Rudal Antitank Pejuang Hizbullah Jadi Ancaman Mematikan, Korban Tentara Zionis Terus Berjatuhan
Ansari Hasyim April 03, 2026 01:03 AM

 

SERAMBINEWS.COM – Situasi di Lebanon selatan kian memanas. Laporan media Israel mengungkap meningkatnya tekanan yang dihadapi pasukan Israel di garis depan, dengan korban terus berjatuhan akibat serangan intens dari kelompok Hizbullah.

Media Israel, termasuk Kanal 14, menyoroti kerentanan pasukan yang beroperasi di wilayah tersebut.

Pergerakan yang terus-menerus di medan terbuka disebut membuat tentara Israel mudah terdeteksi dan menjadi sasaran empuk serangan.

Hizbullah dilaporkan memanfaatkan kondisi geografis Lebanon selatan untuk melancarkan serangan efektif.

Pejuang Hizbullah saat berlatih simulasi operasi penangkapan. - Konflik panas terjadi di Lebanon Selatan. Seorang perwira Israel dan dua tentara terluka parah setelah buldoser D-9 menabrak ranjau darat Hizbullah.
Pejuang Hizbullah saat berlatih simulasi operasi penangkapan. - Konflik panas terjadi di Lebanon Selatan. Seorang perwira Israel dan dua tentara terluka parah setelah buldoser D-9 menabrak ranjau darat Hizbullah. (Dok. Al Mayadeen)

 

Mereka mengombinasikan berbagai senjata, mulai dari artileri, roket, drone tempur, hingga rudal anti-tank yang disebut paling mematikan.

Rudal anti-tank menjadi momok utama.

Selain memiliki tingkat akurasi tinggi, posisi peluncurnya sulit dideteksi, sehingga menyulitkan pasukan Israel dalam merespons serangan secara cepat.

Baca juga: AS-Israel Bombardir Iran Besar-besaran, Targetkan Jembatan, Pabrik dan Pusat Medis Berusia Seabad

Dalam 24 jam terakhir saja, setidaknya tiga insiden besar terjadi dan menyebabkan sejumlah tentara Israel terluka, beberapa di antaranya dalam kondisi serius.

Kritik pun muncul dari internal Israel. Seorang mantan pejabat Shin Bet menilai ada kelemahan dalam manajemen tempur di front Lebanon, meski didukung teknologi militer canggih.

Media lain bahkan menggambarkan kondisi pasukan Israel “seperti bebek dalam jarak tembak” akibat tingginya intensitas serangan yang masuk.

Kekhawatiran juga datang dari Kanal 12 yang mengingatkan risiko keterlibatan berkepanjangan di Lebanon, mengacu pada pengalaman pahit konflik masa lalu yang dinilai sebagai “rawa” bagi militer Israel.

Di lapangan, korban terus bertambah. Seorang sersan dari Batalyon 9 Brigade 401 dilaporkan tewas setelah tank yang dikendarainya dihantam rudal anti-tank.

Serangan lanjutan bahkan terjadi saat proses evakuasi, menyebabkan lima tentara lainnya terluka.

Tak hanya militer, korban sipil juga meningkat. Kementerian Kesehatan Israel mencatat 142 orang dirawat di rumah sakit dalam 24 jam, dengan rincian dua kritis, 18 luka sedang, dan sisanya luka ringan.

Angka korban terus melonjak.

Dalam laporan terbaru, total korban luka yang dirawat sejak konflik meluas ke Iran dan Lebanon mencapai 5.772 orang. Sementara sejak 7 Oktober 2023, jumlah keseluruhan korban luka telah menembus 81.184 kasus.

Lonjakan ini terjadi seiring meningkatnya serangan dari Iran dan Hizbullah, yang disebut sebagai respons atas operasi militer Israel di Gaza dan Lebanon.

Di tengah tekanan tersebut, Kepala Staf Israel, Eyal Zamir, memperingatkan krisis serius di tubuh militer. Ia menilai tentara Israel berisiko “runtuh” jika kekurangan personel tidak segera diatasi.

Dengan operasi militer yang terus meluas mulai dari Gaza hingga Lebanon selatan beban pasukan semakin berat, sementara jumlah personel justru menurun.

Rencana mobilisasi besar-besaran pasukan cadangan pun mulai disiapkan.

Konflik yang kian melebar ini menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi lebih luas di kawasan, dengan Lebanon selatan kembali menjadi salah satu titik paling berbahaya di Timur Tengah saat ini.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.