Banjir Demak Meluas, 2.839 Warga Mengungsi, Tanggul Jebol dan Jalan Lumpuh
Dhita Mutiasari April 04, 2026 03:25 PM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Ribuan warga terpaksa mengungsi akibat bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP) melaporkan sebanyak 2.839 jiwa mengungsi di sejumlah titik akibat banjir yang dipicu tingginya intensitas hujan serta meluapnya Sungai Tuntang, Sabtu 4 April 2026 pukul 09.00 WIB, 

Banjir juga diperparah oleh jebolnya sejumlah tanggul di wilayah terdampak, sehingga menyebabkan genangan air cukup tinggi di beberapa desa.

Berdasarkan data sementara, para pengungsi tersebar di sejumlah lokasi, di antaranya Masjid Babu Rohim Dukuh Solondoko sebanyak 200 jiwa, Masjid Rodhotul Janah Dukuh Solowere 500 jiwa, Kantor Kecamatan Guntur 119 jiwa, serta Tanggul Gobang sebanyak 400 jiwa.

Selain itu, pengungsi juga berada di balai desa, mushala, madrasah, hingga rumah warga yang masih dalam proses pendataan.

• Banjir Terjang 10 Desa di Donggala, Ratusan Rumah Warga Terendam

Sebagian pengungsi dilaporkan mengalami sakit dan telah mendapatkan penanganan dari dinas kesehatan setempat.

8 desa di 4 kecamatan Terendam Banjir
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan banjir berdampak pada delapan desa di empat kecamatan, yakni Kecamatan Guntur, Karangtengah, Wonosalam, dan Kebonagung.

“Tanggul jebol terjadi di Kecamatan Guntur, tepatnya di Desa Trimulyo pada dua titik di Dukuh Solondoko sepanjang kurang lebih 30 meter dan Dukuh Solowere sekitar 10 meter, serta di Desa Sidoharjo sepanjang kurang lebih 15 meter,” ujar Abdul Muhari dalam keterangannya, Sabtu.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut menyebabkan genangan air cukup tinggi, terutama di Desa Trimulyo dan Desa Ploso, dengan ketinggian mencapai 100 hingga 150 sentimeter.

Akibatnya, akses jalan di Desa Trimulyo tidak dapat dilalui kendaraan kecil.

Selain itu, limpasan air juga terjadi di sejumlah wilayah lain seperti Desa Turitempel dan Desa Sumberejo di Kecamatan Guntur, serta Desa Solowire dan Desa Sarimulyo di Kecamatan Kebonagung.

Derasnya air menerjang permukiman yang berada di dekat tanggul yang jebol.

Empat rumah warga roboh hingga rata dengan tanah dihantam kuatnya arus banjir.

Selain merusak rumah, banjir juga melumpuhkan akses desa dan merendam ratusan rumah warga serta area persawahan.

Warga yang terdampak dievakuasi dan mengungsi ke balai desa setempat maupun ke rumah kerabat yang lebih aman.

Warga Belum Terima Bantuan

Menurut pantauan di Dukuh Solondoko, Sabtu pukul 10.30 WIB, banjir di kawasan pemukiman tersebut masih setinggi pinggang orang dewasa.

Mayoritas warga bertahan di akses jalan kampung dan rumah yang masih aman dari banjir.

Sementara akses utama menuju kawasan tersebut lumpuh. Hanya kendaraan mobil tinggi yang bisa menjangkaunya.

Sejumlah aparat TNI dan warga tengah sibuk membersihkan puing-puing yang dibawa banjir untuk membuka akses jalan kampung yang sempat tertutup.

Salah satu warga Dukuh Solondoko RT/RW 1/5, Zikin (38), mengatakan, sejak banjir terjadi ia mengaku belum menerima bantuan apapun.

Sejauh ini ia mengandalkan makanan seadanya untuk mengisi perut.

"Logistik dari luar belum ada yang masuk, untuk makan, kita makan seadanya," ujar Zikin, ditemui di lokasi.

Menurutnya terdapat 40 warga yang bertahan di lingkungan RT-nya dan membutuhkan bantuan makanan dan logistik

"Dari balita ya pampers, obat-obatan, tolak angin, makanan sarimi, kalau ada," kata Zikin.

Hal serupa juga diungkapkan, Samsul Hidayat (38), warga setempat yang kini membutuhkan bantuan. Sejauh ini warga mengonsumsi sisa makanan kemarin yang masih bisa terselamatkan.

"Kebutuhan makan sisa stok kemarin, beberapa sisa makanan yang bisa diselamatkan, beras-beras itu, kan masaknya masih ada elpiji," kata Samsul.

Jika tidak ada bantuan masuk, warga diperkirakan masih bertahan hingga dua hari ke depan.

"Mungkin bertahannya ya antara dua atau tiga hari paling maksimal," ujarnya.

Dia menambahkan, saat ini warga membutuhkan bantuan makanan dan pakaian untuk tetap bertahan. 
"Yang dibutuhkan warga air mineral, pakaian habis semua, sama makanan, itu yang paling utama," tutup Samsul.

Informasi yang dihimpun dari warga lain, bantuan makanan berupa nasi bungkus sudah masuk di wilayah Dukuh Solondoko dan akan didistribusikan.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.