Perang AS-Israel vs Iran: Menakar Kesiapan Aceh 
Muhammad Hadi April 04, 2026 03:03 AM

Oleh Syarifah Huswatun Miswar*)

Februari lalu menjelang puasa, ada pesan balasan dari profesor Iran yang menyayat hati, "Negara kami sedang situasi tidak mudah, konsekuensi kemerdekaan yang kami pilih dan perjuangkan Gaza." 

Beberapa bulan sebelumnya, kami bertemu di konferensi Shanghai International of Foreign Affairs University dan makan bersama, saya ceritakan Islam masuk Indonesia pertama via pedagang Persia Syiah di Selat Malaka.

Buktinya, peninggalan budaya takbenda seperti tradisi tabot Saman, kanduri Asyura dll. 

Beliau kaget: "Benarkah?" tanyanya.  Saya jawab ya, dari penelitian ilmiah, tradisi keluarga dan 6 tahun bertemu orang-orang dari Iran.

Hingga 3 April 2026 (hari ke-34 perang sejak 28 Februari), AS-Israel lawan Iran memanas lewat klaim Trump bahwa program rudal Iran sudah lumpuh dan AS akan 'finish the job' dalam 2-3 minggu.

Namun IRGC membalas dengan gelombang serangan ke-89 rudal/drone ke Haifa serta pangkalan AS di UAE-Qatar. 

Perlu diingat bahwa Iran terembargo 50 tahun, terisolasi tetangga, tapi rakyat solid, diaspora pulang membela rezim. 

Ini berbeda dengan Arab Spring. Trump luput, terjebak dua peradaban purba. Iran dari 2.500 tahun lalu sudah ada, geografi Zagros-Dasht-e Kavir mirip China (invasi logistik 10x lebih mahal). 

Baca juga: Iran Batasi Akses Selat Hormuz, AS Dilarang Melintas

Adapun Israel, diaspora Yahudi pasca-1948 bangkit ekspansi (Golan-Sinai), 15 juta umat global mendukung. 

AS Baru 250 tahun, 7 presiden sebelumnya tak berani serang langsung Iran. 

Dalam perang ini, Iran tak perlu menang, cukup bertahan saja musuh bisa mati sendiri (elite syahid diganti cepat, IRGC klaim siap perang 6 bulan-10 tahun). 

Ancaman di depan mata

Jika perang AS-Israel-Iran makin panas, tiga ancaman eksistensial bisa pecah dan ini bukan spekulasi kosong, tapi risiko realistis dari posisi Hormuz. 

Tiga skenario terburuk yang masuk akal saat ini bisa terjadi, yaitu Pertama, harga minyak bisa meledak ke $200/barel (belum sampai, tapi hingga hari ini tidak ada perundingan dan kejelasan terkait harga minyak).

Hingga 3 April 2026, Brent $105-106 USD/barel (naik ~4 persen pekan ini akibat Hormuz masih terganggu, tanker Pertamina tertahan hingga 1 April baru lewat bertahap), tapi bisa tembus $200 jika blokade berlanjut 2 bulan lagi. 

Iran tutup Selat Hormuz buat AS dan sekutu, ditambah pembelian minyak pakai yuan, bukan dolar. 

Perlu diingat bahwa 20 % minyak dunia (21 juta barel/hari) melewati kawasan itu. Indonesia impor 60?ri Teluk, BBM naik 50 % picu inflasi 10 % lebih, APBN bisa jebol jika tetap subsidi. 

Negara oportunis akan panik, seperti China akan beli yuan, Eropa rationing, India blackout pabrik. Artinya, tidak ada negara yang benar-benar aman sekalipun negara yang diklaim menguntungkan. 

Kedua, kabel optik global putus (Belum Terjadi, semoga saja tidak) 80?ta dunia (internet, SWIFT, Visa/Mastercard) lewat 16 kabel bawah laut Hormuz, Teluk Persia, Laut Merah (kedalaman 50-150 m, rawan drone/submersible potong). 

