SERAMBINEWS.COM - Ibu hamil dengan tekanan darah tinggi kerap merasa khawatir soal proses persalinan, terutama apakah masih memungkinkan untuk melahirkan secara normal.
Kondisi darah tinggi menjelang melahirkan memang perlu perhatian khusus karena dapat berdampak pada keselamatan ibu dan bayi jika tidak ditangani dengan tepat.
Dokter sekaligus seksolog dr Boyke Dian Nugraha menjelaskan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menurunkan tekanan darah ibu hamil tersebut.
Penanganan bisa dilakukan melalui pemberian obat-obatan, baik secara infus maupun terapi medis lainnya sesuai kondisi pasien.
“Kalau dengan obat-obatan tekanan darahnya bisa dikontrol, maka peluang untuk melahirkan normal masih ada,” jelas dr Boyke dikutip dari TikTok Klinik Pasutri dr Boyke, Sabtu (4/4/2026).
Namun, jika tekanan darah tetap tinggi meski sudah diberikan penanganan, maka dokter perlu mempertimbangkan alternatif lain demi keselamatan ibu dan janin. Salah satunya adalah tindakan persalinan melalui operasi caesar atau induksi, tergantung kondisi medis yang menyertai.
Baca juga: Sering Keputihan? Waspada, Bisa Bikin Siklus Haid Berantakan! Ini Kata dr Boyke
Selain itu, dokter juga akan melihat kapan tekanan darah tinggi tersebut muncul. Jika terjadi pada usia kehamilan yang belum cukup bulan (preterm), maka prioritas utama adalah mematangkan organ janin, terutama paru-paru, sebelum dilakukan tindakan persalinan.
“Kalau masih preterm, kita upayakan dulu pematangan paru-paru bayi, baru diputuskan apakah akan dilakukan operasi caesar atau induksi,” tambahnya.
Dengan demikian, ibu hamil dengan tekanan darah tinggi masih memiliki kemungkinan melahirkan normal, selama tekanan darah dapat dikendalikan dan kondisi ibu serta bayi memungkinkan.
Oleh karena itu, pemeriksaan rutin dan penanganan medis yang tepat sangat penting untuk memastikan proses persalinan berjalan aman.
Ibu Hamil Dilarang Minum Kopi? Ini Penjelasan dr Boyke soal Dampaknya bagi Janin
Kebiasaan minum kopi di kalangan masyarakat memang sudah sangat umum, termasuk di kalangan perempuan. Namun, bagaimana jika kebiasaan ini dilakukan oleh ibu hamil?
Seksolog ternama dr Boyke Dian Nugraha menyarankan agar ibu hamil sebaiknya menghindari konsumsi kopi atau minuman berkafein selama masa kehamilan.
Baca juga: Waspada! Ini Alasan Pedofilia Sangat Berbahaya bagi Anak, dr Boyke: Trauma Bisa Seumur Hidup
Hal tersebut disampaikannya dalam sebuah video yang diunggah melalui akun TikTok TikTok @klinikpasutridrboyke, dikutip Senin (30/3/2026).
Menurut dr Boyke, ada beberapa alasan penting mengapa kopi tidak dianjurkan bagi ibu hamil. Salah satunya karena kandungan kafein dalam kopi dapat meningkatkan tekanan darah.
“Pertama, kopi itu bisa meningkatkan tekanan darah,” ujarnya.
Selain itu, konsumsi kopi juga berisiko menyebabkan gangguan pada lambung, seperti rasa perih atau nyeri. Kondisi ini dinilai dapat berdampak lebih lanjut pada kehamilan.
“Yang kedua, kopi itu juga bisa mengakibatkan nyeri pada lambung,” jelasnya.
Ia menambahkan, nyeri pada lambung bisa memicu efek lain karena letak persarafan yang berdekatan. Hal ini berpotensi menimbulkan kontraksi pada rahim, yang tentu perlu dihindari oleh ibu hamil.
Baca juga: Sering Begadang saat Puasa? Ikuti Cara Atur Tidur 7 Jam ala Dr Boyke
“Kadang-kadang lambung itu perih, dan karena persarafannya dekat, itu bisa timbul kontraksi juga pada rahim,” lanjutnya.
Sebagai alternatif, dr Boyke menyarankan ibu hamil untuk lebih memilih minuman yang bermanfaat bagi pertumbuhan janin, seperti susu.
Menurutnya, susu mengandung protein yang dibutuhkan oleh janin untuk tumbuh dan berkembang dengan baik selama dalam kandungan.
“Kita mengharapkan kalau mau ya minum susunya, kopinya enggak usah,” pungkasnya.
Dengan demikian, ibu hamil diimbau untuk lebih berhati-hati dalam memilih asupan harian, demi menjaga kesehatan diri sendiri maupun janin yang dikandung.
(Serambinews.com/Firdha)