TRIBUNJATIM.COM - Pondok Pesantren Bahrul Ulum atau yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Tambakberas merupakan salah satu pesantren tertua di Jawa Timur.
Berdiri sejak abad ke-19, pesantren ini memiliki sejarah panjang yang tidak terlepas dari perjuangan dakwah dan perkembangan pendidikan Islam di Indonesia.
Pesantren yang berlokasi di Desa Tambakrejo, Kecamatan Jombang ini didirikan pada tahun 1838 M oleh Kiai Abdus Salam atau yang dikenal dengan sebutan Mbah Shoichah.
Dilansir dari berbagai sumber, ia merupakan sosok ulama sekaligus pendekar yang memiliki misi menyebarkan agama Islam di wilayah tersebut.
Pada masa awal kedatangannya sekitar tahun 1825, wilayah Tambakberas masih berupa hutan belantara yang belum banyak dihuni.
Selama kurang lebih 13 tahun, Mbah Shoichah membuka lahan tersebut hingga menjadi perkampungan yang layak ditempati masyarakat.
Setelah kawasan tersebut mulai dihuni, Mbah Shoichah mendirikan sebuah pesantren sederhana berupa langgar, tempat tinggal, serta bilik kecil untuk para santri.
Dari sinilah cikal bakal Pondok Pesantren Bahrul Ulum mulai terbentuk.
Jumlah santri pada masa awal hanya sekitar 25 orang. Oleh karena itu, pesantren ini dikenal dengan nama Pondok Selawe, yang berarti dua puluh lima.
Selain itu, masyarakat juga menyebutnya Pondok Telu karena jumlah bangunan awalnya hanya terdiri dari tiga bagian.
Baca juga: Sejarah Pondok Gontor Ponorogo, Dari Pesantren Tegalsari hingga Lahirnya Pondok Modern Darussalam
Perkembangan Awal dan Pembagian Pesantren
Seiring bertambahnya usia Mbah Shoichah, kepemimpinan pesantren kemudian dilanjutkan oleh dua menantunya, yakni Kiai Utsman dan Kiai Sa’id.
Keduanya merupakan santri yang telah lama menimba ilmu di pesantren tersebut.
Dalam perkembangannya, jumlah santri semakin meningkat sehingga pesantren kemudian dibagi menjadi dua cabang.
Kiai Utsman mengembangkan pesantren di Dusun Gedang yang tidak jauh dari pesantren ayah mertuanya yaitu di sebelah timur sungai, sementara Kiai Sa’id mengelola pesantren di bagian barat sungai.
Masing-masing cabang memiliki fokus keilmuan yang berbeda.
Kiai Utsman lebih menekankan pada ilmu tasawuf dan thariqah, sedangkan Kiai Sa’id fokus pada pengajaran ilmu syari’at.
Pembagian ini menjadi langkah awal berkembangnya sistem pendidikan di lingkungan Tambakberas, sekaligus memperluas pengaruh pesantren di masyarakat sekitar.
Perubahan Nama Menjadi Bahrul Ulum
Seiring perjalanan waktu, pesantren ini mengalami beberapa perubahan nama.
Pada masa K.H. Hasbullah, pesantren lebih dikenal dengan sebutan Pondok Tambakberas.
Kemudian pada tahun 1965, di masa kepemimpinan K.H. Abdul Wahab Hasbullah, dilakukan upaya penetapan nama resmi pesantren. Empat santri diminta mengajukan beberapa alternatif nama.
Dari hasil pengajuan tersebut, terdapat tiga pilihan nama, yakni Bahrul Ulum, Darul Hikmah, dan Mamba’ul Ulum.
Setelah melalui pertimbangan spiritual, dipilihlah nama Bahrul Ulum yang berarti “lautan ilmu”.
Dilansir dari tambakberas.com, nama tersebut dipilih dengan harapan pesantren menjadi lautan ilmu atau pusat ilmu pengetahuan yang luas dan bermanfaat.
Baca juga: Peringatan 2 Abad Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang: Menuju Transformasi Sosial dan Teknologi
Makna Lambang dan Identitas Pesantren
Setelah penetapan nama, pesantren juga menetapkan lambang resmi melalui sayembara.
Lambang tersebut memuat berbagai simbol yang memiliki makna filosofis mendalam.
Di antaranya adalah bola dunia berwarna biru yang melambangkan wawasan global, serta empat kitab yang menggambarkan empat mazhab dalam Islam.
Selain itu, terdapat enam kelopak bunga yang merepresentasikan rukun iman.
Ayat Al-Qur’an yang disematkan dalam lambang menunjukkan komitmen pesantren dalam menjaga nilai-nilai keislaman.
Sementara pita hijau melambangkan persatuan dan hubungan antar elemen bangsa.
Identitas ini menjadi simbol arah perjuangan Pondok Pesantren Bahrul Ulum dalam mengembangkan ilmu sekaligus menjaga nilai tradisi keislaman.
Perkembangan Pendidikan dan Peran di Masyarakat
Hingga saat ini, Pondok Pesantren Bahrul Ulum terus berkembang sebagai lembaga pendidikan Islam yang adaptif terhadap zaman.
Diketahui, pesantren ini tetap mempertahankan nilai-nilai luhur kepesantrenan dengan di bawah sinaran prinsip Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah ala NU (Nahdlatul Ulama).
Dalam menghadapi perkembangan sistem pendidikan formal, pesantren ini telah mendirikan berbagai lembaga pendidikan, mulai dari tingkat prasekolah hingga perguruan tinggi.
Selain itu, pesantren juga menjalin kerja sama dengan berbagai institusi pendidikan, baik dalam negeri maupun luar negeri, seperti di Makkah, Syiria, dan Al-Azhar Kairo.
Secara kelembagaan, Pondok Pesantren Bahrul Ulum berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum yang berdiri sejak 6 September 1966.
Baca juga: KH Maruf Amin Hadir di Puncak 2 Agenda Bahrul Ulum Tambakberas Jombang: Santri Siap Bangun Peradaban
Jejak Sejarah dan Pengaruh Nasional
Sejarah panjang Pondok Pesantren Bahrul Ulum tidak hanya berkaitan dengan pendidikan, tetapi juga memiliki kaitan erat dengan perjuangan bangsa.
Mengutip laman bahrululum.id, pendirinya disebut memiliki hubungan dengan perjuangan Pangeran Diponegoro.
Pesantren ini juga memiliki hubungan kuat dengan Nahdlatul Ulama, salah satunya melalui tokoh K.H. Abdul Wahab Hasbullah yang menjadi bagian penting dalam pendirian organisasi tersebut.
Seiring waktu, pesantren ini telah melahirkan banyak tokoh nasional. Salah satu alumninya adalah Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Presiden ke-4 Republik Indonesia.
Kini, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga menjadi simbol perjalanan panjang dakwah, perjuangan, dan perkembangan Islam di Indonesia.