Pedagang Bingung Jumlah Pembeli Menurun Imbas Kenaikan Harga Plastik: Masa Kita Jual Rugi?
Ani Susanti April 03, 2026 08:14 PM

TRIBUNJATIM.COM - Jumlah pembeli plastik rupanya anjlok imbas kenaikan harga yang ugal-ugalan.

Diketahui, harga kresek hingga plastik olahan seperti thinwall hingga mika untuk wadah makanan kini melonjak drastis imbas perang Iran vs Israel Amerika.

Kenaikan harga ini pun mulai dikeluhkan oleh sebagian besar pedagang.

Seperti sejumlah pedagang di Pasar Baung, Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

Baca juga: Nafis Penjual Es Teh Tak Berani Naikkan Harga Meski Plastik Kian Mahal, Untung Rp 500 Per Gelas

Sahrul (30) mengaku, kenaikan harga plastik pasca Idul Fitri sudah mencapai hampir 70 persen dari harga sebelum Lebaran.

"Kalau dari bisnis sih, sebenarnya dari sananya ada kenaikan ya eh 50 persen, terus ini naik lagi 20 persen gitu," kata dia, Jumat (3/4/2026), melansir dari Kompas.com.

Sahrul merinci, harga plastik jenis kiloan di tokonya kini naik dari Rp9.000-10.000 menjadi Rp15.000-17.000.

Sementara harga plastik kresek berbagai ukuran, dari harga jual semula Rp15.000 kini harus dijual Rp25.000.

"Iya kan kalau harga kalau udah naik biasanya kita jualnya juga kacau, mau jual berapa sekian habisnya kita misalkan kita jual sekian harga 15 ribu nih entar dari sononya Rp15 ribu cuma balik modal kita cuma balik doang kaga ada untung."

"Bisa jadi dijual Rp17 ribu nanti, (terus) dari kantong kresek harga Rp15 ribu biasa kita jual sekarang udah Rp25 ribu," tutur dia.

Daya Beli Menurun

Sahrul mengaku, kenaikan harga plastik ini sudah mulai dikeluhkan oleh masyarakat khususnya para pelanggan.

Kata dia, daya beli pelanggan mulai menurun karena meroketnya harga plastik di berbagai jenis.

"Biasanya beli ya banyak sekarang udah beli sedikit gitu, ngaruh jadinya (sama daya beli). Iya. Tergantung juga kadang kan ya orang jual gitu, nih punya duit sekian tapi kan kalau dulu kan bisa beli berapa pak gitu ya berapa biji, sekarang udah ya cuman dapat satu pack doang," tutur dia.

Hal senada juga disampaikan oleh pedagang lainnya, Arsy (22), yang menyebut kalau saat ini kenaikan harga plastik sudah mulai dikeluhkan oleh masyarakat.

Pasalnya kata Arsy, kenaikan harga plastik tersebut sudah berpengaruh pada harga bahan pokok lainnya termasuk beras.

"Ya gimana ya, ya udah bilang, "Ya namanya juga dari sananya naik masa kita mau jual rugi?" Ya terus mau gimana lagi. Mengerti, dia juga bilang kayak, "Ah ya udahlah namanya hidup juga kan," ya terus gimana lagi," kata Arsy.

"Harga barang-barang kayak kayak beras, naik juga," sambung dia.

Kata dia, saat ini setiap pack plastik sudah naik mulai dari Rp5.000 hingga Rp10.000 dan menjadi signifikan usai Hari Raya IdulFitri 2026 lalu.

"Dari sehabis lebaran itu mulai parah naiknya. Sehari naik lagi, ntar naik 10 ribu, naik 10 ribu, naik 14 ribu, parah. Satu pack 15 ribu. Dari 10 ribu. Pertama itu 9 ribu. 9, 10, terus langsung ke 15 ribu," ucap Arsy.

Lenaikan harga plastik yang meroket sudah mulai dikeluhkan masyarakat di lini masa media sosial mulai dari X hingga Instagram yang mencapai 50 persen dari harga sebelumnya.

Pedagang Takut Naikkan Harga

Masyarakat ramai mengeluhkan tentang naiknya harga plastik.

Terutama pada item seperti cup, lid sealer, dan kantong plastik.

Sejak pertengahan Ramadan 2026, harga barang-barang itu naik puluhan persen.

Ini juga dirasakan para pelaku usaha minuman di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Nafis Ghifary, pemilik usaha Oriteh Indonesia adalah satu di antaranya.

Ia menyebut kenaikan biaya operasional ini sangat memberatkan, terutama bagi bisnis minuman yang mengandalkan kemasan plastik sekali pakai.

“Untuk cup, lid sealer, dan plastik rata-rata naik sampai 65 persen,” kata Nafis, Kamis (2/4/2026).

Nafis menjelaskan bahwa lonjakan harga kemasan berdampak signifikan terhadap 158 cabang usahanya yang tersebar di berbagai daerah.

Kenaikan biaya produksi ini membuat margin keuntungan yang didapat para mitra dan pemilik usaha merosot tajam.

“Kerugian bisa sampai sekitar 50 persen dari pendapatan karena biaya kemasan naik drastis,” ujarnya, melansir dari Kompas.com.

Baca juga: Pembeli Kaget Harga Plastik di Ponorogo Naik Ugal-ugalan sampai 100 Persen Imbas Perang Iran

Meski biaya produksi meningkat, Nafis mengaku para pelaku usaha es teh sejauh ini belum berani menaikkan harga jual kepada konsumen.

Hal ini disebabkan oleh ketatnya persaingan pasar di mana banyak kompetitor yang masih mempertahankan harga lama.

“Banyak pedagang yang mengeluh karena harga ke customer tidak bisa naik, sementara kompetitor masih jual harga lama,” jelas Nafis.

Menurut Nafis, harga es teh yang saat ini dipatok di kisaran Rp 3.000 per gelas sudah tidak lagi ideal.

Dengan harga tersebut, setelah dikurangi modal dan kenaikan plastik, pedagang hanya mendapatkan keuntungan bersih yang sangat tipis.

“Di kondisi seperti ini sudah tidak cukup untuk biaya operasional,” katanya, seraya merinci bahwa keuntungan bersih pedagang kini hanya tersisa sekitar Rp 500 per gelas.

Keluhan serupa datang dari pelaku UMKM lain, Wulandari, seorang penjual madu yang menggunakan kemasan botol plastik. Ia menyebut harga satu botol plastik kini naik sebesar Rp 2.000.

Berbeda dengan penjual es teh, Wulandari terpaksa berencana menaikkan harga jual produknya meski berisiko kehilangan pembeli.

"Naiknya Rp 2.000 sendiri per botol. Kita kan lagi merintis ya. Pembeli pasti berkurang," ungkap Wulandari.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.