TRIBUNTRENDS.COM - Ketegangan geopolitik di kawasan Asia Barat kini mulai merambat ke dapur-dapur industri dan kantong para pedagang kecil di Indonesia. Meluasnya konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat (AS), dan Iran tidak hanya memicu krisis kemanusiaan, tetapi juga melumpuhkan jalur distribusi bahan baku plastik dunia.
Asosiasi Industri Olefin Aromatik Plastik (Inaplas) melaporkan bahwa harga plastik di dalam negeri tengah meroket tajam. Pemicu utamanya adalah terhentinya suplai nafta produk turunan minyak bumi yang menjadi nyawa pembuatan plastik.
Sekretaris Jenderal Inaplas, Fajar Budiono, menjelaskan bahwa dominasi Asia Barat sangat krusial karena memasok 70 persen kebutuhan nafta global. Namun, blokade di Selat Hormuz membuat pengiriman terhenti total.
“Sekarang akibat perang kan terus yang pertama Selat Hormuz kan ketutup sehingga bahan baku berupa nafta yang 70 persen itu datangnya dari Middle East jadi tidak bisa terkirim ke para industri petrokimia,” kata Fajar saat dihubungi Kompas.com melalui telepon, Kamis (2/4/2026).
Situasi kian pelik lantaran infrastruktur energi di Arab Saudi dan negara-negara Teluk turut menjadi sasaran serangan. Kondisi ini memaksa industri plastik global, termasuk di Indonesia, menghadapi ketidakpastian yang mencekam.
“Dan ini tidak hanya di Indonesia hampir seluruh dunia,” ujar Fajar.
Baca juga: Bukan BBM, Harga Plastik Lebih Dulu Meroket Imbas Perang Iran, Pedagang Kecil Mulai Menjerit
Pasca-peristiwa 28 Februari saat pengeboman yang mengakibatkan gugurnya Ayatollah Ali Khamenei pelaku industri awalnya masih mencoba tenang. Pada minggu pertama, mereka sibuk mengatur strategi produksi dan mengecek ketersediaan stok (feedstock).
Namun, memasuki bulan Maret, benteng pertahanan harga akhirnya jebol. Kenaikan harga plastik mulai terasa signifikan dan terus merangkak naik hingga menjelang Idul Fitri. Fajar menyebutkan bahwa pola bisnis produk turunan plastik kini telah berubah total pasca-lebaran.
“Sekarang kejadian nih pas begitu kita mulai buka pasar orang-orang sudah mulai belanja sementara bahan baku yang selama ini dibeli itu sudah mulai berubah,” kata Fajar.
Saat ini, pabrik-pabrik plastik di tanah air terpaksa mengaktifkan survival mode atau mode bertahan hidup. Mereka hanya berproduksi pada level minimal demi menjaga napas bisnis agar tidak berhenti sepenuhnya.
“Jangan sampai nanti ke standby mode. Kalau standby mode itu sudah kita harus mesin hidup, tapi tidak jalan. Nah, kita masih di survival mode sekarang,” tutur Fajar.
Baca juga: Ada Penumpang yang Diberi Kursi Plastik di Bus Meski Sudah Bayar 420 Ribu, PO Murni Jaya Beri Reaksi
Demi menyambung produksi, para pengusaha kini tak lagi memprioritaskan harga murah. Prioritasnya adalah "ada barang." Mereka mulai melirik pasokan alternatif dari Asia Tengah, Afrika, hingga Amerika, meski harus menanggung biaya logistik yang mahal dan waktu pengiriman hingga 50 hari.
“Harga itu sekarang sudah nomor kesekian, yang penting ada barang (bahan baku) dulu sekarang,” kata Fajar.
Selain mencari sumber baru, industri juga mempertimbangkan penggunaan propana (komponen elpiji) atau kondensat sebagai substitusi. Namun, kendala regulasi berupa bea masuk masih membayangi.
“Nah, ini kita minta bantuan pemerintah agar dikaji lagi untuk propana atau elpiji ini bahan anu bea masuknya sebagai feedstock petrokimia bisa dilakukan kajian,” ungkap Fajar.
Baca juga: Beli Tiket Mahal, Pemudik Tujuan Banyumas Justru Duduk di Kursi Plastik Belakang Bus
Di tingkat hilir, kenaikan ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan beban nyata bagi pedagang. Gemi, seorang pedagang bumbu di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, mengeluhkan lonjakan harga plastik kemasan yang mencapai Rp 6.000 per pak.
Kenaikan ini otomatis menggerus margin keuntungan yang sudah tipis. Belanja modal membengkak, sementara harga jual bumbu sulit dinaikkan secara drastis.
“Ini biasa Rp 17 (000) jadi Rp 23 (000). Sama itu, sama semua pokoknya plastik per pack Rp 6.000,” kata Gemi, Sabtu (28/3/2026).
Kini, mata pelaku industri dan masyarakat tertuju pada kebijakan pemerintah. Tanpa intervensi di sektor hulu dan relaksasi bea masuk bahan baku alternatif, "mode bertahan" industri plastik dikhawatirkan akan berubah menjadi kelumpuhan total.