kalau Malaysia punya hitung-hitungan sendiri, ya itu kita serahkan kepada pemerintah Malaysia," ucap Iwan.
===
Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam Whatsapp Channel Harian Surya. Melalui Channel Whatsapp ini, Harian Surya akan mengirimkan rekomendasi bacaan menarik Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Persebaya dari seluruh daerah di Jawa Timur.
Klik di sini untuk untuk bergabung