PSIM Yogyakarta Kalah dari Dewa United, Van Gastel Soroti Lemahnya Penyelesaian Akhir
Muhammad Fatoni April 03, 2026 11:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM - PSIM Yogyakarta harus mengakui keunggulan tuan rumah Dewa United dengan skor tipis 0-1 pada laga lanjutan BRI Super League 2025/2026.

Pada pertandingan yang dihelat di Banten International Stadium, Banten, Jumat (3/4/2026) malam, klub berjuluk Laskar Mataram tumbang melalui eksekusi tendangan penalti Alex Martins pada paruh kedua.

Gol itupun menjadi satu-satunya kunci kemenangan yang mengantarkan tuan rumah meraih tiga poin.

Sejak peluit babak pertama dibunyikan, kedua kesebelasan sebenarnya bermain berimbang. 

Meski bertindak sebagai tim tamu, PSIM Yogyakarta tampil lebih dominan dalam penguasaan bola dan melancarkan sejumlah serangan ke pertahanan tuan rumah.

Namun, buruknya penyelesaian akhir membuat skuat Laskar Mataram tak kunjung bisa mencetak gol. 

Sebaliknya, Dewa United bermain disiplin di lini belakang sembari sesekali mengancam pertahanan lawan.

Memasuki babak kedua, intensitas serangan tuan rumah mulai meningkat.

Petaka bagi PSIM Yogyakarta datang pada menit ke-60 ketika wasit memutuskan untuk menghentikan laga guna mengecek Video Assistant Referee (VAR).

Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk memastikan insiden tarikan yang dilakukan oleh pemain PSIM Yogyakarta, Donny Warmerdam, terhadap pemain Dewa United di area terlarang.

Wasit kemudian menyatakan terjadi pelanggaran dan menghadiahi tendangan penalti bagi Dewa United.

Alex Martins yang turun sebagai algojo pada menit ke-62 sukses menjalankan tugasnya dan mengubah papan skor menjadi 1-0.

Kedudukan ini bertahan hingga tambahan waktu enam menit usai.

Kekalahan ini membuat PSIM Yogyakarta tertahan di peringkat kedelapan klasemen sementara Super League dengan koleksi 38 poin. 

Sementara itu, tambahan tiga angka mendongkrak posisi Dewa United ke urutan kesembilan dengan torehan 37 poin.

Baca juga: Penalti Alex Martins Pastikan Kemenangan Dewa United atas PSIM Yogyakarta

Lemah di Sepertiga Akhir Lapangan

Pelatih Kepala PSIM Yogyakarta, Jean-Paul van Gastel, dalam sesi jumpa pers seusai laga menilai timnya bermain cukup baik dan layak mendapatkan poin dari pertandingan tandang ini.

"Saya pikir pertandingan ini berjalan seimbang dan ketat. Pada akhirnya, penalti menjadi pembeda dalam pertandingan ini. Saya rasa, kita pantas mendapatkan hasil yang lebih dari sekadar kekalahan," ujar Van Gastel.

Menanggapi dominasi timnya yang gagal dikonversi menjadi gol pada babak pertama, pelatih asal Belanda tersebut mengakui adanya kelemahan taktis, khususnya di sepertiga akhir lapangan (final third).

"Dari awal musim ini, kita memang punya beberapa masalah, dan salah satunya soal konversi peluang menjadi gol ketika kita berada di sepertiga akhir. Sisi positifnya adalah kita setidaknya tetap bisa menciptakan peluang. Namun, pada momen tertentu ke depannya, kita harus bisa mencetak gol. Kami akan mengevaluasi dan mengembangkan hal itu," tuturnya.

Enggan Komentari Penalti

Terkait proses terjadinya penalti, Van Gastel memilih untuk tidak berkomentar banyak dan menerima hasil pertandingan.

Ia juga menyinggung soal mentalitas pantang menyerah anak asuhnya yang pada laga ini belum membuahkan hasil positif.

"Soal penalti itu, saya tidak tahu. Saya tidak memikirkan tentang keputusan wasit. Karena jika ditanggapi, di setiap pertandingan kita akan terus berdiskusi di sini, jadi saya tidak ingin membicarakan hal-hal seperti itu," tegas Van Gastel.

"Saat mempersiapkan tim, kita tentu selalu berharap memiliki tim dengan karakter yang pantang menyerah, terus berjuang, saling mendorong satu sama lain, dan mencoba mendapatkan hasil positif. Bisa kita lihat di musim ini, PSIM sudah menunjukkan bahwa kita bisa bangkit. Namun hari ini, kita tidak bisa melakukannya. Kadang Anda berhasil mencetak gol dan meraih kemenangan, kadang Anda juga harus kalah. Itu adalah bagian dari permainan. Sayangnya, hari ini hasil pertandingan sedang tidak berpihak pada kita," imbuhnya.

Kekecewaan serupa juga diungkapkan oleh penggawa PSIM Yogyakarta, Donny Warmerdam.

Ia menyayangkan timnya tidak mampu memaksimalkan sejumlah peluang matang sejak paruh pertama pertandingan.

"Di babak pertama, kami memiliki peluang yang lebih baik. Mereka sebenarnya tidak memiliki peluang yang terlalu bagus, tapi pada akhirnya mereka menang lewat tendangan penalti. Kita tidak bisa memanfaatkan peluang-peluang tersebut, dan kemudian mereka menang karena penalti," kata Donny. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.