TRIBUNDEPOK-Presiden Prancis Emmanuel Macron mengajak sekutu untuk berhenti ikut campur dengan urusan politik dalam negeri negara lain.
Pernyataan ini disampaikan Macron menanggapi serangan Amerika Serikat (AS) Israel ke Iran pada 28 Februari yang berlangsung hingga kini.
Di hadapan mahasiswa Korea Selatan di Universitas Yonsei pada Jumat (3/4/2026) Macron menyoroti sikap AS saat ini yang menyerang Iran dengan dalih menyelamatkan warga tersebut dari kekangan rezim.
Menurut Macron, kenapa Prancis tidak mau ikut-ikutan dalam perang tersebut karena sudah belajar dari invasi AS ke Afghanistan, Irak dan Libya di mana perang ternyata tidak membuat sebuah rezim di negara tertentu berakhir.
Bahkan setelah 20 tahun negara-negara tersebut masih diliputi oleh konflik.
“Namun saya tidak percaya bahwa kita akan memperbaiki situasi hanya dengan pengeboman atau operasi militer,”
“Lihat apa yang terjadi dengan operasi semacam ini di Irak, di Afghanistan, di Libya, kita tidak pernah berhasil. Tidak pernah. Bahkan setelah 20 tahun,”
Maka Macron pun mengajak sekutunya AS untuk menghormati kedaulatan rakyat. Apabila rakyat Iran ingin berubah, maka harus rakyat itu sendiri yang mengubahnya.
“Jadi, Anda harus menghormati kedaulatan rakyat. Jika orang ingin mengubah rezim, ingin bereaksi, bertindak, mereka dapat melakukannya,” jelasnya.
Selain itu Macron juga menyerukan pembangunan tatanan dunia baru dan memperingatkan agar tidak tetap "pasif" di tengah apa yang ia gambarkan sebagai meningkatnya kekacauan global.
Macron mengatakan bahwa stabilitas dan norma-norma yang telah mapan selama beberapa dekade kini "mengalami pasang surut."
Baca juga: Tolak Gencatan Senjata, Iran Ingin AS Hengkang dari Negara-negara Arab
“Selama beberapa dekade kita memiliki apa yang disebut stabilitas berdasarkan tatanan internasional ini dan beberapa kepastian yang kita miliki, sekarang situasinya naik turun. Kita tidak boleh hanya pasif dalam kekacauan baru ini. Kita harus membangun tatanan baru,” katanya.
Macron menyerukan sebuah sistem yang didasarkan pada kerja sama antar negara-negara yang mampu dan bersedia untuk mendukung apa yang ia sebut sebagai koalisi kemerdekaan.
“Saya rasa tujuan kita bukanlah menjadi boneka dari dua kekuatan hegemonik,” katanya, merujuk pada China dan Amerika Serikat.
Dia mengatakan negara-negara harus menghindari ketergantungan pada dominasi China dan paparan terhadap apa yang disebutnya sebagai ketidakpastian Amerika Serikat.
Macron juga menekankan pentingnya kerja sama internasional yang diperbarui, khususnya di bidang penelitian dan sains.
“Apa yang kita alami selama beberapa tahun terakhir adalah semacam fragmentasi kerja sama ini. Beberapa negara mulai memblokir beberapa kerja sama,” katanya.
Ia menambahkan bahwa beberapa negara juga telah mulai memangkas pendanaan di bidang-bidang penting, menyebutnya sebagai pengkhianatan terhadap semangat koordinasi dan kerja sama yang dibutuhkan.
“Jadi, kita harus berhenti bersaing untuk sementara waktu, dan kita harus membahas bagaimana membangun kompromi yang tepat dan bekerja sama,” katanya.