TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Di tengah tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini, sosok Jasmine Silvani Arvie tampil sebagai remaja yang tak hanya berprestasi, tetapi juga aktif mengedukasi dan menginspirasi teman sebayanya.
Remaja kelahiran Medan, 24 Januari 2010 ini merupakan Juara 3 Duta GenRe Putri Kota Medan.
Meski masih duduk di bangku kelas 2 SMAS Harapan Mandiri, Jasmine telah menunjukkan kepedulian besar terhadap berbagai persoalan remaja, mulai dari pergaulan, kesehatan mental, hingga keamanan di ruang digital.
Bagi Jasmine, menjadi bagian dari Duta GenRe berawal dari keinginannya untuk berkembang. Ia terinspirasi dari kakak-kakak kelas yang dinilai mampu tampil percaya diri dan memiliki jaringan luas.
“Awalnya aku pengen bisa public speaking, punya relasi lebih banyak. Jadi aku tertarik ikut Duta GenRe,” ujarnya.
Namun, perjalanannya tidak langsung mulus. Jasmine sempat gagal di tahap seleksi kecamatan. Kegagalan itu membuatnya sempat kehilangan semangat. Dukungan dari teman-temannya menjadi titik balik yang menguatkan langkahnya.
Baca juga: Bawa Inovasi Smart Bin, Siswa MAN 1 Deli Serdang Raih Duta Siswa Indonesia Pendidikan 2026
“Teman-teman aku aja semangat dukung aku, masa aku enggak semangat. Dari situ aku belajar untuk bangkit lagi,” katanya.
Ia pun mencoba kembali melalui jalur lain dan berhasil lolos hingga meraih prestasi di tingkat kota. Pengalaman tersebut menjadi proses penting yang membentuk kepercayaan dirinya.
Kini, Jasmine dikenal sebagai sosok yang aktif berbicara di depan umum, sesuatu yang dulu justru ia takuti.
Sebagai remaja, Jasmine memilih untuk tidak hanya fokus pada diri sendiri. Ia aktif mengajak teman-temannya untuk terlibat dalam kegiatan positif, salah satunya melalui Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R).
Di sekolah, ia kerap mengajak teman-temannya untuk berdiskusi tentang berbagai isu yang dekat dengan kehidupan remaja.
“Ayo kita ikut PIK-R, di situ kita bisa diskusi banyak hal, termasuk kesehatan mental dan pergaulan,” ujarnya.
Tak hanya secara langsung, Jasmine juga memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi. Ia aktif membagikan informasi, hingga mengajak teman-temannya berdiskusi melalui fitur live di Instagram.
Dengan pendekatan santai, Jasmine kerap menjadi pembuka obrolan ketika berkumpul bersama teman-temannya, membahas isu-isu yang sedang ramai dan dekat dengan kehidupan remaja saat ini.
Angkat Isu Child Grooming
Di tengah maraknya penggunaan media sosial, Jasmine juga menyoroti munculnya berbagai risiko baru yang mengintai remaja, salah satunya fenomena child grooming.
Ia melihat masih banyak teman sebayanya yang belum memahami bahaya tersebut, bahkan tidak menyadari ketika sedang menghadapi situasi yang berpotensi mengarah ke sana.
“Banyak yang sebenarnya belum tahu, atau enggak sadar. Karena biasanya itu terjadi pelan-pelan, dari awalnya cuma chat biasa,” ujarnya.
Melalui diskusi santai di sekolah hingga media sosial, Jasmine mencoba menjelaskan bagaimana pola pendekatan tersebut bisa terjadi, serta pentingnya menjaga batasan dalam berinteraksi di dunia digital.
Ia juga pernah mengajak teman-temannya mengikuti sesi live di Instagram untuk membahas topik ini secara terbuka, agar lebih banyak remaja yang memahami dan waspada.
Menurutnya, edukasi seperti ini penting dilakukan oleh sesama remaja agar lebih mudah diterima.
“Kalau dari teman ke teman, biasanya lebih nyambung. Jadi mereka juga lebih berani tanya dan cerita,” katanya.
Jasmine menilai, masih banyak isu remaja yang dianggap tabu untuk dibicarakan, padahal sangat penting untuk diketahui.
Mulai dari kesehatan reproduksi, pergaulan, hingga risiko di dunia digital, sering kali tidak mendapatkan ruang diskusi yang cukup. Padahal, kurangnya informasi justru membuat remaja lebih rentan terhadap berbagai masalah.
“Kalau enggak dibahas, banyak yang jadi enggak tahu. Padahal ini penting supaya kita bisa lebih menjaga diri,” ujarnya.
Ia pun berusaha menghadirkan ruang diskusi yang lebih terbuka dan nyaman bagi teman-temannya.
Tak hanya aktif di sekolah, Jasmine juga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial melalui GenRe dan Aku Hebat Club.
Ia pernah mengikuti kegiatan edukasi di Belawan, mengajarkan anak-anak mengolah limbah kertas menjadi produk bermanfaat. Selain itu, ia juga ikut dalam kegiatan penanaman mangrove hingga aksi bersih lingkungan di Lapangan Merdeka.
“Aku senang bisa berbagi, apalagi ke anak-anak yang mungkin fasilitasnya belum memadai. Dari situ kita jadi lebih bersyukur,” ujarnya.
Proses Belajar yang Membentuk Karakter
Di balik keaktifannya saat ini, Jasmine mengaku pernah mengalami kesulitan saat pertama kali berbicara di depan umum.
Saat harus menyampaikan materi di kelas, ia sempat merasa tidak diperhatikan. Namun, pengalaman itu justru menjadi motivasi untuk terus belajar.
“Aku evaluasi diri, apa yang kurang dari cara aku menyampaikan. Dari situ aku terus belajar sampai akhirnya lebih percaya diri,” katanya.
Melalui berbagai aktivitasnya, Jasmine ingin mengajak generasi muda untuk berani mencoba hal-hal positif dan tidak takut gagal.
“Jangan takut mencoba, tapi dalam hal yang baik. Kalau jatuh, enggak apa-apa sedih, tapi jangan lupa bangkit lagi,” pesannya.
Ia juga menekankan pentingnya saling mengingatkan dan menjaga satu sama lain, terutama di tengah perkembangan dunia digital yang semakin cepat.
Bagi Jasmine, langkah kecil seperti berbagi informasi kepada teman sebaya bisa menjadi awal untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan saling peduli.
Dengan semangat tersebut, Jasmine Silvani Arvie menjadi gambaran remaja yang tidak hanya berkembang untuk dirinya sendiri, tetapi juga membawa dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.