Kalender Jawa 3 April 2026 Weton Jumat Kliwon, Bertepatan dengan Jumat Agung
Rusaidah April 03, 2026 12:19 PM

POSBELITUNG.CO -- Dalam kalender Jawa, tanggal 3 April 2026 merupakan hari Jumat dengan weton Kliwon.

Tanggal 3 April 2026 juga bertepatan dengan Jumat Agung yakni hari libur nasional Wafat Yesus Kristus.

Jumlah neptu untuk hari ini sebesar 14 yang merupakan kombinasi dari Jumat 3 dan pasaran Kliwon 8.

Baca juga: Kalender Mei 2026, Ada 11 Hari Libur Termasuk Akhir Pekan, Download di Sini

Berdasarkan Primbon Jawa, orang dengan watak weton Jumat Kliwon pada wuku Watugunung dikenal memiliki perpaduan karakter yang unik.

Dengan neptu 14, mereka sering disebut membawa watak “Lakuning Rembulan”, yang menggambarkan ketenangan dan kemampuan mencairkan suasana.

Sosoknya mudah disukai karena cenderung lembut, ramah, dan punya aura yang menenangkan siapa saja di sekitarnya.

Mereka mudah membuka percakapan, enak diajak bekerja sama, dan jarang menolak permintaan orang lain.

Sifat baik hati dan murah senyum membuat mereka cepat diterima dalam lingkungan baru, baik di pertemanan maupun pekerjaan.

Baca juga: Biodata Karni Ilyas Jurnalis Senior Diperiksa Polisi soal Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Dulu Jual Koran

Hal ini menjadi modal kuat untuk membangun jaringan sosial yang luas.

3 April Diperingati Hari Apa?

Jumat, 3 April 2026 ditetapkan sebagai hari libur nasional dalam rangka peringatan wafatnya Yesus Kristus.

Hari tersebut merupakan momen penting bagi umat Kristiani untuk mengenang penyaliban dan wafatnya Yesus sebagai bagian dari rangkaian peristiwa Paskah.

Jumat Agung merupakan salah satu hari paling sakral dalam kalender umat Kristiani di seluruh dunia.

Hari ini tidak dirayakan dengan sukacita, melainkan diperingati dengan suasana hening dan reflektif karena mengenang peristiwa penyaliban dan wafatnya Yesus Kristus.

Di balik peringatan tersebut, Jumat Agung memiliki sejarah panjang yang tidak hanya berkaitan dengan peristiwa Alkitab, tetapi juga perkembangan tradisi liturgi yang berlangsung selama berabad-abad.

Jumat Agung berakar pada peristiwa penyaliban Yesus yang diyakini terjadi sekitar tahun 30 Masehi di bawah kekuasaan Kekaisaran Romawi.

Menurut catatan sejarah dan tradisi Kristen, Yesus ditangkap, diadili oleh gubernur Romawi Pontius Pilatus, lalu dijatuhi hukuman mati melalui penyaliban.

Penyaliban pada masa itu merupakan metode eksekusi yang digunakan Romawi untuk menghukum pemberontak, penjahat, dan orang yang dianggap mengancam kekuasaan.

Banyak sejarawan menilai bahwa Yesus dihukum bukan hanya karena ajaran keagamaannya, tetapi juga karena dianggap memiliki pengaruh politik yang berpotensi memicu perlawanan terhadap Romawi.

Peristiwa ini terjadi menjelang perayaan Paskah Yahudi, saat banyak orang berkumpul di Yerusalem, sehingga meningkatkan ketegangan politik dan sosial pada saat itu.

Dalam tradisi Kristen, Jumat Agung menjadi momen penting karena diyakini sebagai bagian dari rencana keselamatan manusia melalui pengorbanan Yesus di kayu salib.

Makna kata "agung" dalam Jumat Agung  

Meskipun memperingati kematian, istilah “Jumat Agung” tidak dimaksudkan sebagai sesuatu yang menyenangkan.

Kata “agung” dalam konteks ini memiliki makna “suci” atau “kudus”, bukan “baik” dalam arti umum.

Makna tersebut menekankan bahwa peristiwa penyaliban dipandang sebagai bagian penting dalam iman Kristen, karena diyakini membawa keselamatan bagi umat manusia.

Dengan demikian, Jumat Agung bukan sekadar hari berkabung, tetapi juga hari refleksi spiritual yang mendalam.

Awal Mula Tradisi Jumat Agung dalam Gereja  

Pada masa awal Kekristenan, Jumat sebelum Paskah belum langsung memiliki bentuk perayaan seperti sekarang.

Hari tersebut awalnya dipandang sebagai hari puasa dan persiapan menuju Paskah.

Salah satu catatan tertua berasal dari peziarah bernama Egeria pada abad ke-4, yang menggambarkan bagaimana umat Kristen di Yerusalem berkumpul untuk berdoa, mendengarkan pembacaan Kitab Suci, dan mengenang penderitaan Yesus.

Dalam praktik awal ini, pembacaan kisah sengsara menjadi bagian utama dari ibadah, menandai pentingnya peristiwa penyaliban dalam liturgi Kristen sejak awal.

Seiring waktu, tradisi ini menyebar ke wilayah Barat, termasuk Roma, meskipun dengan variasi dalam pelaksanaan.

(Posbelitung.co/Tribun-Medan.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.