Mengenal Reog Cemandi Sidoarjo, Kesenian Tradisional yang Jadi Simbol Perlawanan terhadap Penjajah
Mujib Anwar April 03, 2026 08:14 PM

 

TRIBUNJATIM.COM – Kabupaten Sidoarjo memiliki beragam kesenian tradisional yang sarat nilai sejarah dan budaya.

Salah satunya adalah kesenian Reog Cemandi, warisan budaya khas Desa Cemandi, Kecamatan Sedati, yang memiliki kisah unik sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda.

Berbeda dengan Reog Ponorogo, kesenian ini memiliki ciri khas tersendiri baik dari segi alat musik, tokoh, hingga fungsi pertunjukannya.

Berawal dari Dakwah hingga Bentuk Perlawanan

Aksi penari Barongan Lanang dan Wadon dalam Reog Cemandi di Sidoarjo yang diiringi tabuhan kendang khas.
Aksi penari Barongan Lanang dan Wadon dalam Reog Cemandi di Sidoarjo yang diiringi tabuhan kendang khas. (kikomunal-indonesia.dgip.go.id)

Dilansir dari kompas.com, Reog Cemandi berawal dari perjalanan seorang santri bernama Abdul (Dul) Katimin pada sekitar tahun 1917.

Ia merupakan santri dari Pesantren Tegalsari, Ponorogo, yang pulang ke Sidoarjo dengan berjalan kaki.

Dalam perjalanannya, Katimin bertemu dengan para pemuda yang gemar menabuh kendang, namun belum memahami ajaran agama secara mendalam.

Ia kemudian mengajarkan Islam kepada mereka, sekaligus memanfaatkan kesenian sebagai media dakwah.

Setelah tiba di Desa Cemandi, Katimin bersama para pemuda membangun surau.

Kebiasaan menabuh kendang dan menari tetap dipertahankan, namun dimodifikasi menjadi sarana menarik masyarakat untuk beribadah.

Mereka mengubah cara menabuh kendang menyerupai rebana, sehingga menarik masyarakat untuk datang ke surau dan beribadah.

Seiring waktu, kesenian ini berkembang menjadi alat perlawanan.

Pada tahun 1920-an, aktivitas warga Desa Cemandi diketahui oleh pihak Belanda.

Setelah itu, warga diwajibkan membayar pajak hasil panen yang ditagih oleh tentara pribumi dari Oost Indische Leger (OIL).

Berbagai upaya dilakukan warga untuk menolak penarikan pajak tersebut, namun tidak berhasil.

Mengetahui kondisi tersebut, Katimin meminta warga mencari enam batang kayu nangka berukuran sekitar 50 cm serta kayu randu sepanjang satu telapak kaki orang dewasa.

Kayu nangka tersebut digunakan untuk membuat kendang, sedangkan kayu randu dijadikan topeng yang menyerupai wajah buto cakil dengan dua taring.

Topeng dan kendang itu kemudian digunakan dalam sebuah pertunjukan tari oleh warga sebagai cara untuk mengelabui penjajah Belanda yang hendak memasuki Desa Cemandi.

Saat utusan Belanda datang untuk menagih pajak, Katimin bersama para pemuda dari Pagerwojo menampilkan kesenian barongan dan permainan kendang.

Melihat keramaian tersebut, para tentara OIL ikut berjoget bersama warga.

Di tengah suasana itulah warga kemudian menyerang para tentara Belanda hingga tidak berdaya.

Setelah peristiwa itu, Belanda tidak pernah lagi berani datang ke Desa Cemandi untuk memungut pajak.

Pada tahun 1922, tarian tersebut kemudian dinamakan Reog Cemandi, mengambil nama Reog Ponorogo karena sama-sama meriah dan dipercaya mampu mengusir penjajah Belanda.

Baca juga: Reog Ponorogo, Kesenian Tradisional Sarat Unsur Magis yang Jadi Identitas Budaya Jawa Timur

Ciri Khas: Topeng Barongan dan Kendang Sederhana

Reog Cemandi memiliki keunikan yang membedakannya dari reog lain.

Berbeda dengan Ponorogo yang identik dengan dadak merak, Reog Cemandi memiliki karakteristik tersendiri.

Dilansir dari budaya-indonesia.org, kesenian ini menggunakan instrumen utama berupa kendang yang hanya ditutup pada satu sisi dan angklung sebagai pelengkap iringan.

