TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Malam perlahan turun di Bukit Bumi Cerah.
Dari ketinggian, gemerlap lampu Kota Gorontalo tampak seperti hamparan bintang yang jatuh ke bumi.
Di antara gelapnya perbukitan, cahaya dari tenda-tenda dan lentera sederhana milik pengunjung menambah suasana hangat yang sulit ditemukan di tengah hiruk pikuk kota.
Beberapa tenda berdiri di tepi bukit. Sekelompok anak muda terlihat duduk melingkar, bercengkerama santai.
Ada yang sibuk dengan ponsel, ada pula yang hanya menikmati angin malam yang berembus pelan.
Udara yang lebih dingin dibanding kawasan perkotaan menjadi pelengkap suasana camping yang terasa sederhana, tapi justru itu yang dicari.
Dari atas bukit, panorama malam benar-benar memanjakan mata.
Lampu rumah warga membentuk pola tak beraturan, membentang dari Bone Bolango hingga Kota Gorontalo dan sebagian wilayah Kabupaten Gorontalo.
Lanto Ibrahim, salah satu pengunjung, mengaku memilih Bukit Bumi Cerah karena aksesnya yang mudah.
Bersama teman-temannya, ia datang tanpa perlu repot mendaki seperti ke gunung pada umumnya.
Baca juga: Heboh! Iran Ancam Bongkar Nama-Nama ‘Dalang Keuangan’ Amerika di Balik Kebijakan Perang
“Yang bikin beda di sini itu aksesnya mudah. Tidak perlu mendaki jauh, motor bisa sampai di atas. Jadi orang yang tidak mau capek tetap bisa menikmati suasana di puncak,” ujarnya, Jumat (3/4/2026).
Kemudahan tersebut menjadi alasan utama kawasan ini digemari anak muda. Tidak perlu tenaga ekstra, tapi tetap bisa merasakan suasana alam dari ketinggian.
“Biasanya kalau ke gunung harus parkir jauh lalu jalan lagi. Di sini tidak, itu yang bikin banyak orang suka datang,” tambahnya.
Tak hanya soal akses, fasilitas yang tersedia juga menjadi daya tarik. Kamar mandi dan toilet tersedia cukup banyak, sehingga pengunjung tidak perlu antre meski suasana sedang ramai.
“Fasilitasnya lengkap, kamar mandi banyak, jadi walaupun ramai tidak terlalu antre. Itu penting kalau camping,” jelas Lanto.
Kebutuhan makan dan minum pun tidak menjadi masalah. Di area atas bukit, tersedia penjual yang menyediakan kopi, mie instan, hingga air panas.
“Kalau malas turun, di atas juga ada yang jual. Jadi tidak perlu repot bawa banyak perlengkapan,” katanya.
Selain panorama perbukitan, Bukit Bumi Cerah juga menawarkan pengalaman berbeda dengan adanya kolam pemandian di dataran tinggi.
Pengunjung bisa berenang sambil menikmati pemandangan alam, baik untuk anak-anak maupun dewasa.
Dengan posisi strategis, pengunjung dapat melihat tiga wilayah sekaligus: Bone Bolango di sisi timur, Kota Gorontalo, serta Kabupaten Gorontalo di bagian barat.
Saat malam tiba, hamparan lampu kota menjadi daya tarik utama, terutama bagi mereka yang memilih bermalam.
Ketua Unit Pengelola Wisata Bukit Bumi Cerah, Aprianto Umar, sebelumnya menyampaikan kawasan ini memang dirancang ramah untuk semua kalangan.
Dengan tarif masuk Rp10.000 per orang, pengunjung sudah dapat menikmati fasilitas dasar seperti parkir, kamar mandi, hingga kolam pemandian.
Sementara untuk camping, tarif yang dikenakan sebesar Rp15.000 per orang. Harga yang terjangkau ini membuat destinasi tersebut semakin diminati, terutama oleh kalangan anak muda.
Fasilitas lain seperti gazebo dan pendopo juga tersedia bagi pengunjung yang ingin bersantai bersama keluarga atau teman. Bahkan, lokasi ini kerap dimanfaatkan untuk kegiatan komunitas hingga pembuatan konten kreator lokal.
Fenomena camping di Bukit Bumi Cerah menunjukkan perubahan cara anak muda menikmati wisata alam. Tak lagi harus mendaki jauh, kini pengalaman alam bisa dirasakan dengan cara yang lebih praktis.
Di tempat ini, aktivitas sederhana seperti duduk bersama, berbincang, hingga menikmati kopi di bawah langit terbuka justru menjadi momen yang paling berkesan.
Bagi Lanto dan teman-temannya, camping bukan sekadar menginap di alam terbuka, melainkan cara melepas penat dari rutinitas.
“Di sini kita bisa santai, tidak ribet, tapi tetap dapat suasana alam. Itu yang bikin betah,” tutupnya. (*)