Indonesia di Tengah Eskalasi Konflik Lebanon: Antara Komitmen Perdamaian dan Perlindungan Nasional
AbdiTumanggor April 04, 2026 11:54 PM

TRIBUN-MEDAN.COM - Eskalasi konflik antara militer Israel dan Hizbullah di Lebanon sejak awal Maret 2026 telah menimbulkan dampak serius bagi misi penjaga perdamaian PBB (UNIFIL), termasuk bagi kontingen Garuda TNI.

Serangan militer AS–Israel ke Iran pada akhir Februari 2026 menjadi pemicu utama meningkatnya ketegangan di kawasan.

Situasi ini menempatkan Indonesia pada posisi sulit, yaitu tetap berkomitmen pada politik luar negeri bebas aktif, namun menghadapi risiko nyata terhadap keselamatan prajuritnya.

Agung Nurwijoyo, pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia, menilai bahwa pemerintah Indonesia perlu mempertimbangkan penangguhan partisipasi dalam Board of Peace (BoP) yang dibentuk Presiden AS Donald Trump.

Menurutnya, langkah ini bukan bentuk penarikan diri dari komitmen perdamaian dunia, melainkan strategi diplomasi tegas namun konstruktif.

Agung menekankan:

  • Penangguhan adalah opsi rasional dan terukur.
  • Tidak ada jaminan komitmen nyata dari Israel terhadap de-eskalasi.
  • Keselamatan prajurit Indonesia harus menjadi prioritas utama.
  • Tekanan diplomatik ini dapat menjadi sinyal agar ada perbaikan konkret dalam perlindungan pasukan dan penghormatan terhadap hukum humaniter internasional.
  • Dengan demikian, Indonesia tetap konsisten dalam politik luar negeri bebas aktif, tetapi tidak mengorbankan kepentingan nasional maupun keselamatan personel.

Langkah penangguhan partisipasi Indonesia dalam BoP ialah sebagai:

  • Tekanan politik sah untuk menuntut perlindungan pasukan.
  • Sinyal diplomatik agar pihak terkait menghormati hukum humaniter internasional.
  • Strategi menjaga kredibilitas Indonesia sebagai negara yang konsisten mendorong perdamaian dunia, tetapi tetap melindungi kepentingan nasional.

Korban di Lapangan

Sejak akhir Maret 2026, 11 prajurit TNI menjadi korban dalam serangkaian insiden di Lebanon:

29 Maret 2026: Ledakan proyektil artileri di Adchit Al Qusayr menewaskan Praka Farizal Rhomadhon dan melukai tiga prajurit lainnya.

30 Maret 2026: Ledakan kendaraan di Lebanon Selatan menewaskan Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Serka Muhammad Nur Ichwan, serta melukai dua prajurit.

3 April 2026: Ledakan di fasilitas PBB dekat El Adeisse melukai tiga prajurit TNI, dua di antaranya luka parah. Jenazah prajurit yang gugur telah dipulangkan ke Indonesia, sementara yang terluka masih menjalani perawatan di Beirut.

Respons Militer

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak menegaskan bahwa prajurit TNI yang bertugas di UNIFIL adalah pasukan terlatih yang memahami risiko misi perdamaian.

Ia meminta keluarga prajurit untuk tetap tenang dan mendoakan keselamatan mereka. 

Namun, Maruli juga mengakui bahwa setiap penugasan dalam misi perdamaian dunia tidak lepas dari risiko, terutama di tengah eskalasi konflik yang semakin memanas.

(*/Tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.