TRIBUNJATENG.COM, BLORA — Aksi demonstrasi petani tebu di Alun-alun Kabupaten Blora sempat memanas dan nyaris ricuh, Kamis (2/4/2026).
Peserta massa aksi sempat terlibat dorong-dorongan, hingga lempar botol antara massa aksi dengan aparat kepolisian yang berjaga di lokasi.
Namun hal itu, berlangsung tidak lama dan berhasil diredam oleh pihak kepolisian.
Kapolres Blora, AKBP Wawan Andi Susanto, mengatakan bahwa insiden tersebut dipicu oleh tingginya semangat massa dalam menyampaikan tuntutan.
Baca juga: Pati Masuk Tiga Besar KLB Campak di Jateng, DPRD Panggil Dinas Kesehatan
Baca juga: Mora Sandhy Dicari Anggota Koperasi BMJ Kendal, Tabungan Lebaran Tak Kunjung Cair
"Ya aksi dorong-dorongan tadi itu massa terlalu bersemangat lah ya."
"(Penyebabnya apa?) Jadi enggak ada penyebab, namanya situasi panas, cuaca juga panas, terus mungkin para petani juga ingin menyampaikan aspirasi nya. Tapi semua bisa kita kendalikan dan aman kondusif," jelasnya, saat ditemui usai aksi.
Lebih lanjut, AKBP Wawan menyampaikan bahwa secara umum aksi yang dilakukan oleh petani tebu di Blora berjalan damai dan kondusif.
"Alhamdulillah berjalan dengan lancar, kondusif, tuntutan aspirasi dari masyarakat petani tebu itu juga sudah tersampaikan."
"Tinggal menunggu dari Bulog atau pemerintah pusat, terkait tindaklanjutnya," paparnya.
Sebagai informasi, demo itu dilakukan, mendesak agar BULOG segera merealisasikan janji untuk membenahi Pabrik Gula Gendhis Multi Manis (GMM) serta mengoperasionalkannya kembali pada musim giling 2026.
Pasalnya, Pabrik Gula GMM sudah beberapa bulan tutup giling, dikarenakan mesin boiler di pabrik Gula GMM rusak. Sehingga tidak bisa giling, dan tebu milik petani tidak terserap.(Iqs)