'Anak Istri Saya Masukan ke Dalam Lemari' OKU Timur Dihantam Angin Kencang, Atap Rumah Beterbangan
Yandi Triansyah April 04, 2026 06:27 PM

SRIPOKU.COM, MARTAPURA - Wilayah Kecamatan Martapura, Bunga Mayang, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKUT), Sumatera Selatan (Sumsel), dihantam angin kencang disertai hujan deras, Jumat (3/4/2026) malam. 

Sukron salah seorang warga di Kelurahan Paku Sungkunyit terpaksa mengamankan anak istrinya ke dalam lemari. 

Sebab angin yang menghantam merusak atap rumah hingga berterbangan. 

“Anginnya sangat kuat, genteng sampai terangkat. Kami tidak berani keluar, bahkan istri dan anak saya saya masukkan ke dalam lemari untuk berlindung. Air hujan juga masuk ke dalam rumah hingga menggenangi," kata Sukron, Sabtu (4/4/2026). 

Baca juga: Kami tak Berani Keluar, Puting Beliung Hancurkan Rumah Warga di Martapura & Bunga Mayang OKU Timur

Kronologi Kejadian

Sukron menceritakan hujan mulai turun sekira pukul 19.20 WIB dari intensitas ringan hingga lebat. 

Menurut dia, tak lama berselang petir beberapa kali menggelegar dan kemudian datang angin kencang. 

"Suara gemuruh keras seperti seng beradu, lampu langsung mati," kata dia. 

Sukron mengatakan, kondisi semakin mencekam saat angin kencang diduga puting beliung menghantam kawasan tersebut. Suara benturan keras terdengar dari luar rumah, sementara genteng dan atap beterbangan.

Sekitar pukul 20.30 WIB, hujan mulai mereda. Sukron kemudian keluar rumah dan mendapati sejumlah seng berhamburan di depan teras. Bahkan, sebuah kanopi berukuran sekitar 4x4 meter tersangkut di atap rumahnya.

Saat kondisi benar-benar reda sekitar pukul 23.00 WIB, ia melihat kerusakan lebih luas di sekitar lingkungan. Material bangunan seperti seng dan besi berserakan di jalan, serta beberapa kabel listrik terlihat putus.

“Jalanan penuh seng dan puing. Ada juga kabel listrik yang putus, sangat berbahaya,” ungkapnya.

Kerusakan juga terjadi di tempat usahanya. Sekitar pukul 00.00 WIB, setelah listrik kembali menyala, Sukron memeriksa bangunan miliknya dan mendapati atap sudah rusak parah.

“Atap usaha saya bolong dan hancur, asbes dan spandeknya rusak kena terjangan angin dan hujan,” tambahnya.

Warga lainnya, Rudi, yang tinggal tidak jauh dari lokasi, juga merasakan kepanikan serupa. Ia mengaku suara angin terdengar seperti pusaran besar yang mendekat.

“Suara anginnya seperti berputar dan mendekat cepat. Tiba-tiba atap dapur saya terangkat dan jatuh ke halaman. Kami langsung berkumpul di satu ruangan untuk berlindung,” ujarnya.

Rudi menambahkan, peristiwa tersebut berlangsung cukup cepat namun meninggalkan dampak signifikan. Ia berharap adanya bantuan untuk perbaikan rumah warga yang terdampak.

Sementara itu, Siti, warga lainnya, mengatakan bahwa dirinya sempat panik saat listrik padam dan suara dentuman terdengar berulang kali.

“Lampu mati, gelap total, suara keras dari luar seperti benda jatuh bertubi-tubi. Saya hanya bisa memeluk anak-anak sambil berdoa,” katanya.

Setelah kondisi aman, Siti mendapati sebagian atap rumahnya mengalami kerusakan dan air hujan masuk hingga membasahi seluruh isi rumah.

Hingga saat ini, warga masih melakukan pembersihan puing-puing dan memperbaiki bagian rumah yang rusak. Peristiwa ini menjadi pengingat akan potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi secara tiba-tiba, terutama di masa peralihan musim.

Dari pantauan warga, selain kerusakan rumah dan bangunan, jaringan listrik di sejumlah titik juga sempat padam akibat kabel yang putus. Hingga tengah malam, kondisi mulai berangsur normal meski sebagian wilayah masih dalam tahap pembersihan.

Peristiwa ini menjadi pengingat bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem, terutama saat memasuki musim hujan yang disertai potensi angin kencang dan petir.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.