TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, secara resmi melepas 1.000 Pekerja Migran Indonesia (PMI) sektor hospitality yang akan bertolak ke Bulgaria dari kawasan Sanur, Denpasar, Bali pada Kamis, 2 April 2026.
Pelepasan ini merupakan bagian dari target besar penempatan sebanyak 2.300 tenaga kerja ke negara tersebut guna mengisi peluang kerja internasional yang aman dan legal.
Ketua Panitia Penyelenggara, I Dewa Gede Mahendradata, menjelaskan bahwa program ini adalah langkah strategis untuk memperluas akses kerja global bagi putra-putri terbaik bangsa.
Baca juga: TRAGEDI di Moskow Rusia, PMI Asal Buleleng Tewas, Diduga Keracunan Asap Kebakaran Sauna!
Hingga saat ini, progres administrasi menunjukkan angka yang signifikan dengan total work permit yang telah terbit mencapai 1.940 kandidat.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.239 kandidat telah mengantongi visa kerja tipe Bulgaria, sementara 570 lainnya sedang menunggu proses rilis visa di Kedutaan Bulgaria di Jakarta.
Dewa Mahendradata merinci bahwa terdapat 131 kandidat dalam status pending dan 60 orang masih menunggu penerbitan asuransi dari pihak Bulgaria, sementara 40 orang dinyatakan mengundurkan diri dengan alasan yang dapat diterima.
Baca juga: Dampak Perang Amerika-Israel vs Iran, Disnaker Buleleng Intensif Pantau PMI di Timur Tengah
Ia juga melaporkan masih ada 360 kandidat yang menunggu kelengkapan dokumen dari pihak hotel di Bulgaria.
Terkait kesiapan mental dan regulasi, sebanyak 478 PMI telah menyelesaikan proses Orientasi Pra Pemberangkatan (OPP), sedangkan 761 calon PMI lainnya masih menunggu penjadwalan.
"Kami menitipkan harapan besar agar para kandidat dapat bekerja dengan profesional, menjaga nama baik Indonesia, serta menunjukkan kualitas dan daya saing di tingkat internasional," ujar Dewa Mahendradata saat membacakan laporannya.
Baca juga: Disnaker Denpasar Pantau PMI di Timur Tengah, Imbau CPMI Pertimbangkan Keberangkatan ke Daerah Rawan
"Jadikan kesempatan ini sebagai langkah untuk menambah pengalaman global serta meningkatkan kesejahteraan keluarga," imbuhnya.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Provinsi Bali, Ir. Ida Bagus Setiawan, menyoroti urgensi pemberangkatan ini di tengah kondisi ekonomi daerah.
Meski tingkat pengangguran terbuka di Bali tercatat paling rendah secara nasional di angka 1,45 persen atau sekitar 39.250 orang, pengiriman tenaga kerja ke luar negeri dipandang sebagai solusi efektif untuk menekan angka kemiskinan yang saat ini berada di level 4 persen.
Menurutnya, minat masyarakat untuk bekerja di luar negeri sangat tinggi karena tawaran pendapatan atau take home pay yang lebih kompetitif dibandingkan dalam negeri.
Namun, ia juga mengingatkan tantangan terkait penempatan non-prosedural yang masih marak terjadi.
Ida Bagus Setiawan mendesak adanya percepatan kebijakan "Satu Data" untuk memudahkan mitigasi risiko dan pengawasan.
Ia menegaskan bahwa para pekerja ini bukan sekadar buruh, melainkan representasi bangsa.
"Saudara bukan hanya sebagai pekerja, namun saudara adalah wajah Bali dan Indonesia di mata internasional. Jaga integritas, attitude, dan tunjukkan kompetensi dengan disiplin serta kejujuran," tegasnya.
Pada kesempatan itu, Menteri P2MI, Mukhtarudin, dalam sambutannya menekankan bahwa transformasi kelembagaan dari Badan menjadi Kementerian merupakan bukti keseriusan Presiden dalam melindungi PMI secara menyeluruh, mulai dari sebelum keberangkatan hingga masa purna tugas.
Ia mengungkapkan betapa krusialnya peran PMI terhadap stabilitas ekonomi nasional melalui remitansi yang terus meroket.
Berdasarkan data Bank Indonesia, kontribusi remitansi pada tahun 2024 mencapai Rp 253 triliun dan melonjak 14 persen menjadi Rp 288 triliun pada tahun 2025.
Uang tersebut, menurut Mukhtarudin, mengalir langsung ke pelosok desa, menggerakkan ekonomi daerah, dan memperkuat cadangan devisa negara, sehingga gelar "Pahlawan Devisa" bukanlah sekadar isapan jempol.
Saat ini, pemerintah terus berfokus mengalihkan orientasi pengiriman ke sektor formal dan tenaga kerja ahli (skilled workers).
Sambil memberikan semangat kepada para kandidat yang telah menjalani pelatihan selama enam bulan hingga satu tahun, Mukhtarudin mengingatkan agar mereka tidak mudah menyerah saat menghadapi tantangan di luar negeri.
Ia meminta para PMI untuk tidak hanya bekerja, tetapi juga membangun jejaring agar kelak bisa mandiri saat kembali ke tanah air.
"Mayoritas dari Bali tapi ada daerah lain juga ada Jember, Medan dan lainnya," ujar Mukhtarudin
"Jangan hanya bekerja, tapi cari ilmu dan bangun jaringan. Bekerjalah dengan baik, taati aturan, jangan kabur, dan jangan baru dua bulan sudah minta pulang karena rindu kampung halaman. Lawan rasa jenuh itu demi masa depan kalian," pesan Menteri Mukhtarudin. (*)