Harga Minyak Dunia Melonjak, Tembus Level Tertinggi sejak Krisis 2008
Alfons Nedabang April 03, 2026 11:19 PM

POS-KUPANG.COM – Harga minyak melonjak tajam dan mencapai level tertinggi sejak krisis keuangan 2008, didorong ketatnya pasokan global akibat gangguan distribusi energi. 

Lonjakan ini tercermin dari harga spot minyak mentah Brent untuk pengiriman fisik yang mencapai 141,36 dollar AS per barel pada Kamis, menurut data S&P Global. 

Harga spot mencerminkan permintaan minyak Brent yang akan dikirim dalam waktu dekat, yakni sekitar 10 hingga 30 hari ke depan. 

Lonjakan harga minyak untuk pengiriman cepat ini menunjukkan pasokan minyak fisik global saat ini berada dalam kondisi sangat ketat.

Kondisi tersebut dipicu gangguan besar pada pasokan energi setelah Iran menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia. 

Harga spot tersebut tercatat 32,33 dollar AS lebih tinggi dibandingkan kontrak berjangka (futures) minyak Brent untuk pengiriman Juni, yang ditutup di level 109,03 dollar AS per barel pada hari yang sama. 

Pendiri Energy Aspects, Amrita Sen, menilai harga di pasar berjangka justru memberikan gambaran yang menyesatkan. 

“Harga futures seolah memberi rasa aman palsu bahwa kondisi tidak terlalu tegang,” ujar Sen.

Menurut dia, pasar keuangan saat ini cenderung menutupi ketatnya pasokan yang sebenarnya sudah terlihat jelas di pasar fisik. 

“Ketegangan itu nyata, tetapi pasar finansial seperti menyamarkannya, padahal di sektor lain dampaknya sudah terasa,” kata Sen. 

Ia menambahkan, harga solar di Eropa saat ini bahkan hampir mencapai 200 dollar AS per barel, mencerminkan tekanan yang sangat tinggi di pasar energi. 

Sementara itu, CEO Chevron Mike Wirth sebelumnya juga telah mengingatkan bahwa harga futures belum mencerminkan besarnya gangguan pasokan akibat penutupan Selat Hormuz. 

Menurut Wirth, pergerakan pasar saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh informasi yang terbatas dan persepsi pelaku pasar. 

“Ada dampak fisik nyata dari penutupan Selat Hormuz yang menyebar ke seluruh dunia dan sistem energi global. Namun hal itu belum sepenuhnya tercermin dalam kurva harga futures minyak,” ujar Wirth. (*)

Sumber: Kompas.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.