Selain itu, Reog Cemandi juga dilengkapi topeng barongan sebagai identitas utama.

Dalam pementasannya, Reog Cemandi menampilkan dua tokoh utama, yaitu:

  • Barongan Lanang:

Menggunakan topeng berwarna merah dengan wajah menyeramkan serta memiliki kumis, melambangkan sosok laki-laki yang gagah dan kuat.

Penari pada tokoh ini mengenakan pakaian serba hitam seperti penadon Ponorogo, dipadukan dengan kaos lorek atau kaos merah polos, serta membawa pedang sebagai properti.

  • Barongan Wadon:

Menggunakan topeng berwarna putih dengan paras perempuan yang lembut dan anggun, melambangkan keseimbangan.

Penarinya mengenakan kebaya dan kain batik, serta membawa selendang sebagai bagian dari perlengkapan tari.

Keduanya dimainkan oleh penari yang bergerak mengikuti irama kendang secara dinamis dan teatrikal.

Jumlah pemain dalam satu pertunjukan berkisar antara 6 hingga 13 orang, yang terdiri dari penari, penabuh kendang, dan pemain angklung.

Baca juga: Kesenian Rengganis Banyuwangi, Identitas Akulturasi Budaya dalam Balutan Teater Tradisi

Fungsi: Dari Ritual hingga Hiburan Masyarakat

Reog Cemandi Sidoarjo
Penampilan Reog Cemandi menggambarkan semangat perjuangan dan kekuatan budaya lokal Sidoarjo.

Awalnya, Reog Cemandi berfungsi sebagai sarana dakwah dan perlawanan terhadap penjajah.

Namun, seiring perkembangan zaman, fungsinya semakin beragam.

Diketahui, kini Reog Cemandi sering ditampilkan dalam berbagai acara, seperti karnaval budaya, pernikahan, khitanan, peringatan hari besar Islam, hingga Hari Kemerdekaan

Selain itu, kesenian ini juga rutin dipentaskan dalam tradisi Bersih Desa Cemandi sebagai bentuk tolak bala atau mengusir energi negatif.

Masyarakat setempat percaya bahwa pertunjukan ini memiliki kekuatan simbolik untuk menjaga keselamatan dan keharmonisan lingkungan.

Makna: Simbol Perjuangan dan Spiritualitas

Reog Cemandi tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga mengandung makna mendalam.

Dilansir dari kikomunal-indonesia.dgip.go.id, kesenian ini mencerminkan semangat keberanian masyarakat dalam menghadapi penjajahan.

Selain itu, unsur dakwah yang terkandung di dalamnya juga mengajarkan pentingnya mengingat Tuhan dan menjalani kehidupan dengan nilai-nilai spiritual.

Syair yang dilantunkan dalam pertunjukan menjadi pengingat bagi masyarakat untuk selalu menjaga keimanan, kebersamaan, dan keharmonisan.

Baca juga: Mengenal Kesenian Glipang Probolinggo, Berawal dari Latihan Silat hingga Jadi Identitas Daerah

Perkembangan dan Tantangan Pelestarian

Meski tetap eksis hingga kini, Reog Cemandi menghadapi tantangan dalam pelestariannya.

Kesenian ini sempat mengalami penyimpangan, di mana beberapa pertunjukan yang mengatasnamakan Reog Cemandi tidak sesuai dengan bentuk aslinya.

Diketahui, penyimpangan tersebut terjadi saat digunakan dalam lomba atau kreasi baru yang tidak sesuai pakem.

Namun demikian, upaya regenerasi terus dilakukan oleh para penerus, termasuk generasi kelima, yang dipimpin oleh Susilo, masih aktif menjaga keaslian kesenian ini.

Bahkan, dilansir dari referensi.data.kemendikdasmen.go.id, kesenian ini kini telah memasuki generasi ke-6 dengan sentuhan inovasi tanpa menghilangkan keasliannya.

Baca juga: Mengenal Kesenian Glipang Probolinggo, Berawal dari Latihan Silat hingga Jadi Identitas Daerah

Warisan Budaya yang Harus Dijaga

Reog Cemandi menjadi bukti bahwa kesenian tradisional tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media dakwah, simbol perlawanan, dan identitas budaya masyarakat.

Keberadaannya hingga saat ini menunjukkan bahwa warisan budaya lokal tetap memiliki nilai penting di tengah arus modernisasi.

Melalui pelestarian yang berkelanjutan, Reog Cemandi diharapkan tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.