Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto
TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON- Tak hanya budayawan, kalangan seniman di Kota Cirebon kini ikut geram menyikapi pembongkaran jembatan besi kuno peninggalan kolonial di kawasan Sungai Sukalila, Jalan Sisingamangaraja.
Aksi pembongkaran yang masih berlangsung itu dinilai mengancam hilangnya jejak sejarah panjang kota.
Seniman Cirebon, Dedi Setiawan atau yang akrab disapa Dedi Kampleng menegaskan bahwa jembatan tersebut bukan sekadar bangunan tua, melainkan aset bersejarah yang patut dilindungi.
“Ya, kalau bagi saya, ini adalah aset. Ini diduga sebagai Cagar Budaya karena usianya sudah lebih dari 50 tahun sesuai dengan undang-undang. Dalam catatan buku kolonial, bangunan ini dibangun sekitar tahun 1815 sampai 1816,” ujar Dedi saat diwawancarai, Jumat (3/4/2026).
Baca juga: Kunjungi Cirebon, Menbud Fadli Zon Soroti ‘PR Besar’ Keraton Kasepuhan
Menurutnya, polemik soal terdaftar atau tidaknya bangunan tersebut sebagai cagar budaya tidak seharusnya menjadi alasan pembongkaran.
“Maka dari itu, ini jelas Cagar Budaya. Bahwa nanti akan ada narasi bahwa ini tidak teregistrasi atau tidak terdaftar, itu bukan urusan kami, melainkan urusan pemerintah,” ucapnya.
Dedi bahkan mendesak agar proses pembongkaran segera dihentikan sebelum kerusakan semakin meluas.
“Peristiwa pembongkaran yang terjadi di Cirebon ini harus segera dihentikan mumpung belum berlanjut dan barang buktinya belum ke mana-mana,” jelas dia.
Ia juga meminta semua pihak untuk menahan material yang diduga merupakan bagian dari cagar budaya tersebut.
“Kami meminta kepada semua pihak untuk bisa menahan barang-barang yang kami duga sebagai Cagar Budaya ini,” katanya.
Tak berhenti di situ, Dedi Kampleng menyatakan akan menempuh jalur hukum atas dugaan pengrusakan tersebut.
“Terkait pengrusakan ini, kami akan menempuh jalur hukum. Karena jika tidak melalui jalur hukum, nanti yang berlaku adalah hukum rimba, siapa yang berkuasa, dia yang menang,” ujarnya.
Berdasarkan temuannya di lapangan, ia menyebut pembongkaran diduga dilakukan oleh pihak Daop 3 PT KAI, meski masih akan dikonfirmasi lebih lanjut.
“Kami akan meminta penjelasan dari mereka, apa dasarnya mereka melakukan pembongkaran tersebut,” ucap Dedi.
Ia juga mempertanyakan alasan pembongkaran yang disebut untuk kepentingan pengembangan kawasan wisata.
“Katanya lokasi ini akan dijadikan kawasan pariwisata sehingga harus dibongkar. Namun bagi saya, jika alasannya adalah destinasi wisata sungai, di sana juga ada pipa gas yang membentang. Kenapa itu tidak dibongkar?” jelas dia.
Menurut Dedi, jika benar bangunan tersebut merupakan cagar budaya, maka langkah yang tepat adalah revitalisasi, bukan penghilangan.
“Jika ini benar Cagar Budaya, semestinya tidak dibongkar. Ini adalah bagian dari pengetahuan untuk generasi kita ke depan,” katanya.
Baca juga: Jembatan Bersejarah di Cirebon Dibongkar, Jejak Kolonial di Sukalila Terancam Hilang Selamanya
Ia berharap keberadaan jembatan tersebut justru bisa menjadi penopang nilai wisata sejarah di Kota Cirebon.
“Harapan saya, aset ini cukup direvitalisasi saja. Bangunan tersebut justru bisa menopang nilai destinasi wisata, bukan malah dihilangkan atas nama apa pun,” ujarnya.
Rencananya, pihaknya akan segera melaporkan kasus ini ke Polres Cirebon Kota setelah seluruh data pendukung terkumpul.
“Rencananya, secepatnya kami akan melapor ke Polres Cirebon Kota setelah mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan,” ucap Dedi.
Sebelumnya, pembongkaran Jembatan Kalibaru juga menuai sorotan dari kalangan budayawan.
Pemerhati cagar budaya dari Keraton Kacirebonan, Elang Iyan Ariffudin, menyayangkan langkah tersebut karena dinilai mengabaikan nilai sejarah.
“Kami pada dasarnya mendukung upaya dalam menata kawasan Sukalila agar lebih baik. Namun sangat disayangkan jika jembatan bersejarah ini harus dibongkar,” ujarnya.
Menurutnya, jembatan tersebut memiliki nilai penting dalam sejarah transportasi dan distribusi komoditas di Cirebon pada masa lalu, termasuk sebagai jalur penghubung kawasan Kesenden hingga Pelabuhan Cirebon.
Dengan kondisi jembatan yang kini telah terpotong-potong, kekhawatiran akan hilangnya jejak sejarah pun semakin menguat.
Di tengah pembangunan yang terus berjalan, suara dari budayawan dan seniman kini menjadi pengingat bahwa identitas kota tak hanya dibangun dari yang baru, tetapi juga dari apa yang dijaga.