Khutbah Jumat - Umat Islam Harus Jaga Keutuhan Persaudaraan di Tengah Perbedaan dan Isu Global
Muhammad Hadi April 04, 2026 03:03 AM

Khutbah Jumat - Umat Islam Harus Jaga Keutuhan Persaudaraan di Tengah Perbedaan dan Isu Global

SERAMBINEWS.COM, ACEH BESAR - Umat Islam harus terus menjaga keutuhan persaudaraan (ukhuwah Islamiyah) dengan memperkuat silaturrahim di tengah perbedaan pemahaman dan dinamika global yang kian kompleks.

Imum Syik Masjid Jamik Baitul Jannah Tungkop, Darussalam, Tgk Saifuddin A Rasyid, menyampaikan hal itu dalam khutbah Jumat di Masjid Baitul Ahad, Kemukiman Siem Darussalam, Aceh Besar, Jumat (3/4/2026).

Tgk Saifuddin menegaskan, menjaga silaturrahim antar sesama Muslim dan berbagai kelompok umat Islam merupakan bagian penting dalam upaya meninggikan martabat Islam dan kaum Muslimin, meskipun terdapat perbedaan dalam pemahaman dan praktik keagamaan.

Ia menjelaskan, Al-Quran mengajarkan keharusan menjaga perjanjian dengan Allah, yakni tidak menyekutukan-Nya, senantiasa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan tidak memutuskan hubungan silaturrahim dan membuat kerusakan di muka bumi. 

“Ancaman bagi mereka yang melanggarnya adalah azab yang berat, termasuk neraka Jahannam,” ujarnya.

Akademisi UIN Ar-Raniry yang juga Imam Besar Masjid Fathun Qarib ini menyebutkan, pentingnya menjaga silaturrahim saat ini berkaitan erat dengan dua momentum besar.

Pertama, suasana bulan Syawal pasca Idulfitri, yang menjadi momen untuk mempererat kembali hubungan persaudaraan setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa Ramadan. 

“Syawal adalah waktu terbaik menguatkan kembali ikatan silaturrahim,” katanya.

Kedua, situasi konflik yang tengah berlangsung di Timur Tengah, khususnya perang antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, yang telah berjalan sekitar satu setengah bulan. 

Menurutnya, perang tersebut memicu gelombang emosi di kalangan umat Islam di seluruh dunia, sehingga berpotensi memecah belah persatuan.

Ia menyoroti menguatnya kembali isu perbedaan antara Sunni dan Syiah, seiring keterlibatan Iran dalam perang tersebut.

Perbedaan pandangan pun muncul di tengah masyarakat, bahkan hingga pada penilaian keislaman suatu kelompok.

“Bagi kita yang tidak memiliki ilmu yang cukup, jangan mudah latah dalam menilai atau bahkan mengkafirkan orang lain. Itu perkara besar yang memiliki konsekuensi berat,” tegasnya.

Ia mengingatkan, sikap bijak yang perlu diambil dengan menyerahkan penilaian hakikat keimanan seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya. 

Sementara itu, umat Islam mestinya tetap menjaga hubungan baik, tidak hanya dengan sesama Muslim dari berbagai kelompok, tetapi juga dengan non-Muslim yang tidak memusuhi Islam.

Tgk Saifuddin juga mengutip hadis Nabi Muhammad saw tentang ahli kiblat, yang menegaskan bahwa siapa saja yang melaksanakan salat menghadap Ka’bah dan mengikuti tuntunan syariat, maka mereka termasuk dalam golongan Muslim yang berada dalam perlindungan Allah dan Rasul-Nya.

Menutup khutbahnya, ia mengajak umat Islam terus menjaga komitmen keislaman dalam beribadah dengan ikhlas, tidak mudah terprovokasi oleh kepentingan pihak tertentu tanpa dasar ilmu yang memadai. 

“Kita harus tetap proaktif dalam menjaga kerukunan dan menghindari segala bentuk kerusakan di tengah masyarakat,” pungkasnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.