Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dionisius Rebon
POS-KUPANG.COM, KEFAMENANU - Ribuan Umat Paroki Maria Ratu Oeolo di Kecamatan Bikomi Nilulat dan Kecamatan Musi, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengikuti Jalan Salib Hidup atau Tablo pada Jumat, 3 April 2026.
Rute Tablo mencapai jarak sekitar 1 sampai 3 kilometer.
Umat mengikuti proses Jalan Salib dengan Khusyuk. Beberapa orang terlihat menghapus butiran kesedihan di pelupuk mata mereka. Umat membawa serta Rosario dan mendaraskan doa dengan nada-nada sedih.
Penasihat IMP2B, Yohanes Metan mengatakan, Jalan Salib Hidup atau Tablo digelar semata-mata untuk menggugah penghayatan umat dalam mengenang kisah sengsara dan wafat Tuhan Yesus Kristus. Pelaksanaan Tablo ini juga merupakan inisiatif dari seluruh anggota IMP2B.
Baca juga: Kasus Hukum Anak Korban Pengeroyokan Dinilai Berjalan di Tempat, Orang Tua Mengadu ke Bupati TTU
Di sisi lain, mereka juga berikhtiar membangkitkan kesadaran kaum muda tentang bagaimana menghidupi semangat kristiani dari kisah Yesus Kristus.
Di tengah derap pembangunan yang kian pesat dan modernisasi, kaum muda semestinya memiliki kesadaran paling dominan tentang kasih paling hakiki yang diajarkan oleh Yesus Kristus dalam kisah ini.
Yohanes menegaskan bahwa, realitas di era sekarang, banyak kaum muda yang tidak melibatkan diri dalam kegiatan keagamaan. Tablo ini merupakan salah satu cara IMP2B menggugah kaum muda kembali ke dalam pelukan kristianitas sejati.
Ia berharap, semakin banyak kaum muda sadar dan mengambil lebih banyak peran di gereja. Secara khusus menjadi garda terdepan mendorong kecintaan umat terhadap Yesus Kristus.
Sementara itu, Pastor rekan Paroki Maria Ratu Oeolo, Romo Melki Meak, Pr mengapresiasi peran IMP2B dalam pelaksanaan Ibadah Jalan Salib Hidup pada kesempatan itu. Pasalnya, Tablo adalah karya seni iman.
Tablo adalah cara pelakon membawa umat masuk dalam suasana penderitaan dan sengsara Tuhan Yesus Kristus 2000 an tahun silam. Kendati tidak seperti yang dialami Yesus Kristus namun, cara ini membangkitkan ingatan umat tentang kesetiaan, pengorbanan dan cinta yang tak pernah habis.
Baginya, kaum muda harus memiliki peran sentral di dalam gereja. Sebagai masa depan gereja, kreativitas kaum muda sebagaimana yang disaksikan pada kesempatan itu adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan.
"Kaum muda hadir melalui karya-karya kecil tapi menggugah nurani dan hidup," pungkasnya. (bbr)