Melestarikan Bahasa Pakpak Melalui Cerita Anak Dwibahasa
AbdiTumanggor April 02, 2026 11:27 PM

TRIBUN-MEDAN.COM - Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara, Dr. Asrif, M.Hum, menegaskan pentingnya kebanggaan masyarakat Pakpak terhadap bahasa mereka sendiri.

Menurutnya, bahasa adalah identitas utama suatu suku. 

“Sebagai insan Pakpak, harus bangga berbahasa Pakpak, harus selalu membudayakan bahasa Pakpak. Kalau bahasa sudah hilang, Pakpak itu sendiri sudah hilang,” ucap Asrif.

Pernyataan tersebut disampaikan saat Asrif hadir sebagai narasumber dalam Bimbingan Teknis Penulisan dan Penerjemahan Cerita Anak Dwibahasa Jenjang Pembaca Awal, yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pakpak Bharat, sejak 31 Maret-2 April 2026.

Bimbingan Teknis Cerita Anak Dwibahasa
Bimbingan Teknis Penulisan dan Penerjemahan Cerita Anak Dwibahasa Jenjang Pembaca Awal, yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pakpak Bharat, 31 Maret-2 April 2026.

Bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga simbol kebudayaan dan jati diri. Dengan membudayakan bahasa Pakpak, masyarakat tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga menempatkan bahasa mereka sejajar dengan bahasa daerah lain di Sumatera Utara seperti Toba, Karo, Nias, dan Angkola.

Asrif menekankan bahwa kebanggaan berbahasa daerah harus ditanamkan sejak dini.

Anak-anak perlu dikenalkan pada bahasa Pakpak melalui berbagai media, salah satunya cerita anak.

Dengan begitu, bahasa tidak hanya dipelajari, tetapi juga dihayati dalam kehidupan sehari-hari.

Bimbingan Teknis Penulisan Jenjang Pembaca Awal
Bimbingan Teknis Penulisan dan Penerjemahan Cerita Anak Dwibahasa Jenjang Pembaca Awal, yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pakpak Bharat, 31 Maret-2 April 2026.

Cerita Anak Dwibahasa: Strategi Pelestarian

Kegiatan bimbingan teknis ini bertujuan meningkatkan keterampilan peserta dalam menulis dan menerjemahkan cerita anak menggunakan bahasa daerah dan bahasa Indonesia.

Cerita anak dwibahasa menjadi sarana efektif untuk:

- Mewariskan nilai budaya: Cerita yang ditulis dalam bahasa Pakpak akan memperkenalkan tradisi dan kearifan lokal kepada generasi muda.

- Meningkatkan literasi: Anak-anak belajar membaca dalam dua bahasa sekaligus, memperkuat kemampuan berbahasa Indonesia tanpa meninggalkan bahasa daerah.

- Membangun kebanggaan etnis: Dengan membaca dan menulis dalam bahasa Pakpak, anak-anak akan merasa lebih dekat dengan identitas budaya mereka.

Bimbingan Teknis Penulisan Cerita Anak Dwibahasa
Bimbingan Teknis Penulisan dan Penerjemahan Cerita Anak Dwibahasa Jenjang Pembaca Awal, yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pakpak Bharat, 31 Maret-2 April 2026.

Peran Komunitas dan Pendidikan

Pelestarian bahasa daerah tidak bisa hanya mengandalkan sekolah formal.

Keluarga dan komunitas memiliki peran besar dalam membudayakan bahasa Pakpak.

Bahasa harus digunakan dalam percakapan sehari-hari, dalam kegiatan adat, maupun dalam karya sastra sederhana seperti cerita anak.

Dengan adanya program seperti bimbingan teknis ini, diharapkan semakin banyak penulis lokal yang mampu menghasilkan karya dwibahasa.

Karya-karya tersebut tidak hanya memperkaya literatur anak, tetapi juga menjadi media pelestarian bahasa Pakpak yang berharga.

Dengan upaya melestarikan bahasa Pakpak melalui cerita anak dwibahasa merupakan langkah nyata untuk memastikan bahasa ini tetap hidup dan berkembang. 

Oleh karena itu, kebanggaan berbahasa Pakpak harus terus ditumbuhkan agar generasi mendatang tetap mengenal dan mencintai bahasa leluhur mereka.

(*/Tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.