Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ibnu Dwi Tamtomo
TRIBUNSOLO.COM, KLATEN – Tradisi bancakan di Umbul Kemanten, Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo, Klaten, bukan sekadar makan bersama, tetapi ritual doa dan upaya menghidupkan kembali budaya Jawa yang mulai jarang ditemukan.
Bancakan di Umbul Kemanten bukan hanya soal makanan. Ada nilai yang lebih dalam yang ingin dijaga.
Tradisi ini dimulai dengan doa bersama. Semua peserta duduk melingkar, memanjatkan harapan akan keberkahan dan keselamatan.
Setelah itu, makanan baru dibagikan.
“Agendanya doa bersama, minta keberkahan, rasa syukur, serta keselamatan, supaya nanti diberikan kelancaran semuanya,” ujar Alwan Nugroho.
Baca juga: Lokasi SDN 2 Sribit yang Ambruk Terpasang Police Line, Bupati Hamenang Ingatkan Warga Jauhi Lokasi
Ia menyebut, tradisi ini lahir dari rasa syukur atas sumber air yang tak pernah kering di Umbul Kemanten.
“Ini sebagai rasa syukur kita, karena sudah diberikan nikmat air yang luar biasa banyaknya di desa kami,” lanjutnya.
Air di lokasi tersebut dikenal jernih dan melimpah sepanjang musim. Kondisi itu menjadi alasan utama tradisi bancakan terus dijaga.
Lebih dari itu, bancakan juga menjadi upaya menghidupkan kembali budaya Jawa yang mulai ditinggalkan.
“Hal-hal seperti itu sekarang sudah jarang ditemukan di desa-desa. Nah, tradisi itu kita kemas dan kita hidupkan lagi di sini,” katanya.
Tradisi ini baru berjalan sekitar empat tahun, diinisiasi oleh Direktur BUMDes Sinergi Sidowayah, Hartoyo.
Penentuan waktu pelaksanaannya pun tidak sembarangan.
Dipilih Jumat Kliwon berdasarkan perhitungan weton Jawa.
“Kita mencari informasi ke orang tua terlebih dahulu, kemudian ditentukan pada Jumat Kliwon,” jelasnya.
Respons pengunjung pun positif.
“Kalau responsnya antusias karena tradisi bancakan sekarang sudah jarang kita temukan di desa-desa,” ujarnya.
Di lokasi, suasana terasa hangat. Anak muda hingga orang tua duduk bersama, berbagi makanan dari satu baskom besar.
Tak hanya menikmati, sebagian pengunjung juga ikut terlibat dalam proses penyajian.
Bancakan di Umbul Kemanten akhirnya bukan sekadar agenda rutin, melainkan ruang pertemuan antara tradisi, alam, dan kebersamaan. (*)