Fasilitas Desalinasi Air di Kuwait Rusak Dihantam Serangan Rudal Iran
TRIBUNNEWS.COM - Sebuah pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi air di Kuwait dihantam rudal Iran pada Jumat (3/4/2026).
Serangan itu menyebabkan kerusakan material pada beberapa bagian fasilitas tersebut, kata Kementerian Listrik, Air, dan Energi Terbarukan, seperti yang dilaporkan oleh Reuters.
Tim darurat dan teknis segera dikerahkan ke lokasi untuk mempertahankan operasi dan mengamankan lokasi tersebut.
Baca juga: Tanah Arab Kian Membara, Ini Daftar 8 Jembatan Negara Teluk yang Diincar Iran untuk Balas AS
Kuwait telah menjadi sasaran Iran sejak diserang oleh AS dan Israel pada 28 Februari.
Pekan lalu, Iran menyerang dan membakar kapal tanker minyak mentah Kuwait yang bermuatan penuh di dekat Dubai, yang dapat dianggap sebagai salah satu serangan maritim paling serius sejak perang pecah.
Kapal Al-Salmi, yang melintasi perairan di bawah bendera Kuwait, dihantam saat berlabuh di area pelabuhan Dubai.
Serangan itu mungkin mengakibatkan "tumpahan minyak di perairan sekitarnya," demikian peringatan Kuwait Petroleum Corp (KPC) dalam sebuah pernyataan.
Pada tanggal 27 Maret, pihak berwenang Kuwait melaporkan serangan terkoordinasi terhadap Pelabuhan Mubarak Al-Kabeer, sebuah proyek infrastruktur utama di Pulau Bubiyan.
Dalam sebuah pernyataan yang diunggah di X, kementerian tersebut mengatakan, “Infrastruktur Pelabuhan Mubarak Al-Kabeer menjadi sasaran serangan ganda pada Jumat pagi ini oleh drone dan rudal jelajah musuh.”
Ditambahkan bahwa “laporan awal mengungkapkan kerusakan material tanpa korban jiwa.”
Prosedur darurat “diaktifkan sesuai protokol… berkoordinasi dengan pihak berwenang terkait,” dengan tim respons dikerahkan untuk menilai dan mengatasi dampaknya.
Kuwait menjadi satu di antara negara Arab yang menjadi sasaran serangan Iran atas dalil pembalasan terhadap agresi AS ke Teheran pada 28 Februari 2026 yang menewaskan pemimpin tertinggi mereka, Ali Khamenei.
Iran beralasan, negara-negara Arab ini merupakan sekutu AS dan bahkan menyediakan pangkalan militer bagi pasukan Amerika.
Serangan tanpa koordinasi itu dinilai menjadi jebakan AS bagi para sekutunya untuk terlibat memerangi Iran.
Selain serangan langsung, dampak paling besar yang dirasakan negara-negara Arab ini adalah berhentinya pengiriman minyak dan energi ke negara lain dengan pemblokadean Selat Hormuz oleh Teheran.
Belakangan, termasuk Eni Emirat Arab, negara-negara Arab ini mendesak AS untuk segera membuka blokade laut ini.
(oln/wn/*)