RD Toni Kobes Sebut Salib Bukanlah Akhir Melainkan Jalan Menuju Kebangkitan
Edi Hayong April 04, 2026 11:19 PM

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Eklesia Mei

POS-KUPANG.COM, KUPANG— Misa Hari Jumat Agung di Gereja Paroki Santo Fransiskus Asisi BTN Kolhua, Kota Kupang berlangsung khidmat, Jumat (3/4/2026).

Pantauan POS-KUPANG. COM, suasana di Gereja Santo Fransiskus Asisi BTN Kolhua tampak ramai.

Terlihat umat memadati area di dalam Gereja dan ada pula yang duduk di tenda luar gereja yang disediakan oleh panitia.

Baca juga: Polsek Kota Lama Jaga Ketat Ibadah Jumat Agung di 22 Gereja

Para umat pun mengikuti misa Jumat Agung dengan penuh kekhusyukan. 

Dalam suasana hening dan penuh permenungan pada perayaan Jumat Agung, RD. Toni Kobes mengajak umat untuk berhenti sejenak dan merenungkan makna terdalam dari pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib.

Menurut RD. Toni Kobes, Jumat Agung bukanlah momen perayaan meriah, melainkan waktu untuk masuk dalam keheningan iman. 

“Gereja mengajak kita berhenti sejenak. Hening di bawah kaki salib. Tidak ada perayaan sakramen, tidak ada kemegahan. Yang ada hanya salib dan kasih yang total,” ungkapnya.

Baca juga: Salib Tanda Kemenangan, Ratusan Umat Ikuti Ibadat Jumat Agung di Gereja St. Kristoforus Baa

RD Toni Kobes menegaskan bahwa Yesus tidak disalibkan karena kelemahan, melainkan karena pilihan kasih yang radikal kepada manusia. 

“Yesus memilih tetap tinggal di salib karena Ia mengasihi manusia sampai batas terakhir. Di situlah kita melihat paradoks iman—ketika dunia melihat kegelapan, Allah justru menghadirkan keselamatan,” jelasnya.

Lebih lanjut, RD. Toni Kobes mengajak umat untuk merefleksikan salib dalam kehidupan sehari-hari. 

“Dalam hidup kita ada salib—kekecewaan, luka, pengkhianatan, bahkan kegelapan. Namun Jumat Agung mengingatkan bahwa Allah hadir justru di tengah penderitaan itu,” katanya.

Baca juga: Pimpin Ibadah Jumat Agung di Katedral Atambua, Uskup Mgr. Dominikus : Keselamatan Lahir dari Kasih

RD. Toni Kobes menekankan bahwa salib bukanlah akhir, melainkan jalan menuju kebangkitan.

Karena itu, umat diajak datang dengan hati hening dan penuh iman, seraya berdoa: “Tuhan Yesus, ajarlah aku mencintai seperti Engkau mencintai. Ketika hidup terasa berat, mampukanlah aku untuk tetap percaya bahwa kasih-Mu tidak pernah meninggalkan.”

Menutup refleksinya, RD. Toni Kobes menegaskan satu pesan utama dari peristiwa salib yaitu manusia dicintai tanpa batas. 

“Dari kayu salib kita belajar satu hal yang pasti—kita dicintai tanpa syarat. Bahkan dalam kegagalan manusia, Allah tetap berkarya untuk menyelamatkan,” pungkasnya. (mey)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.