IRGC ancam "asimetri total" yang artinya melawan AS-Israel dengan segala cara yang tidak konvensional lagi, murah, dan mematikan, bukan head-to-head tank-vs-tank, tapi hybrid warfare maksimal. 

Pada kondisi ini, Eropa dan Teluk akan mati setidaknya di 72 jam dan akan memakan biaya $1,6T rugi harian global. 

Bagi Indonesia, Banking akan lumpuh (BI-RTGS down), e-commerce mati, rupiah bisa anjlok 20 % , panic buying BBM via WhatsApp rumor. 

Tiga, Nuklir Nyala: Bukan Pencegah Lagi. Post-JCPOA runtuh, Iran walaupun tidak terbukti memiliki senjata nuklir, tapi masih sangat memungkinkan untuk melakukan pengayaan uranium 90 % (cukup 2-3 bulan lagi menjadi bom nuklir), AS dan Israel memiliki senjata nuklir yang siap pakai. 

Baca juga: Houthi Yaman Bantu Iran Lawan AS-Israel, Ini Dampaknya Jika Selat Bab al-Mandab Diblokade

Jika rezim terdesak, opsi "use it or lose it?" sangat mungkin dipilih. Satu ledakan di Tel Aviv atau Tehran bisa membuat fallout Saudi hingga India.

Akibatnya akan terjadi nuclear winter yang bisa turunkan suhu global 2°C, gagal panen 30 % Asia (1 miliar orang akan kelaparan), hukum internasional runtuh, China dan Rusia akan intervensi, bukan MAD (Mutual Assured Destruction) lagi tapi multiplier chaos regional berubah menjadi global. Bagaimana Indonesia?

Bebas Aktif: Dari Nyali KAA ke Bird of Peace?

Indonesia bukan Gaza. Indonesia sudah menjadi negara non-blok per UUD 1945 ("ketertiban dunia berbasis kemerdekaan, perdamaian abadi, keadilan sosial"). 

Akan tetapi Bebas-aktif dulu punya nyali, sekarang dipertanyakan. Indonesia pernah menjadi tuan rumah KAA 1955 (29 negara Asia-Afrika), pendiri Gerakan Non-Blok 1961 (lawan AS-Soviet), Sukarno berani konfrontasi Malaysia. 

Kredibilitas dunia ketiga solid. Kini pragmatisme ekonomi dekade terakhir pertanyakan prinsip pasca "reset" Agustus 2025 (krisis politik-konstitusi). 

Prabowo ikut "Bird of Peace" AS, tapi para analis mempertanyakan kapabilitas apa yang Indonesia punya saat ini? Leverage Hormuz mana? RI tak punya aset strategis Timur Tengah.

Menanggapi keadaan saat ini terkait Selat Hormuz yang tidak jelas kapan akan beroperasi normal, Indonesia sama dengan negara-negara lainnya. 

Mengantisipasi keadaan dengan upaya-upayanya kebijakannya seperti menjaga pasokan dan diversifikasi impor minyak mentah (yang mana masih bisa bertahan untuk 1-2 bulan), menahan harga kenaikan BBM bersubsidi dengan menjadikan APBN sebagai “Shock absorber” agar masyarakat tidak terkena lonjakan harga langsung.

Baca juga: Trump Kesal Inggris Tolak Bantu Perangi Iran, Kritik Kepemimpinan PM Starmer

Selain Itu, Indonesia juga memperluas cadangan dan Infrastruktur penyimpanan minyak dengan pembangunan fasilitas storage baru di sumatra yang bertujuan untuk memperbesar kapasitas cadangan hingga 90 hari yang saat ini masih dalam peninjauan kelayakan. 

Selain itu pemerintah juga menggunakan APBN sebagai penyangga guncangan harga energi, mendorong ekspor batubara dan menjaga peran sebagai penyuplai energi. 

Bagaimana dengan Aceh?

Aceh baru saja melewati masa-masa kritis banjir bandang November lalu dan saat ini masih belum pulih seutuhnya. 

Aceh memiliki kerentanan yang khusus. Dimana bencana alam, kerentanan ekonomi dan luka sejarah konflik dan perang AS-Israel melawan Iran ini sudah mulai terasa dampaknya. 

