TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Tekanan harga bahan pokok selama Ramadan 2026 hingga lebaran Idul Fitri 1447 Hijriah mendorong inflasi di Tarakan Kalimantan Utara kembali meningkat pada Maret 2026.
Setelah sempat mengalami inflasi pada Februari, tren kenaikan harga masih berlanjut dengan angka yang lebih tinggi.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Tarakan, Umar Riyadi mengungkapkan, inflasi Maret 2026 secara bulanan (month to month) tercatat sebesar 0,63 persen.
“Terjadinya inflasi ini bertepatan dengan momentum Ramadan 2026 dan lebaran di mana peningkatan permintaan pada sejumlah komoditas, khususnya bahan pangan,” ujar Umar Riyadi.
Baca juga: Inflasi Kabupaten Nunukan Maret 2026 Terkendali, Terendah di Kalimantan Utara
Ia menjelaskan, komoditas cabai rawit menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan andil mencapai 0,30 persen.
Selain itu, daging ayam ras dan angkutan udara juga memberikan kontribusi signifikan masing-masing sebesar 0,21 persen dan 0,19 persen.
Tak hanya itu, sejumlah komoditas lain seperti ikan bandeng, telur ayam ras, tomat, hingga bawang merah juga turut menyumbang kenaikan harga, meski dengan porsi yang lebih kecil.
Secara kumulatif, inflasi Tarakan sepanjang Januari hingga Maret 2026 tercatat sebesar 1,06 persen. Sementara secara tahunan (year on year), inflasi mencapai 3,81 persen.
Menurut Umar Riyadi, angka tersebut sudah mulai mendekati rentang target inflasi nasional sebesar 2,5 persen ±1 persen, terutama karena efek low base pada awal tahun mulai berkurang.
Baca juga: Launching MDC, Kepala KPwBI Kaltara Hasindo Ginsar Manik Sebut Inflasi di Tarakan Stabil
“Pada Januari dan Februari masih terasa dampak kebijakan diskon tarif listrik, namun di Maret efeknya sudah tidak sebesar sebelumnya, sehingga inflasi cenderung kembali ke kisaran normal,” jelasnya.
Dari sisi kelompok pengeluaran, inflasi Maret 2026 paling besar disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 0,54 persen. Disusul kelompok transportasi sebesar 0,16 persen, seiring meningkatnya mobilitas masyarakat saat mudik Lebaran.
Sementara itu, kelompok kesehatan serta rekreasi, olahraga, dan budaya juga turut menyumbang inflasi meski relatif kecil.
Di sisi lain, terdapat beberapa komoditas yang justru menahan laju inflasi atau mengalami deflasi. Penurunan harga emas perhiasan menjadi faktor utama yang memberikan andil deflasi sebesar 0,11 persen pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.
Selain emas, sejumlah komoditas sayuran seperti sawi hijau, kangkung, dan bayam, serta angkutan laut juga tercatat mengalami penurunan harga.
Jika dibandingkan dengan wilayah lain, inflasi Tarakan secara bulanan (0,63 persen) lebih tinggi dibandingkan inflasi Provinsi Kalimantan Utara yang sebesar 0,57 persen maupun nasional yang berada di angka 0,41 persen.
Namun secara tahunan, inflasi Tarakan sebesar 3,81 persen masih sejalan dengan tren nasional yang berada di level 3,48 persen.
Umar menambahkan, apabila pola inflasi pada sisa tahun 2026 mengikuti tren tahun sebelumnya, maka inflasi tahunan Tarakan berpotensi berada di kisaran 3,81 persen.
Ia pun menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk menjaga stabilitas harga, terutama pada komoditas pangan strategis.
“Kolaborasi dan pengendalian yang tepat sangat diperlukan agar inflasi tetap terkendali, khususnya di momen-momen hari besar keagamaan,” tukasnya.
(*)
Penulis: Andi Pausiah