Ribuan Petani Tebu Blora Demo di Alun-alun, Tuntut Bulog Soal Operasional Pabrik Gula GMM
khoirul muzaki April 02, 2026 07:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, BLORA – Ribuan petani tebu menggelar aksi damai di Alun-alun Kabupaten Blora, Kamis (2/4/2026). 


Mereka menuntut kepastian operasional Pabrik Gula Gendhis Multi Manis (PG GMM) yang hingga kini belum juga kembali beroperasi.


Pabrik Gula GMM tidak beroperasi sejak 2025, lantaran mesin boiler rusak.


Aksi yang digerakkan oleh Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora itu diikuti sekitar 2.000 peserta massa aksi yang berasal dari petani tebu di Blora.


Massa datang menggunakan ratusan truk. Di masing-masing truk tampak ada sejumlah tanaman tebu yang dipasang di bak truk. Kemudian ada yang membawa bendera merah putih.


Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) APTRI Blora, Sunoto, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk penagihan janji kepada pemerintah, khususnya Direktur Utama Bulog dan Presiden Prabowo Subianto.


Diketahui PT Gendhis Multi Manis (PT GMM) merupakan anak perusahaan Perum BULOG.


"Kami ingin menagih janji. Yang bisa menjawab ini hanya Pak Dirut Bulog dan Pak Presiden," tegasnya saat ditemui usai aksi.


Lebih lanjut, Sunoto menyebut, terdapat sekitar 193 truk yang berpartisipasi dalam massa aksi ini, dengan jumlah peserta massa aksi sekitar 2.000 an orang.


Dalam aksi tersebut, petani menyampaikan tiga tuntutan utama. Pertama, mendesak perbaikan dan renovasi mesin-mesin Pabrik Gula GMM yang rusak agar dapat kembali beroperasi pada musim giling 2026. 


Kedua, meminta pergantian manajemen pabrik dengan tenaga profesional. 


Ketiga, jika Bulog tidak mampu mengoperasikan pabrik, maka pengelolaan diminta diserahkan kepada pihak yang lebih kompeten.


Sunoto menegaskan, petani tebu memberi batas waktu hingga 10 April 2026 untuk mendapatkan jawaban. 


"Kalau tidak ada jawaban positif sampai 10 April, kemungkinan besar kami petani akan bergerak lagi, bisa aksi ke Jakarta," tegasnya.


Dampak Pabrik Gula GMM Tidak Beroperasi Bagi Petani Tebu


Sunoto menyampaikan dampak besar dari mandeknya operasional PG GMM terhadap petani. 


Sunoto mengatakan saat mesin boiler pabrik gula GMM rusak tahun 2025 kemarin, ada ribuan hektare tebu yang belum terserap.


"Kemarin waktu (mesin boiler) rusak itu, masih 5.000 hektar yang belum tersentuh. Untuk kerugian petani sekitar Rp 100 miliar," 


"Kalau tahun ini tidak giling lagi, kerugian akan semakin besar. Padahal kondisi tebu petani sekarang sudah siap tebang,” jelasnya.


Sebagai langkah darurat, petani mulai mencari alternatif pabrik gula lain di luar daerah, seperti di Ngawi dan Trangkil, Pati, agar hasil panen tetap terserap.


Meski demikian, Sunoto menegaskan keberadaan PG GMM sangat penting bagi kesejahteraan masyarakat Blora. 

Baca juga: Wali Kota Pekalongan tak Sepakat WFH untuk ASN : Keenakan Gaji Utuh


Pihaknya menyebut pabrik tersebut sejak awal dibangun sebagai penopang ekonomi masyarakat lokal.


"PG ini didirikan untuk kesejahteraan masyarakat Blora. Kalau terbengkalai, berarti kita tidak bisa menjaga amanah para pendahulu,” terangnya.


Secara simbolis, Sunoto menyerahkan beberapa tuntutan petani tebu Blora ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora, yang dalam hal ini diterima langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Blora, Komang Gede Irawadi.


Komang menegaskan bakal meneruskan beberapa tuntutan yang dibawa oleh petani tebu Blora tersebut ke pemerintah pusat.


"Semoga ini jadi perhatian dari pemerintah pusat. Sehingga masyarakat di Blora ini terkait dengan petani tebu ini, dapat lebih sejahtera. Dan tebu bisa terserap dengan baik," 


"Kita memiliki pabrik gula yang menjadi ikon Blora ini, semoga bisa segera beroperasi, dan masyarakat sejahtera," paparnya.


Komang sempat menemui massa aksi, sebelum akhirnya massa aksi membubarkan diri. Aksi tersebut berlangsung selama dua jam, mulai pukul 10.00 WIB, hingga pukul 12.00 WIB.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.