Rupiah Makin Anjlok, Diramal Sentuh Level Rp17.120 per Dolar AS
Seno Tri Sulistiyono April 02, 2026 06:20 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Kamis (2/4/2026) kembali melemah tembus level Rp17.000.

Tercatat, rupiah ditutup melemah 19 poin ke posisi Rp17.002 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp16.983 per dolar AS. 

Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi menyampaikan, pelemahan rupiah masih disebabkan konflik di Timur Tengah, di mana Presiden Donald Trump mengatakan Amerika Serikat akan terus menyerang Iran.

Baca juga: Rupiah Tembus Rp 17.000, Industri Didorong Manfaatkan Peluang Ekspor

"Termasuk target energi dan minyak selama beberapa minggu ke depan, tetapi tidak memberikan komitmen pada jangka waktu spesifik untuk mengakhiri perang," papar Ibrahim.

Diketahui, Trump mengatakan dalam pidato yang disiarkan televisi, militer AS hampir menyelesaikan tujuannya dalam perang melawan Iran, dan konflik akan segera berakhir, tetapi tidak memberikan jangka waktu spesifik.

"Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras selama dua hingga tiga minggu ke depan. Kita akan membawa mereka kembali ke Zaman Batu tempat mereka seharusnya berada," kata Trump. 

Ibrahim menyebut, pernyataan tersebut menandai pembalikan dari komentar sebelumnya minggu ini, ketika Trump mengatakan AS dapat meninggalkan Iran dalam jangka waktu yang sama, bahkan tanpa perjanjian formal.

Faktor Internal

Ibramin menyampaikan, Pemerintah telah memperkirakan defisit APBN melebar dari target seiring dengan pembengkakan belanja subsidi akibat kenaikan harga minyak dunia yang dipicu perang Timur Tengah. 

Setiap kenaikan harga minyak 1 dolar AS per barel akan menambah Rp6 triliun terhadap defisit, yang sebelumnya ditargetkan Rp689,1 triliun atau 2,68 persen terhadap PDB. Kendati yakin tetap berada di bawah batas 3%.

Defisit APBN bisa melebar ke 2,9% terhadap PDB. Khususnya, apabila harga minyak berada di level 100 dolar AS secara konsisten sepanjang tahun. Namun, pemerintah masih memiliki ruang fiskal. 

Salah satu alasannya karena harga minyak dunia pun masih berfluktuasi. Pemerintah menargetkan defisit APBN 2026 sebesar 2,68% terhadap PDB salah satunya dengan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) di level 70 dolar AS per barel.

"Pelebaran defisit ini tidak lepas dari bengkaknya belanja subsidi. Apalagi, APBN akan tetap menjadi peredam kejut (shock absorber) kenaikan harga minyak usai pemerintah tak menaikkan harga BBM, sehingga anggaran subsidi energi berpotensi bengkak hingga sebesar Rp100 triliun untuk meredam kenaikan harga minyak," tuturnya.

Masih banyaknya sentimen negatif, Ibrahim memperkirakan rupiah pada pekan depan masih akan melemah.

"Senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah direntang Rp16.980 sampai Rp17.120 per dolar AS," tuturnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.