Bisa dilihat melalui beberapa Indikasi seperti Harga BBM mencekik orang-orang yang selamat dari banjir, panic buying dan guncangan psikologis, dan yang pasti pasokan minyak juga terganggu sehingga harganya juga naik.

Dengan medan Aceh yang berbahaya, distribusi juga lebih sulit. Adapun dampak tak langsungnya yang akan lebih menghancurkan adalah ancaman kembalinya ketegangan politik di Aceh, bencana ekologis yang diperparah deforestasi (perlu diingat bahwa Aceh berada di jalur patahan seismik gempa).

Fokus pemerintah akan tersedot pada energi dan politik sementara Aceh jauh dari pusat dan sangat mungkin kembali diabaikan.

Selanjutnya, akan terjadi migrasi dan tekanan sosial (warga yang tidak tahan akan pergi meninggalkan wilayah yang mereka tempati dan mencari suaka baru paling dekat ke Medan). 

Pertanyaannya “apakah pemerintah dan rakyat Aceh sanggup menghadpinya?”

Apa yang harus dilakukan? Kita harus jujur di titik ini bahwa pemerintah Aceh saat ini tidak cukup kuat menghadapi skenario terburuk sendirian, kita bisa melihat pada momen banjir bandang beberapa waktu lalu.

Hal ini bukan karena orang Aceh hilang kegigihannya, tapi karena ancamannya berbeda dan Aceh belum beradaptasi dengan pola ini. 

Baca juga: Pakistan Naikkan Harga BBM Hingga 55 Persen Akibat Perang Iran

Dari pemerintahnya masih mewarisi struktur kekuasaan dan ekonomi kolonial, ekstraksi sumber daya bukan ketahanan masyarakat. 

Kebijakan etis menciptakan elit lokal yang diuntungkan tapi melemahkan struktur komunal. 

Selain itu, model pembangunan top down dan fokus pada industri ekstraktif (migas, sawit) terus dipertahankan (ini penghancuran ketahanan pangan dan ekonomi lokal yang sudah dibangun berabad-abad). 

Dan yang paling penting pemimpin-pemimpin Aceh lebih senang tergantung dengan pusat.

Ada 4 langkah konkret ketahanan Aceh (setidaknya untuk saat ini)

Pertama: Swasembada keluarga dengan cara bertanam kebutuhan dapur di rumah masing-masing. 

Selanjutnya mengurangi penggunaan energi dengan mencari alternatif lain seperti menggunakan kembali sepeda manual untuk perjalanan jarak pendek dan memasang panel surya untuk kebutuhan-kebutuhan kecil.

Kedua: Memperbaiki lingkungan hidup, seperti membersihkan sampah di sungai dan laut yang kemudian nantinya bisa digunakan lagi untuk kebutuhan sehari-hari dan pengembalian ekosistem. 

Ketiga: Maksimalkan kampus-kampus lain di Aceh

Untuk pemerintah sebaiknya memaksimalkan dan mengimplementasikan penemuan-penemuan tepat guna dari mahasiswa-mahasiswa di kampus terdekat yang berkaitan dengan ketahanan (Unsyiah dan kampus-kampus sekitar), menghentikan izin tambang dan pembukaan lahan sawit setidaknya untuk waktu tertentu pemulihan alam.

Keempat: Belajar untuk mencari solusi selain “meminta” ke pusat. Walaupun Aceh berjasa untuk Indonesia di masa lalu dan sering merasa dirugikan, menuntut bukanlah saat yang tepat saat ini. 

Tapi tahan dan berkembang dalam ketidakpastian adalah satu-satunya jalan yang harus kita lewati, setidaknya untuk beberapa tahun ke depan.(*)

*) PENULIS adalah kandidat doktor di bidang Hubungan Internasional di Central China Normal University (CCNU). Saat ini menjabat sebagai Asisten Peneliti di Pusat Penelitian Indonesia-China People to People Exchange (CCNU). Email: sayyidahuswah@gmail.com

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.