Semana Santa Larantuka: Dulu Orang Memegang Lilin, Sekarang yang Bercahaya HP Semua
Gordy Donovan April 03, 2026 07:47 AM

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Cristin Adal

TRIBUNFLORES.COM, LARANTUKA – Ribuan peziarah dari berbagai daerah serta umat Katolik Paroki Katedral memenuhi Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka, Flores Timur, NTT, untuk merayakan Misa Kamis Putih pada Kamis (2/4/2026) malam.

Ibadah ini dilaksanakan setelah umat mengikuti prosesi Cium Tuan Ma dan Tuan Ana di kapel masing-masing.

Misa yang dihadiri para imam konselebran ini menjadi bagian dari rangkaian tradisi Pekan Suci atau Semana Santa.

Dalam khotbahnya, Romo Gius Lolan menekankan pentingnya membangun solidaritas ekonomi yang dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga.

Baca juga: Teks Misa Hari Ini Jumat Agung 3 April 2026, Yesus Wafat Disalib

Koreksi terhadap Penggunaan Gawai

Romo Gius menyoroti perubahan perilaku umat dan peziarah dalam mengikuti prosesi keagamaan. Ia mencermati bahwa saat ini penggunaan ponsel (HP) untuk mendokumentasikan kegiatan sering kali lebih dominan dibandingkan fokus pada ibadah itu sendiri.

“Dulu orang memegang lilin, sekarang yang bercahaya adalah HP. Cahayanya sudah berganti; tidak ada lagi lilin, yang ada ialah HP yang bercahaya,” ujar Romo Gius.

Menurutnya, fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran fokus yang dapat mengurangi nilai kebersamaan batin dalam ibadah. Ia membandingkan hal tersebut dengan sosok Yudas Iskariot yang meninggalkan persekutuan demi urusan materi, yang kemudian berujung pada kegelapan moral.

Ekonomi dan Moralitas

Terkait tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) Keuskupan Larantuka tentang solidaritas ekonomi, Romo Gius mengingatkan bahwa pengelolaan ekonomi harus dilandasi oleh moralitas.

Ia menegaskan bahwa urusan mencari nafkah tidak boleh menjadi alasan bagi seseorang untuk meninggalkan komunitas atau nilai-nilai spiritual. Kebersamaan dengan Tuhan dan komunitas religius dianggap sebagai dasar bagi umat untuk mengatur ekonomi rumah tangga dengan benar.

Mengembalikan Tradisi Makan Bersama

Sebagai langkah praktis, Romo Gius mengajak keluarga untuk menghidupkan kembali tradisi makan bersama di meja makan. Ia mengamati bahwa pola hidup modern telah membuat banyak anggota keluarga makan secara mandiri sambil menggunakan gawai sehingga komunikasi antaranggota keluarga terputus.

“Kembalikan meja makan di rumah. Merayakan Kamis Putih berarti kita mengembalikan fungsi meja makan yang sudah tidak digunakan sebagaimana mestinya. Dari makan bersama, kita bisa merencanakan ekonomi dan hal-hal terbaik untuk keluarga,” tambahnya.

Romo Gius menutup khotbahnya dengan pesan agar umat mampu menerapkan nilai-nilai Ekaristi, seperti berbagi dan berkorban, dalam kehidupan sehari-hari, baik di pasar maupun di lingkungan sosial lainnya.

Kesaksian Peziarah dari Pulau Jawa

Antusiasme peziarah terlihat dari penuhnya area dalam hingga halaman gereja. Di antara ribuan orang tersebut hadir Theresia, seorang peziarah asal Pulau Jawa yang baru pertama kali mengikuti rangkaian Semana Santa di Larantuka.

Ia datang bersama rombongan dari Surabaya untuk merasakan langsung atmosfer spiritual di Kota Reinha Rosari. Bagi Theresia, mengikuti Misa Kamis Putih di Katedral Larantuka memberikan kesan mendalam yang berbeda dari perayaan di daerah asalnya.

“Ini pengalaman pertama saya mengikuti Semana Santa dan Misa Kamis Putih di sini. Suasananya sangat sakral, terutama saat mengikuti prosesi Cium Tuan. Benar-benar terasa kekuatan tradisi dan kekeluargaannya,” ujar Theresia di pelataran gereja.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.