Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Charles Abar
TRIBUNFLORES.COM, RUTENG – Pagi itu, langit Golo Langkok seakan ikut berdiam diri. Heningnya terasa berbeda, seolah alam pun larut dalam suasana duka yang sakral. Jumat, (3/04/2026), sejak pukul 08.00 WITA, ratusan umat Katolik mulai berbondong-bondong memadati halaman Rumah Gendang Beokina, Desa Golo Langkok, Rahong Utara, Manggarai, NTT.
Mereka datang dari berbagai stasi dan wilayah dalam naungan Paroki Santo Antonius Abas Beokina, Keuskupan Ruteng. Langkah-langkah mereka pelan, penuh hormat, membawa serta kerinduan untuk kembali menyelami kisah pengorbanan yang agung.
Di halaman Rumah Gendang Beokina, tepat di mezbah, altar adat yang sarat makna dalam budaya Manggarai, suasana mendadak berubah. Tempat itu seolah menjelma menjadi Taman Getsemani, tempat Yesus berdoa dalam kegelisahan terdalam sebelum Ia ditangkap. Hening yang tercipta bukan sekadar sunyi, melainkan ruang perjumpaan batin antara manusia dan Sang Penebus.
Eber Dagung, yang memerankan Yesus, tampil dengan penghayatan yang begitu dalam. Setiap gerak dan doa yang ia lakonkan seakan mengalir dari hati yang paling jujur. Pergumulannya bukan lagi sekadar peran, melainkan cerminan dari kegelisahan, harapan, dan penyerahan diri seluruh umat yang hadir. Banyak mata terpejam, beberapa lainnya basah oleh air mata, tersentuh oleh makna pengorbanan yang dihidupkan kembali di hadapan mereka.
Baca juga: Ibadat Paskah Jumat Agung di Labuan Bajo, Jalanan Sepi Tidak Dilalui Kendaraan
Prosesi Jalan Salib Hidup yang diperankan oleh Orang Muda Katolik (OMK) Santo Antonius Beokina menghadirkan semangat baru bagi umat. Setelah 10 tahun lamanya vakum, kisah sengsara itu kembali dihidupkan dengan totalitas yang menggetarkan hati. Tablo bertajuk “Darah Tak Bersalah 3” ini menjadi lebih dari sekadar pertunjukan, ia adalah pewartaan iman yang hidup.
Prosesi dimulai pukul 09.00 WITA, mengambil rute dari Rumah Gendang Beokina menuju Gereja Paroki. Jalur yang dilalui bukan tanpa tantangan, tanjakan Rangung yang terjal hingga berakhir di titik Golgota di depan Aula Paroki Beokina menjadi simbol perjalanan penderitaan Kristus.
Panas matahari tak menyurutkan langkah umat. Mereka tetap setia berjalan, merenung, dan memaknai setiap perhentian dengan hati yang terbuka.
Di setiap perhentian, umat larut dalam doa dan refleksi. Kisah sengsara bukan lagi sekadar cerita masa lalu, tetapi menjadi pengalaman iman yang personal, mengajak setiap orang untuk melihat kembali makna pengorbanan dan kasih yang tak bersyarat.
Peran Yesus dipercayakan kepada Eber Dagung, anggota OMK, yang tampil penuh totalitas, begitu juga peran yang lakon oleh anggota OMK yang lain.
Sementara itu, Pastor Paroki, Rm. Felin Sando, Pr, dalam pesannya mengingatkan umat akan kedalaman pengorbanan Yesus Kristus, sebuah panggilan untuk semakin setia dan teguh dalam iman.
“Kisah ini mengingatkan kita akan pengorbanan Tuhan kita Yesus Kristus, mendalami iman kita sebagai pengikut Kristus yang setia,” ujar Romo Falin, kepada TRIBUNFLORES.COM.
Suasana semakin menyentuh ketika lagu-lagu perhentian dibawakan secara langsung oleh para pemuda OMK, Ano, Na, Ni, dan Riana. Suara mereka mengalun lembut namun penuh daya, menembus hati umat, mengantar banyak orang pada keheningan yang penuh air mata.
Tak sedikit umat yang terisak. Air mata yang jatuh bukan hanya karena haru, tetapi karena kesadaran akan kasih yang begitu besar, kasih yang rela berkorban hingga tetes darah terakhir.
Salah satu umat paroki Santo Antonius Abang Beokina Lucy merasa sangat tersentuh dengan Tablo yang dipersembahkan oleh Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Beokina.
Ia juga apresiasi atas kerja keras DPP Paroki dibawah pimpinan Egin Batara, Ketua OMK Olan Atisubati, Ano Andal pembuat teks sekaligus sebagai pelatih yang telah mengemas proses jalan salib hidup ini dengan tulus dan totalitas.
“Profisiat atas kerja keras bersama Team Tablo OMK Paroki Beokina penyajian luar biasa Peran Yesus Bunda Maria yang di soroti lakon yang mereka sajikan sangat menyentuh peran Bunda Maria yang terakhir yang menurut saya sangat menyentuh hati dan ia berhasil membuat semua orang pecah dalam tangisan,” ujar Luky.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan tertib dan aman, di bawah pengamanan Bhabinkamtibmas Rahong Utara. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bukti bahwa iman yang hidup tidak pernah padam, ia hanya menunggu untuk kembali dinyalakan.
Setelah lebih dari sepuluh tahun, bahkan hampir dua dekade, tradisi ini kembali hadir di Paroki Santo Antonius Abas Beokina. Bukan sekadar mengulang, tetapi menghadirkan kembali roh pengorbanan Kristus di tengah kehidupan umat hari ini.(Cha).