Miris! Jembatan Ulee Peusangan Selatan Bireuen Masih Ambruk Dihantam Banjir, Warga Antre Naik Ketek
Nur Nihayati April 03, 2026 09:03 AM

Boat ketek menjadi sarana utama bagi mereka setiap hari, namun jika air sungai naik, boat tidak berani bergerak dan masyarakat terpaksa bersabar. 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Yusmandin Idris I Bireuen

SERAMBINEWS.COM, BIREUEN – Musibah banjir melanda Aceh akhir November 2025 lalu masih menyisakan kepedihan bagi mereka yang merasakan.

Selain itu juga infrastuktur rusak masih terjadi sehingga mengakibatkan masyarakat tidak nyaman.

Seperti halnya di di Peusangan Selatan, Bireuen. Jembatan Ulee Jalan masih ambruk belum diperbaiki sehingga masyarakat harus naik boat ketek.

Sejak jembatan Ulee Jalan, Kecamatan Peusangan Selatan, Bireuen putus dihantam banjir, ratusan masyarakat, pelajar, guru maupun PNS dan berbagai kalangan lainnya terpaksa menggunakan boat ketek untuk ke sekolah maupun aktivitas lainnya.

Boat ketek menjadi sarana utama bagi mereka setiap hari, namun jika air sungai naik, boat tidak berani bergerak dan masyarakat terpaksa bersabar. 

Suheri, guru SMPN 2 Peusangan Selatan kepada Serambinews.com, Kamis (2/4/2026) mengatakan, ia setiap hari dari Kutablang ke Tanjong Beuridi lokasi tempat bertugas.

Setiap hari para guru maupun siswa yang bertempat tinggal di sebelah utara jembatan tersebut, bahkan ada yang menetap di Bireuen ke sekolah menggunakan boat ketek.

“Ya beginilah kami setiap hari naik boat ke sekolah,” ujar Suheri sekitar pukul 07.30 WIB, Kamis (2/4/2026) saat menunggu boat untuk ditumpangi dari arah Ulee Jalan ke Suak.

Suheri mengatakan, para guru dan berbagai kalangan lainnya berharap dari Ulee Jalan maupun Suak segera dibangun jembatan permanen. 

“Banyak guru, masyarakat, para siswa dari dua arah susah, susah karena harus naik boat setiap hari. Kami berharap segera dibangun jembatan permanen,” ujarnya.

Menjawab Serambinews.com ketika boat tidak beroperasi seperti Rabu (1/4/2026) pagi, Suheri mengatakan, ianya bersama para guru lainnya dari Peusangan terpaksa menempuh jalan melalui jembatan Awe Geutah Paya ke Tanjong Beuridi dan menghabiskan waktu sekitar 30 menit lebih dari Kutablang ke sekolah. 

“Setiap hari kami, masyarakat maupun pelajar harus naik rakit, ya beginilah kondisinya,” ujarnya.  

Beberapa guru lainnya mengatakan, percepatan pembangunan jembatan permanen adalah kebutuhan mendesak.

Tanpa jembatan, aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga kesehatan masyarakat terus terhambat. 

Para santri, pedagang, dan warga biasa sama-sama merasakan dampak berat.

Baca juga: Kisah Hidup dr Minar, dari Dokter PTT hingga Jadi Direktur RSUD Bireuen

Masyarakat berharap pemerintah daerah, BNPB, hingga pemerintah pusat segera turun tangan.  

Jembatan bukan sekadar infrastruktur, melainkan urat nadi kehidupan.  

“Dengan adanya jembatan, semua aktivitas akan kembali lancar. Kami mohon perhatian serius agar pembangunan segera dilakukan,”ujar Ramzi seorang warga lainnya. 

Kini, rakit masih menjadi penyelamat sementara.  

Namun, bagi warga Peusangan Selatan, harapan terbesar adalah melihat jembatan baja kembali berdiri kokoh,
menghubungkan desa-desa, dan menghapus rasa lelah serta biaya yang menguras kantong setiap hari. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.