Fadli Zon Bakal Naikkan Keraton Kasepuhan ke Level Nasional, Namun Soroti PR Besar
Kemal Setia Permana April 04, 2026 01:11 PM

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON-  Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menyebut Keraton Kasepuhan layak jadi cagar budaya Nasional.

Namun Fadli Zon melihat masih ada pekerjaan rumah yang harus dibereskan.

Hal ini diungkapkan Fadli Zone saat berkunjungke Keraton Kasepuhan Cirebon, Jumat (3/4/2026). 

Dalam kunjungan tersebut, Fadli Zon hadir disambut Sultan Sepuh XV, jajaran pemerintah daerah, hingga tim Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat.

Rombongan Menteri tiba di keraton pada siang hari dan langsung melakukan peninjauan ke sejumlah titik.

Mereka terlihat menyusuri lorong bata merah kuno yang dipenuhi lumut, menegaskan kuatnya nuansa historis di kawasan tersebut.

Rombongan juga sempat berdiskusi di depan ornamen khas keraton serta meninjau area terbuka yang dikelilingi bangunan klasik dan pepohonan rindang.

Kunjungan ditutup dengan sesi foto bersama di depan gerbang megah berornamen khas Cirebon, mempertegas komitmen pelestarian budaya yang kini tengah didorong ke level nasional.

Baca juga: Pangandaran Ramai Lagi Usai Libur lebaran, LLong Weekend Bawa Lonjakan Wisatawan Signifikan

Saat itu ia didampingi Sultan Sepuh XV, bersama Pak Walikota, bersama DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten, dan  tim dari Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat, serta dari Kementerian Kebudayaan.

Ia mengaku terkesan dengan kondisi Keraton Kasepuhan yang masih relatif terawat meski usianya sudah ratusan tahun.

Namun demikian, ia menegaskan masih ada sejumlah hal yang perlu diperbaiki.

“Kami sangat senang sekali melihat Keraton Kasepuhan Cirebon ini relatif dalam kondisi yang terawat. Tentu ada hal-hal yang perlu kita perbaiki, ada revitalisasi, karena ini merupakan keraton yang sangat tua dan merupakan cagar budaya. Kita akan segera tetapkan ini menjadi Cagar Budaya Nasional,” ujar Fadli Zon. 

Menurutnya, keraton yang dibangun sejak tahun 1400-an ini memiliki nilai sejarah tinggi yang tercermin dari perkembangan arsitekturnya lintas zaman.

“Ini merupakan keraton yang dibangun sejak abad ke-15, tahun 1400-an. Kita lihat secara arsitektur bagaimana transformasi terjadi dari abad ke-15, 16, 17, hingga 18 dengan jumlah bangunan yang cukup banyak di area sekitar 25 hektar,” jelas dia.

Fadli Zon juga menyoroti potensi besar museum yang ada di dalam kompleks keraton.

Baca juga: Siap-siap Cek Rekening, Mensos Majukan Jadwal Pencairan Bansos PKH BPNT Bulan April 2026

Ia menilai, koleksi yang dimiliki sudah sangat kaya, namun perlu penguatan dari sisi narasi agar lebih menarik bagi pengunjung.

“Museumnya juga kita lihat punya koleksi yang luar biasa, cukup lengkap, dan banyak. Mungkin tinggal sedikit sentuhan di dalam narasi dan literasinya agar lebih ‘hidup’ dan lebih mendalam,” katanya.

Tak hanya itu, ia juga menekankan pentingnya pembenahan dalam aspek penyajian museum, mulai dari storytelling hingga pencahayaan.

“Kita bisa bantu sentuhan dalam storytelling dan juga tata pamer, terutama juga dengan pencahayaannya (lighting) dan lain-lain. Itu akan menentukan penampilan. Kita harapkan tolok ukurnya seperti Museum Nasional,” ujarnya.

Dalam peninjauan tersebut, Fadli Zon juga melihat langsung bagian keraton yang diyakini sebagai tempat awal tinggal Sunan Gunung Jati, yakni Dalem Keraton Pakungwati.

“Tadi kita juga melihat ada keraton atau pendopo yang dulu pertama kali ditempati oleh Sunan Gunung Jati, yang menjadi Dalem Keraton Pakungwati. Di situ mungkin bisa kita revitalisasi atau kita pugar kembali sesuai dengan lanskap aslinya,” ucap Fadli.

Menurutnya, revitalisasi ini penting untuk memperkuat narasi sejarah Keraton Kasepuhan sebagai salah satu tonggak budaya di Cirebon, Jawa Barat, hingga Indonesia.

Saat ditanya mengenai keraton lain di Cirebon, Fadli Zon menyebut, pihaknya masih melakukan pendataan untuk menentukan prioritas pengembangan.

“Tentu di Cirebon sendiri kan ada beberapa keraton; ada Kasepuhan, Kanoman dan Kacirebonan. Nanti kita akan lihat mana yang sesuai dengan kekuatan kita,” jelas dia.

Ia menambahkan pengembangan museum di keraton lain juga mulai dilakukan, meski masih membutuhkan penyempurnaan.

“Saya kira kemarin kita sudah mulai untuk museum yang di Kanoman. Nah, di sini museumnya bagus, sudah relatif baik, tinggal narasinya. Karena ini terakhir tahun 2017, kita bisa bantu sentuhan dalam storytelling dan juga tata pamer, terutama juga dengan pencahayaannya (lighting) dan lain-lain,” katanya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.