Sempat Melonjak 200 Ribu per Kg saat Lebaran 2026, Harga Cabai di Kaltim Kini Rp 77.500
Nur Pratama April 03, 2026 06:07 PM

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Harga cabai di Kalimantan Timur yang sempat menembus angka Rp200 ribu per kilogram saat Idul Fitri 1447 H, kini mulai berangsur normal. 

Penurunan harga ini terjadi seiring kembali lancarnya distribusi pasokan dari daerah produsen.

Kepala Bidang Perdagangan DPPKUKM Kaltim, Ali Wardana mengungkapkan, kenaikan harga mulai terasa sejak seminggu sebelum Lebaran, dari harga Rp70 ribu merangkak naik ke Rp80 ribu, hingga menyentuh Rp200 ribu. 

Puncaknya terjadi pada hari H dan H+1 Lebaran akibat melonjaknya permintaan di tengah mandeknya stok barang.

Baca juga: Harga Cabai dan Bawang Merah di Tarakan Alami Kenaikan Pasca Lebaran 2026, Ini Penyebabnya

"Itu kita pantau, kondisi tersebut kenaikan itu karena ada kenaikan permintaan lagi. Sementara barangnya stuck, tidak ada supply. Makin hari H kan tidak ada lagi yang mendistribusikan semua pada merayakan lebaran kan," ujar Ali.

Kondisi tersebut diperparah dengan berhentinya pengiriman dari Jawa Timur karena masa libur Lebaran. 

Akibatnya, barang menipis selama dua hingga tiga hari. Namun, saat ini harga mulai turun signifikan dari Rp170 ribu kembali ke kisaran Rp70 ribuan seiring dengan masuknya kembali pasokan.

Berdasarkan pantauan per 31 Maret di Samarinda, harga cabai merah besar kini dibanderol Rp53.700, cabai keriting Rp45.000, dan cabai rawit merah di angka Rp77.500 per kilogram. 

Meski di Berau terpantau masih paling mahal dibanding daerah lain, namun secara umum tren harga komoditas pangan lainnya juga ikut melandai.

"Sudah mengalami penurunan juga, jadi semuanya sudah mengalami penurunan, bawang yang sempat naik pun sudah mulai turun lagi, nah itu kondisinya," jelasnya.

Untuk menekan harga tetap rendah, Pemprov Kaltim terus membuka ruang bagi daerah produsen mana pun untuk memasukkan barang. 

Saat ini, pasokan terbesar yang masuk ke Bumi Etam didominasi dari wilayah Sulawesi Selatan dan Jawa Timur.

"Jadi kita tidak menutup ruang dari mana saja daerah produsen yang masuk ke Kaltim. Kita tidak menutup ruang, bahkan kita menjalin kerjasama terutama dari Sulawesi Selatan, dari Jawa timur. Nah itu yang dominannya, yang besarnya, yang masuk ke Kaltim," pungkas. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.